Peres, Pendeta, dan Penyair

Bercita-cita menjadi pendeta atau penyairketika kecil.

Bagi kebanyakan orang, 87 tahun adalah usia sangat lanjut. Biasanya, si empu umur sudah lemah secara fisik dan mental. Namun itu tidak berlaku bagi Presiden Israel Shimon Peres yang menjabat sejak tiga tahun lalu.

Ia dikenal sebagai orang gila kerja. Rata-rata 18 jam saban hari ia gunakan untuk berpikir apa yang terbaik bagi rakyat Israel dan perdamaian dengan Palestina. Selama tiga tahun terakhir, ia menerima ribuan surat yang kebanyakan ia baca.

Lelaki kelahiran Visnieva, Polandia, ini juga sering pergi ke bioskop dan menonton konser musik. Ia juga gemar membaca dan selalu mengikuti perkembangan berita. Di sela-sela kesibukannya, ia sering menulis puisi yang nenjadi hobinya.

Simaklah ucapan dalam pidatonya setelah dilantik oleh Knesset (parlemen Israel) pada 15 Juli 2007. “Saya tidak bermimpi menjadi presiden. Impian masa kecil saya menjadi pendeta atau penyair.”

Peres memang lahir dari keluarga religius. Kakeknya adalah Rabbi Zvi Meltzer yang mengajarkan ia Talmud saban hari. Namun orang tuanya, Yitzhak dan Sara, bukan Yahudi ortodoks. Peres yang mengaku seorang Haredi pernah menegur mereka karena mendengarkan radio di hari Sabbath.

Selama itu pula, perdana menteri kedelapan Israel yang terpilih dua kali ini menggelar 700 pertemuan dengan kepala negara, perdana menteri, utusan khusus, ketua parlemen, dan pemimpin organisasi internasional. Ia telah memeberikan 600 wawancara di luar yang dadakan atau secara spontan.

Walau dua cita-ciata masa kecilnya itu tidak tercapai, Peres tidak mau menyesal. Ayah tiga anak ini mengaku tiga tahun terakhir sebagai presiden merupakan saat-saat paling bahagia dalam hidupnya.

Seperti pendeta dan penyair, ia mendambakan dunia yang damai dan penuh cinta antar sesama. Atas prinsip damai yang melandasi perilaku politiknya, ia memperoleh Nobel Perdamaian pada 1993.

Masih ada empat tahun sisa masa jabatan. Ia berharap di saat pensiun ada pusat kebugaran pikiran. “Ketika itu terwujud, saya akan jadi orang pertama yang nendaftar,” ujar politikus dari Partai kadima ini.

Jerusalem Post/Yediot Ahronot/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s