Berselancar di Atas Ombak Gaza

Seorang kakek keturunan Yahudi berjasa membudayakan selancar di Gaza.

Beginilah salah satu cara warga Jalur Gaza menikmati hidup di tengah penderitaan akibat blokade Israel. Anak-anak muda di sana berselancar meski patroli angkatan laut negara Zionis itu terus mengawasi dari kejauhan.

Terdapat hanya satu klub selancar beranggotakan 40 orang. Markas the Gaza Surf Club itu jauh dari kenyamanan. Cuma sebuah bangunan bobrok seukuran kamar mandi. Berdiri tidak jauh dari tepi pantai. “Seperti warga negara-negara lain, kami mencintai hidup. Kami suka berolah raga dan berselancar,” kata ketua organisasi itu, Mahfuz Caberetti.

Kebanyakan para peselancar itu berusia kepala dua atau tiga. Kebanyakan dari mereka tidak mempunyai pekerjaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat 40 persen dari warga Gaza adalah pengangguran. Ini disebabkan blokade Israel yang telah mengakibatkan sekitar 900 pabrik di Gaza bangkrut.

Blokade yang diterapkan di darta, laut, dan udara sejak pertengahan Juni 2007 itu juga menimbulkan krisis kemanusiaan. Tujuh pintu perbatasan ditutup, yakni Rafah (Gaza-Mesir), Karim Shalom (Gaza-Israel-Mesir), Sufa (Gaza-Israel), Kissufim (Gaza-Israel), Karni (Gaza-Israel), Nahal Oz (Gaza-Israel), dan Erez (Gaza-Israel) ditutp. Alhasil, pasokan bahan pangan, obat-obatan, air, listrik, bahan bakar, pakaian, dan material lainnya sangat menipis.

Namun untuk berselancar di pantai Gaza harus pilih-pilih tempat dan hari. Sekitar 60 juta liter sampah dan kotoran di buang ke sana saban hari. “Hidup memang sulit di Gaza namun berselancar membuat saya merasa bebas,” ujar Muhammad Abu Jayab, pembuat papan selancar yang bekerja paruh waktu sebagai penjaga pantai.

Anggota klub selancar Gaza berasal dari semua tingkatan. Mulai dari yang baru belanjar berdiri di atas papan hingga yang mampu meliuk-liuk di antara ombak setinggi dua meter.

Orang yang paling berjasa meramaikan selancar di gaza dalah Dorian Paskowtiz. Hingga usianya 89 tahun saat ini, lelaki keturunan Yahudi yang bermukim di California, Amerika Serikat itu masih tetap aktif. Tiga tahun lalu, ia datang menyumbangkan 15 papan selancar baru ke Gaza.

Usahanya itu sempat tertahan di gerbang Erez. Ia sampai harus memohon dan mencium seorang tentara perbatasan sebelum papan selancar berpindah tangan ke warga Gaza yang menunggu 50 meter dari tapal batas. Sampai sekarang semua masih digunakan walau sudah sedikit rusak.

Jika tidak berselancar, anggota klub duduk-duduk di pantai sambil mengisap sisha dan minum teh. Namun jangan harap ada perempuan bertubuh seksi yang dibalut bikini lewat. Semua diharamkan sejak Hamas berkuasa di Gaza.

BBC/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s