Menggunting Nasib Tukang Cukur

Tukang cukur lelaki di Gaza dilarang melayani konsumen perempuan.


Adnan Barakat tampak bingung saat ditemui di Kota Gaza pekan lalu. Ia sedang memikirkan nasib usaha salonnya jika aturan baru Hamas benar-benar diterapkan. Kelompok anti-Israel yang menguasai Jalur Gaza sejak pertengahan Juni 2007 itu berencana melarang tukang cukur pria menggunting rambut wanita.

Ia khawatir bakal menjadi pengangguran yang kerjanya hanya duduk di rumah dan nonton televisi. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat saat ini sekitar 40 persen dari 1,5 juta penduduk di sana tidak mempunyai pekerjaan “Mungkin saya akan pindah ke Somalia atau Afganistan. Tidak ada lagi kehidupan bagi saya di Gaza,” katanya seraya tersenyum masam.

Barakat adalah satu dari lima atau enam tukang cukur lelaki di seantero Gaza. Salonnya sudah beroperasi lebih dari seperempat abad. Bangunannya tidak terlalu besar dengan kaca cermin yang selalu dibalut kain gorden. Kelihatan sedikit lusuh memang. Seperti kebanyakan salon, terdapat cermin besar, alat pengering, dan poster berisi beberapa gaya rambut perempuan Barat di era 1980-an.

Sebagian besar pelanggannya orang asing dan warga Kristen yang jumlahnya kira-kira 3.000. Beberapa di antaranya wanita muslim liberal. Saban hari, ia kedatangan tiga atau empat konsumen.

Sejatinya, beleid baru Hamas itu sejalan dengan tradisi yang berlaku di Gaza. Masyarakat di daerah ini memang lebih konservatif dan religius ketimbang penduduk di Tepi Barat, yang didominasi Fatah. Naveen, 20-an tahun membantah larangan itu karena Hamas. “Ini mengenai Islam dan tradisi kami. Pria tidak boleh mencukur rambut wanita. Itu normal di sini,” ujar gadis berjilbab warna cerah yang mengenakan kaus oblong dan celana jins ini.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Hamas Ihab al-Hussein menegaskan isu itu tidak perlu dibesar-besarkan. “Ini bukan masalah besar, ini sebuah tradisi,” katanya.

Hamas memang telah menerapkan sejumlah syariat Islam di Gaza. Mereka mewajibkan pengacara perempuan berjilbab di ruang sidang dan mengharuskan pelajar perempuan berbusana Islami. Bahkan, kaum lelaki dilarang memakai celana di atas lutut saat bermain di pantai.

Jauh sebelum ini, salon milik Hatim al-Ghoul diserang dua kali, pada 2007 dan 2008. Namun ia mengaku tidak tahu siapa pelakunya. “Mereka datang di tengah malam dan meledakan salon saya dengan bom berukuran kecil,” ujarnya.

Kasihan benar para tukang cukur pria ini. Biasanya mereka menggunting rambut orang, namun kini pekerjaan mereka terancam dipotong.

BBC/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s