Ongkos Mahal Menjadi Yahudi Sekuler

Para Haredim pembangkang dibenci keluarga mereka.


Tujuh tahun lalu, Ido Lev, 30 tahun, seperti manusia gua yang baru pertama ke kota. Ia sama sekali tidak mengenal peradaban moderen, seperti bagaiaman membuka rekening di bank, berselancar di dunia maya, atau menyewa apartemen.

Ia meninggalkan istri dan dua anaknya dan sempat menggelandang selama sepekan. Mandi di toilet umum dan tidur di sebuah pusat perbelanjaan. Semua itu demi kebebasan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. “Saya merasa seperti orang mabuk akibat kebebasan itu,” kata Lev.

Lev tadinya merupakan anggota komunitas Haredim, sebuah kelompok masyarakat Yahudi ultra-ortodoks yang menjadikan Torah sebagai pegangan hidup. Jumlah mereka sekitar sepuluh persen dari total 7,8 juta penduduk Israel.

Dalam masyarakat Haredim, semua yang berbau sekuler dilarang, termasuk radio dan televisi. Mereka saling bertukar kabar melalui poster yang ditempel di tembok jalanan. Lelaki dan perempuan yang bukan muhrim dilarang berduaan, apalagi berpacaran.

Pernikahan pun diatur dengan sistem perjodohan. Gambar perempuan dilarang tampil di muka umum dan saban hari Sabbath, tidak boleh ada yang mengendarai kendaraan.

Rupanya, Lev muak dengan kehidupan macam itu. Ia memilih keluar dan menjadi seorang Yahudi sekuler. Ia kini tidak lagi mengenakan seten jas panjang dan celana serta topi serba hitam. Mahasiswa teknik informatika ini tampil modis, bercelana jins dan kaus oblong.

Namun harga kebebasan yang ia raih sangat mahal. Ia ditolak menemui kedua anaknya selama lima tahun terakhir. Istrinya khawatir Lev akan membujuk mereka keluar dari komunitas Haredim. “Anak-anak, itulah ongkos paling mahal,” ujarnya dengan mata menerawang.

Nasib serupa juga dialami Chani Ovadya, perempuan lajang berusia 28 tahun. Orang tuanya tidak mau lagi berbicara atau bertemu sejak ia meningglakan kehidupan religius tahun lalu. “Itu tahun tersulit dalam hidup saya,” kata gadis yang sekarang lebih nyaman tampil dengan celana jins dan kaus ketat dengan sepatu berhak tinggi ini.

Fenomene Haredim pembangkang ini sudah berlangsung beberapa dekade. Seperti dikatakan Irit Paneth dari Hillel, sejak sepuluh tahun terakhir pihaknya telah membantu sekitar 2.000 Yahudi ortodoks yang ingin memasuki dunia sekuler.

Tugas organisasi itu membantu menjalankan praktek hidup dan kesiapan mental. Maklum saja, Haredim murtad itu akan menghadapi penolakan dari keluarga dan komunitas mereka. “Selama bertahun-tahun mereka seperti hidup di antara dua dunia. Mereka seperti mahluk asing,” kata Paneth.

Meski risiko yang dihadapi sungguh berat, Lev tidak menyesal menjadi Yahudi sekuler. Bahkan, ia telah mempunyai pacar dan Haredim kenangan belaka. “Jika Anda tidak punya keyakinan, (tinggal di komunitas Haredim) seperti dalam penjara,” ujarnya.

BBC/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s