Sharon, Hidup Segan Mati Tak Mau

Ia diperkirakan bakal koma seumur hidup.

Tak terasa kemarin menandai empat tahun mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon dalam kondisi koma. Keadaan itu sudah dialami sejak ia diterjang stroke berat tiga bulan menjelang pemilihan umum Maret 2006.

Lelaki kini berusia 81 tahun ini terjerembab saat sedang dalam puncak kesohoran. Ia tergolek lemah tanpa sadar setelah menjalani beberapa kali operasi besar untuk menyembuhkan pendarahan di otaknya. Ia sekarang dirawat di the Sheba Medical Center di Tel Hashomer, sebelah timur Ibu Kota Tel Aviv.

Ruang perawatan Sharon terletak di lantai dua, di sebelah kanan ruang perawat. Seorang penjaga selalu duduk di depan pintu kamar di mana dia terbaring. Awalnya, tiap penjenguk harus memakai masker medis, sarung tangan, dan pakaian steril. Seiring dengan perkembangan, semua itu tidak diperlukan lagi jika ingin menengok Sharon.

Ada kalanya ia tidur dan jika bangun matanya terbuka. Bila Sharon terjaga, perawat atau tamu datang biasa menyalakan televisi yang menyiarkan National Geographic atau siaran berita. Mereka juga kerap memperdengarkan musik klasik buat Sharon.

Hanya orang-orang terdekat boleh menemui Sharon. Dua putranya selalu datang saban hari dan menghabiskan waktu beberapa jam di sana. Selain itu, ada pula Chaim Erez (sahabat), Marit Danon (sekretaris pribadi), Dov Weisglass (penasihat politik), Dr Shlomo Segev (dokter pribadi).

Kepada kantor berita Associated Press, bekas penasihat dan teman dekatnya, Dov Weisglass, mengungkapkan saban malam ia harus dipasangkan masker oksigen. Namun tanda-tanda vitalnya berfungsi baik. Kadang kedua matanya juga bergerak tanpa terkontrol.

Namun para ahli kesehatan di negara Zionis itu meragukan Sharon bisa kembali pulih kesadarannya. Seperti Weisglass, bekas penasihat Sharon lainnya, Raanan Gissin, juga sering menjenguk. Ia sangat berharap bekas atasannya itu bisa sembuh. “Ada beberapa kasus menunjukkan pasien sadar dari koma jangka panjang,” kata Gissin.

Sejatinya, Sharon bisa berkuasa kembali untuk kedua kalinya empat tahun lalu. Popularitasnya menanjak setelah pandangannya berubah dari berhaluan keras menjadi moderat. Ia keluar dari Partai Likud dan mendirikan Partai Kadima dengan menggandeng sejumlah tokoh dari partai lamanya, termasuk Ehud Olmert yang akhirnya memenangkan pemilihan umum itu dan Tzipi Livni yang sekarang memimpin Kadima menggantikan Olmert.

Perubahan sikap politiknya sama mengejutkan dengan kebijakan ia ambil. Pada Agustus 2005, Sharon menarik seluruh pasukannya dan mengusir hampir 10.000 pemukim Yahudi dari Jalur Gaza. Padahal, wilayah itu sudah dikuasai sejak Perang Enam Hari 1967.

Keputusan itu berakibat fatal. Hamas langsung menguasai Gaza dan menggempur wilayah selatan Israel dengan roket hampir tiap hari. Sebuah keadaan yang akhirnya dijadikan alasan oleh rezim Olmert membombardir Gaza selama 22 hari sejak 27 Desember 2008.

Bagi sebagian kalangan muslim, koma diderita Sharon merupakan azab. Paling tidak, ia bertanggung jawab atas pembantaian sekitar 800 pengungsi Palestina di kamp Sabra dan Shatila di Beirut pada Perang Libanon 1982.

Arutz Sheva/Canadian Press/Faisal Assegaf

4 thoughts on “Sharon, Hidup Segan Mati Tak Mau

  1. Pingback: NoorisyamBakhtiar » Blog Archive » MANTAN PM ISRAEL ARIEL SHARON KOMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s