Operasi Orchard, Lakon Mossad

Mossad menggunakan virus untuk menyadap informasi soal reaktor nuklir Suriah.

Jet tempur Israel

Pangkalan Udara Ramat David di selatan kota pelabuhan Haifa, Israel, 5 September 2007. Sepuluh pilot diminta bersiap untuk latihan darurat dengan jet tempur F-15 yang mereka sebut “Raam”, dalam bahasa Ibrani berarti guntur.

Perintah yang keluar beberapa menit menjelang pukul 11 malam itu adalah hal rutin. Lantas kesepuluh F-15 itu terbang ke arah barat menuju Laut Tengah. Tiga pesawat diperintahkan pulang, sedangkan tujuh lainnya lanjut ke timur laut mendekati perbatasan Suriah.

Di sinilah, Operasi Orchard dimulai. Sebuah misi rahasia untuk menghancurkan apa yang diyakini Israel sebagai reaktor nuklir. Ketujuh pesawat pengebom itu terbang rendah menghindari pantauan radar Suriah. Selang 18 menit, mereka tiba di kawasan Deir el-Zor. Setelah mengunci kompleks Al-Kibar sebagai sasaran, sejumlah bom dimuntahkan. Al-Kibar berada di tengah gurun seluas 25.000 kilometer persegi. Letaknya 30 kilometer dari Deir el-Zor dan 130 kilometer dari perbatasan Irak.

Israel sudah lama mencurigai Suriah berupaya mengembangkan kekuatan nuklir. Bagi negara Zionis ini, tidak boleh ada satu negara Arab pun yang merupakan musuh mereka mempunyai senjata pemusnah massal. Tak heran, pada satu malam di bulan Juni 1981 beberapa F-16 Israel mengebom reaktor nuklir Osirak, dekat Ibu Kota Bagdad, Irak.

Kecurigaan Tel Aviv menguat setelah Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) berhasil menyadap informasi seputar Reaktor Al-Kibar pada akhir 2006. Insiden itu berlangsung di Ibu Kota London, Inggris. Mossad menyusup ke kamar seorang pejabat senior Suriah yang menginap di sebuah hotel di kawasan elite Kensington.

Sang pejabat yang sudah lama diawasi berbuat ceroboh. Ia lupa membawa komputer jinjingnya saat meninggalkan kamar hotel. Para agen Mossad lantas menyelusup masuk. Mereka memasang program “Trojan Horse”, jenis virus untuk menyadap semua informasi yang ada di komputer itu.

Informasi yang diperoleh sungguh berharga. Ruang penyimpanan komputer itu berisi rencana pemmbangunan reaktor yang berlangsung sejak 2002, surat-surat, dan ratusan foto. Salah satu foto menunjukkan Chon Chibu, kepala teknisi reaktor Yongbyon, Korea Utara, berdiri di samping Ibrahim Usman, Direktur Komisi Tenaga Atom Suriah.

Ali Reza Asghari, seorang jenderal Iran yang membelot ke Amerika Serikat membenarkan soal reaktor nuklir Suriah. Proyek itu, kata dia, dibantu oleh Iran dan bekerja sama dengan Korea Utara. Lelaki 63 tahun ini meninggalkan Negeri Mullah itu pada Februari 2007 karena merasa jiwanya terancam setelah menuding beberapa orang dekat Presiden Mahmud Ahmadinejad terlibat korupsi.

Tidak seperti pejabat Suriah yang lalai, bagi Ali Reza komputer jinjingnya begitu bernilai. “Saya membawa komputer saya. Seluruh hidup saya ada di sana,” kata mantan komandan Garda Revolusi Iran di Libanon pada 1980-an dan pernah menjabat wakil menteri pertahanan Iran pada 1990-an. Ia seolah hilang setelah berganti identitas.

Mossad juga mendapatkan kabar Muhsin Farizadeh Mahabadi yang diyakini para pengamat sebagai kepala “Proyek 111” untuk membuat senjata nuklir Iran pernah mengunjungi Ibu Kota Damaskus, Suriah, pada 2005. Setahun kemudian, giliran Ahmadinejad yang melawat dan dipercaya menjanjikan bantuan US$ 1 miliar bagi proyek nuklir Suriah.

Pada Agusuts 2007, Mayor Jenderal Yaakov Amidror dengan langkah tergesa masuk ke kediaman resmi Perdana Menteri Israel Ehud Olmert di Gaza Street, Yerusalem. Ia melaporkan soal kebenaran reaktor Al-Kibar. Lelaki religius ini adalah satu dari tiga pejabat senior yang lima bulan sebelumnya diundang Olmert membahas program senjata pemusnah massal Suriah.

Seetlah misi pengambilan contoh tanah di Deir el-Zor awal September, Olmert makin percaya. Operasi Orchard pun tinggal menghitung waktu. Ia sempat memberitahu Stephen Hadley yang kemudian menjabat penasihat keamanan nasional Amerika. Maklum target operasi hanya lusinan kilometer dari markas militer Turki yang merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Operasi itu pun selesai pada dinihari 6 September 2007.

Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di gurun nan sunyi itu. Sejumlah warga Deir el-Zor mengaku menyaksikan kilat. Beberapa orang mengatakan melihat asap raksasa membubung di atas Sungai Eufrat. Penampakkan pada dinihari itu menjadi obrolan di pelbagai warung kopi yang berjejer di tepian sungai.

Israel dan Suriah pun berupaya menyembunyikan peristiwa itu. Perdana Menteri Israel Ehud Olmert langsung menelepon Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia menjelaskan soal serangan terhadap reaktor Al-Kibar dan meminta Erdogan memberitahu Presiden Suriah Basyar Assad bahwa Israel tidak akan membiarkan negara itu membangun pembangkit nuklir.

Olmert menegaskan pihaknya tidak akan membesar-besarkan insiden itu jika Assad berbuat sama. “Insiden ini tidak pernah terjadi,” kata seorang juru bicara militer Israel yang tidak disebutkan identitasnya seperti dikutip radio pemerintah.

Assad mengatakan apa yang dihancurkan jet-jet tempur Israel hanya markas militer biasa. “Kami bisa saja menyerang balik. Namun haruskah kami tersulut untuk berperang? Lantas kami masuk perangkap Israel?” ujarnya dalam wawancara khusus dengan Der Spiegel pertengahan Januari lalu.

Der Spiegel/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s