Pil Iblis Serbu Gaza

Warga Gaza kecanduan tablet penghilang rasa sakit.

Warga Gaza berekreasi ke pantai untuk melupakan penderitaan.

Selama enam pekan Abu Ahmad seperti hidup di dunia lain. Bukan di daerah tempat tinggalnya, sebuah distrik di Jalur Gaza yang pernah diserbu Israel Januari lalu. Satu wilayah yang pernah dihujani bom fosfor putih yang bisa melelehkan kulit hingga tulang.

Dengan Tramadol, lelaki 45 tahun ini dapat melupakan ia seorang pengangguran yang kerjanya hanya duduk sambil minum teh atau kopi. Ia juga khilaf terhadap istri dan sepuluh anaknya yang hidup dengan bantuan kemanusiaan. “Ketika saya menenggaknya, saya merasa sangat nyaman,” kata mantan sopir ini Selasa lalu.

Tramadol adalah jenis pil pembunuh rasa sakit dengan akibat seperti narkotik. Dengan satu tablet berdosis 200 miligram, pemakainya dapat tidur seharian. Bahkan seorang pengguna mengaku tubuhnya seperti dibungkus selimut tapi menggigil.

Abu Ahmad mengenal pil iblis itu melalui seorang temannya. Dari sekadar untuk menghilangkan depresi dan pusing memikirkan kesulitan hidup, perlahan namun pasti ia menjadi pecandu. Mulanya cuma satu tablet sehari, lantas tiga atau empat dan puncaknya bisa menghabiskan delapan Tramadol  berdosis 800 miligram. Padahal pabrik obat memperingatkan maksimal penggunaan Tramadol tidak boleh lebih dari 300 miligram per hari.

Ia mengaku sulit melepaskan diri dari Tramadol. Cuma itu yang membuat sakit kepala dan sekujur tubuhnya hilang. Ia bahkan harus ke kamar mandi saban sepuluh menit dengan tubuh berkeringat. Berat tubuhnya merosot menjadi 58 kilogram dari sebelumnya 85 kilo. “Anda minum satu pil dan tentu akan merasa lebih baik,” ujarnya.

Harga satu strip berisi sepuluh tablet Tramadol sekitar 3,40 pound. Barang haram yang masuk melalui perbatasan Rafah ini mudah diperoleh di toko-toko obat. Bahkan banyak dijual di jalan-jalan. Beberapa di antara mereka memakai pil ini untuk meningkatkan kemampaun seks.

Menurut Hasan Shaban Ziyada, ahli kejiwaan dari Program Kesehatan Mental Masyarakat Gaza (GCMHP), banyaknya pecandu Tramadol lantaran situasi sulit akibat blokade Israel, perpecahan Hamas dan Fatah, serta perang Januari lalu.

Isolasi yang berlangsung sejak Hamas menguasai Gaza pertengahan Juni 2007 membuat pasokan bahan makanan, obat-obatan, air, listrik, bahan bakar, dan barang lainnya kian menipis. Sebanyak 45 persen dari sekitar 1,5 juta penduduk tanpa kerjaan.

Generasi muda juga menjadi sasaran empuk Tramadol, seperti pengalaman Muhammad, mahasiswa berusia 21 tahun. Ia menjadi pelanggan tetap setelah gagal dalam ujian SMA tiga tahun lalu. Ia bisa minum dosis 1.000 miligram tiap hari. Kerjanya hanya main komputer semalaman dan tidur seharian. “Kamu berada di dunia lain. Bahkan ketika orang lain mengomel, kamu tidak marah,” katanya. Karena kebiasaan buruk itu, ia diusir dari rumah keluarganya di utara Gaza.

Meski sudah membaik, situasi sulit yang masih berlangsung di Gaza bisa membuat Abu Ahmad kembali ketagihan pil setan itu.” Jika kamu punya anak tapi tidak memiliki pekerjaan untuk memberikan apa yang mereka perlukan, kami tidak bisa tidur,” katanya.

Independent/NZ Herald/Faisal Assegaf

One thought on “Pil Iblis Serbu Gaza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s