Pengantin dari Terowongan Gaza

Meninggalkan ibu dan pekerjaan demi suami.

Muhammad Warda dan istrinya May (Der Spiegel)

Setelah cemas menunggu sekitar sejam, Rabu pekan lalu, Muhammad Warda pun bertemu calon istrinya di Kota Rafah, Jalur Gaza. May, 23 tahun, muncul dari dalam terorowngan dengan abaya dan jilbab kotor oleh debu dan pasir. “Saya terkejut. Saya benar-benar sedih karena ia harus melalui cobaan berat ini demi saya,” kata pemuda 26 tahun ini.

Keduanya bertunangan pada satu malam di bulan Juli. Lewat Internet dan kamera web, sepuluh anggota keluarga Muhammad berkumpul di depan komputer, harta paling berharga yang mereka miliki. “Kenapa wajahmu memerah?” tanya May kepada Muhammad yang salah tingkah. Setelah ditanya orang tua masing-masing, mereka setuju menikah sambil tersenyum satu sama lain.

Perlu empat hari bagi May dari Ramallah, Tepi Barat, untuk bertemu sang pujaan hati yang tinggal di Kota Gaza. Terpaksa ia yang pergi lantaran Muhammad tidak memperoleh izin Israel untuk keluar dari Gaza. May, anak semata wayang, terpaksa meninggalkan ibunya sendirian setelah ayahnya wafat sebulan sebelum ia berangkat.

Bersama ibunya dari Ramallah, keduanya naik taksi menuju Yordania. Kemudian ke perbatasan Rafah di Mesir. Di sanalah mereka berpisah. May pun tidak tahu kapan bisa berjumpa ibunya. Untuk sampai ke Gaza, May harus membayar US$ 1.500 kepada pemilik terowongan.

Terowongan memang menjadi satu-satunyajalan bagi lalu-lintas orang dan barang keluar-masuk Jalur Gaza. Situasi ini terjadi lantaran Israel menutup perbatasan darat, laut, dan udara sebagai balasan atas berkuasanya Hamas di Gaza.

Tapi risiko yang ditempuh May amat besar. Nyawanya bisa terancam kalau terowongan runtuh atau Israel menggempur lewat serangan udara. Kadang, orang-orang Mesir berupaya menutup terowongan dengan melemparkan granat gas.

Kini pengantin baru itu hidup menderita di rumah keluarga Muhammad. Mereka menempati satu ruangan dengan kasur yang kalau malam menjadi tempat tidur sedangkan siang sebagai sofa. Kondisi kian parah karena Muhammad menganggur.

Sebelum Hamas menguasai Jalur Gaza sejak pertengahan Juni 2007, ia bekerja sebagai pengawal bagi pejabat Fatah yang mendominasi Tepi Barat. Sekarang, ia cuma mendapatkan US$ 25 saban bulan karena kesetiannya terhadap organisasi yang dipimpin Mahmud Abbad itu. “Saya berutang US$ 4.000 dan tidak tahu apakah saya bisa melunasi,” kata Muhammad.

Sedikit penyesalan tampak di wajah May. Ia juga kehilangan pekerjaan di sebuah butik di Ramallah. “Cinta memang kejam. Tapi saya tidak menyangka akan seburuk ini,” ujarnya. Bahkan, May belum sempat jalan-jalan menyaksikan Laut Tengah. Padahal jaraknya cuma 20 menit dengan taksi. Ongkos sedolar memang berat buat Muhammad dan May.

Demi cinta, orang sering berbuat apa saja tanpa sadar risiko yang bakal diterima.

Der Spiegel/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s