Spa di Kota Gaza

Sejumlah pejabat Hamas juga menjadi pelanggan tetap.

Rosy Spa di Kota Gaza

Beruntung benar orang-orang tajir di Kota Gaza. Mereka masih dapat melemaskan urat dan otot lantaran Rosy masih hidup. Ia bukan nama seorang perempuan muda yang cantik nan bahenol. Ia adalah satu-satunya tempat spa mewah di sana.

Rosy tampak elok ketimbang kamp-kamp pengungsi atau bangunan lain yang bopeng dihajar rudal dan mortir Israel. Terletak di atas sebuah bukit, ia tampak anggun, tidak seperti jalan-jalan yang bolong-bolong, kereta keledai, dan coretan militan yang menjadi pemandangan umum di Kota Gaza.

Sungguh beruntung Rosy masih selamat dari amuk Perang Gaza selama 22 hari. Padahal agresi Israel itu sudah meluluhlantakkan Jalur Gaza yang dihuni sekitar 1,5 juta penduduk. Mesin-mesin perang Israel juga menewaskan lebih dari 1.400 orang, yang setengahnya perempuan dan anak-anak.

Rosy menjadi langganan para pengusaha, juragan-juragan tanah, staf lembaga bantuan asing, wartawan, dan bahkan sejumlah pejabat Hamas yang biasa nongol di media cetak atau elektronik. “Kami memiliki layanan terbaik di kawasan ini,” kata Muhammad Faris yang asyik mengepulkan asap rokok meski banyak orang berpuasa dua pekan lalu.

Ia mendirikan rumah spa itu satu dekade lalu bersama istrinya yang berkewarganegaraan Inggris. Ia bercerita soal langganan setianya, seorang perempuan yang menjadi penasihat Uni Eropa. “Ia pindah ke New York dan menelepon saya dari sana, mengatakn ia kangen dengan Rosy,” ujar Faris.

Faris bukan sembarangan berucap. Rosy spa miliknya menawarkan layanan yang membuat tubuh bugar dan jiwa segar. Ada ruang pemanas, sauna, senam, dan sebuah salon kecantikan. Tadinya terdapat kolam air panas (Jacuzzi) yang terpaksa ditutup pada 2006 lantaran sulit mendapatkan alat penyaring yang bagus.

Untuk semua itu, orang-orang berfulus di Kota Gaza harus merogoh kocek yang bisa membuat warga Gaza lain melongo. Maklum saja, sekitar 70 persen warga Gaza hidup hanya dengan US$ 1 per hari. Sedangkan buat membersihkan wajah di Rosy harus membayar US$ 20-75 dan sekitar US$ 40 untuk pijat sejam. Kebanyakan pelanggan juga membuang uang mereka di mesin judi setidaknya US$ 15 sehari.

Sejak awal bulan ini, Rosy hanya melayani pelanggan perempuan karena lelaki jarang datang. Bahkan Faris sempat menutup usahanya selama Gaza digempur. “Setelah perang berakhir saya mengira tidak akan ada yang datang, tapi bisnis terus berjalan… Perempuan perlu santai, merasa cantik dan lebih baik,” kata Faris.

AFP/Faisal Assegaf

One thought on “Spa di Kota Gaza

  1. waduh jangan asal nyablak dong…. orang hammas masuih punya iman, masa gayanya kayak orang bule…… ya ngak lah… hidup HAMMAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s