Pekerja Haram dari Tepi Barat

Mereka harus menyuap 20 shekel untuk melewati pos pemeriksaan Israel.

Pekerja ilegal Palestina

Puluhan pekerja Palestina, lelaki dan perempuan, sudah berkumpul di Bait Iksa sebelum orang-orang makan sahur. Seolah berkejaran dengan waktu, Selasa pekan lalu, mereka mulai melintasi jalan mendaki sejauh tujuh kilometer ketika fajar masih bersembunyi. Mereka adalah buruh tak berdokumen yang saban hari menyelusup ke Israel untuk bekerja.

Bait Iksa adalah sebuah desa Arab di Tepi Barat yang terletak di kaki bukit dan dikelilingi permukiman Yahudi. Desa ini tidak dilewati oleh Tembok Pemisah, sebuah proyek sepanjang 750 kilometer yang dibangun sejak tujuh tahun lalu. Dinding apartheid ini untuk mencegah serangan rakyat Palestina terhadap warga Israel.

Alhasil, Bait Iksa menjadi lokasi favorit para pendatang haram dari seantero Tepi Barat yang berniat masuk ke negara Zionis itu.  “Mereka datang ke sini karena ini satu-satunya tempat yang tidak dikelilingi tembok,” kata seorang pekerja yang mengaku bernama Abu Umar, tanpa mau menyebut nama aslinya.

Menurut Persatuan Pekerja Palestina, sekarang terdapat 35.000-45.000 pekerja ilegal Palestina yang masuk ke Israel. Tiap tahun, Tel Aviv hanya memberikan izin bagi sekitar 12.000 orang Palestina untuk bekerja di negara itu.

Namanya juga ilegal, tidak mudah bagi mereka untuk masuk. Seorang pekerja yang menolak menyebutkan identitasnya mengungkapkan kadang ia bisa sampai ke Yerusalem dan terperangkap di sana sepekan. Kadang beberapa pekan mencoba, gagal menjejakkan kaki di Negeri Yahudi itu.

Belum lagi bahaya yang mengancam nyawa mereka. “Jika satu dari tentara-tentara itu orang jahat, ia mungkin menembak Anda ketika Anda sedang berjalan di atas bukit. Tak seorang pun bisa melawan, itu saja,” ujar Abu Umar.

Meski begitu, para pekerja Palestina tidak mau menyerah. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja di Israel 15-20 tahun dan tidak ikhlas kehilangan pekerjaa. Apalagi pendapatan di negara penjajah itu lebih besar ketimbang di wilayah sendiri.

Sebagai perbandingan, jika rutin bekerja di Israel para buruh Palestina itu memperoleh sekitar 2.000 hingga 5.000 shekel per bulan atau setara US$ 800-1.330. Namun untuk kesempatan serupa di Ramallah, Tepi Barat, penghasilan bulanan mereka hanya 1.400 shekel. “Saat pulang membawa cukup uang untuk menghidupi anak-anak saya, segala perasaan bersalah hilang. Saya juga lupa akan kelelahan,” kata seorang pekerja perempuan.

Rupanya militer Israel sudah mengetahui soal jalur Bait Iksa ini. Sebab itu, sudah berdiri pos pemeriksaan. Bagi pekerja ilegal yang mau lewat harus membayar 20 shekel. Jika ketahuan, para penyelundup dikenai denda 10.000 shekel dan penjara enam bulan.

Meski haram di mata Israel, para pekerja ilegal Palestina akan terus mengais rezeki di negara musuh mereka itu. Penjara, pukulan, atau tembakan bukan hambatan.

Jordan Times/Washington Post/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s