Terapi Syara’ di Bumi Gaza

Perempuan Gaza dilarang membuka aurat di pantai.

Sebuah sekolah di Gaza

Perlahan namun pasti Hamas yang menguasai Jalur Gaza sejak pertengahan Juni 2007 mulai menerapkan syariat islam. Sehari setelah sahur pertama, kelompok ini meluncurkan kewajiban pakaian muslimah bagi pelajar perempuan, yakni abaya biru gelap dengan jilbab putih dan sepatu hitam atau putih.

Aturan baru ini keluar tepat pada hari pertama sekolah dimulai, lebih cepat sepekan ketimbang habisnya hari libur di Tepi Barat, kawasan yang didominasi Fatah. Alhasil, kebijakan baru itu membuat murid-murid baru gede tidak dapat berdandan modis.

Meski dibantah oleh para pejabat Hamas, kenyataannya di tiap-tiap sekolah ditempel pengumuman seragam baru yang Islami itu. “Masyarakat Palestina memiliki komitmen secara alamiah  dan tidak perlu paksaan untuk mengikuti aturan itu,” kata Menteri Pendidikan Muhammad Asqul.

Sejatinya, penerapan aturan berlandaskan syariat Islam bukan hal baru di Gaza. Hamas yang dicap teroris oleh Amerika Serikat dan Israel juga sudah mewajibkan para pengacara perempuan berjilbab saat di pengadilan. Perempuan-perempuan yang berjemur di pantai juga dilarang membuka aurat. Tentu saja, kaum lelaki yang harus mengenakan kaus dan celana di bawah lutut tidak bisa lagi menikmati keseksian tubuh perempuan Gaza yang sedang disiram sinar matahari.

Bukan sebuah hal yang mengherankan Hamas menerapkan hukum syara’ di wilayah berpenduduk sekitar 1,5 juta itu. Mereka memang dikenal lebih religius dan militan ketimbang Fatah yang moderat dan sekuler.

Bahkan seperti dikutip surat kabar Libanon Al-Akhbar, menurut direktur pendidikan untuk Gaza Barat, Mahmud Abu Hasira, nantinya hanya guru perempuan yang boleh mengajar di sekolah-sekolah yang dikelola oleh Hamas. “Masyarakat kita adalah Muslim dan Islam mengajarkan pemisahan kelamin dari umur ketujuh. Berdasarkan ini kami akan menggantikan guru laki-laki dengan perempuan,” ujarnya.

Menurut juru bicara Hamas, Tahir Nunu, keputusan ini untuk meringankan para orang tua sehingga tidak perlu membeli banyak pakaian untuk sekolah anak mereka. Maklum, sejak blokade Israel dua tahun lalu, kehidupan di Gaza begitu sulit. Pasokan bahan makanan, obat-obatan, listrik, air, bahan bakar, dan barang-barang lainnya sangat menipis. Kalau pun ada harganya kelewat mahal.

Tapi tetap saja seragam baru itu menuai protes dari para pelajar dan orang tua. Menurut Abu Ahmad, guru berusia 55 tahun,kebijakan baru ini jelas tidak adil. Ia mengungkapkan beberapa orang tua berencana memindahkan anak mereka ke sekolah swasta.

Di SMA Basyir al-Rayyas, beberpa murid perempuan terpaksa menunggu di luar karena tidak berjilbab. Islam Sa’ad yang menolak penggunaaan jilbab dan berniat pindah sekolah adalah salah satunya. Rekannya, Salwa, 16 tahun, menangis lantaran menjadi korban kebijakan itu. “Kami dapat menerima (aturan) mengenakan apapun kecuali jilbab  sebab itu memeras masa kecil kami dan membuat kami kelihatan seperti perempuan tua,” katanya.

Namun ada pula yang mendukung aturan seragam berjilbab itu. Menurut pelajar bernama Hanin Musallam, seragam Islami itu dapat mengamankan kemurnian identitas Islam mereka.

Boleh jadi, terapi syariat Islam ini merupakan salah satu taktik Hamas menghadapi penjajah Israel. Seperti disebutkan dalam satu ayat Al-Quran yang artinya: Tidak akan rida Yahudi dan Nasrani sampai kalian mengikuti ajaran mereka.

AFP/Xinhua/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s