Dilema Buruh Bangunan Palestina

Mereka terpaksa bekerja di proyek permukiman Yahudi untuk menyambung hidup.

Buruh bangunan Palestina bekerja di proyek permukiman Yahudi

Tanyakan kepada Khalil Muhammad Rabbaya bagaimana perasaannya membangun rumah musuh. “Saya merasa seperti seorang budak. Namun saya tidak punya pilihan lain,” kata pemuda 21 tahun ini kemarin saat mengantre masuk menuju kawasan permukiman Yahudi di Maali Adumim, Yerusalem Timur.

Di sanalah Rabbaya bekerja sebagai buruh bangunan, sebuah profesi yang membuat emosinya campur aduk. Pekerjaan itu terpaksa ia lakoni untuk membiayai kuliahnya. Ia ingin menjadi wartawan. “Semua orang di desa saya bekerja di permukiman (Yahudi),” ujarnya.

Rabbaya tidak sendirian. Banyak lelaki Palestina dengan berat hati bekerja untuk musuh mereka Israel. Fulus untuk kebutuhan hidup terpaksa kompromi dengan cinta tanah air. Maklum saja, rakyat Palestina mendambakan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara mereka di masa depan.

Seperti Jaffar Khalil Kawazba, 24 tahun. Ia terpaksa bekerja untuk negara Zionis itu untuk menghidupi sepuluh kakak dan adiknya karena ayahnya sedang sakit parah sehingga tidak dapat bekerja. Dengan perasaan serupa, Fahad Sayara, 40 tahun, mau membangun rumah-rumah warga Yahudi itu untuk merawat anaknya yang cacat.

“Sungguh sulit menggambarkan perasaan kami menyaksikan tanah kami hilang sedikit demi sedikit,” ujar Hossam Hussein, 26 tahun, sambil membuat adukan untuk diplester ke tembok sebuah rumah yang menghadap ke Laut Mati.

Saban tahun pemerintah Israel mengizinkan 12 ribu orang Palestina untuk bekerja di Israel. Maklum, kondisi ekonomi yang sulit di Tepi Barat telah mengakibatkan sepertiga dari sekitar 660.000 penduduk di wilayah itu menganggur. Padahal permukiman Yahudi di tepi Barat melanggar hukum internasional. Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan tetap akan meneruskan proyek pembangunan untuk memenuhi pertumbuhan alamiah dari 450.000 warga di sana.

Pihak Otoritas Palestina tidak berdaya menghadapi kenyataan pahit itu. “Sebagai seorang manusia, saya tidak bisa mengatakan kepada mereka biar saja lapar ketika saya tidak bisa menyediakan pekerjaan buat mereka,” kata Menteri Keuangan Bassam Khouri.

Pantas saja buruh Palestina itu merasa sperti budak. Gaji yang mereka terima kurang dari upah minimum yang berlaku di negara Yahudi itu, yakni 150 shekel atau US$ 40 per hari. “Mereka sekarang hanya dibayar 150 shekel sehari,” kata Meir Levi, agen penjualan perumahan.  Bahkan ada menerima cuma US$ 26 atau US$ 29 tiap hari.

Meski begitu, seluruh buruh bangunan Palestina yang ditanyai setuju bila pembangunan permukiman Yahudi dihentikan. Kecuali seorang lelaki yang sudah tua, “Lantas kalian mau hidup dengan apa?”

BBC/Faisal Assegaf

One thought on “Dilema Buruh Bangunan Palestina

  1. DERITA KAUM BURUH

    Melambung nya harga kebutuhan pokok menjelang ramadhan, membuat nasib buruh semakin kelimpungan. Gaji Rp.800.000-Rp.900.000 per bulan (rata-rata UMK Surabaya) hanya cukup untuk kebutuhan berbuka puasa dan makan sahur. Bayangkan bila buruh sudah berkeluarga dan memiliki anak, Untuk kebutuhan makan sehari-hari aja pas-pasan, belum lagi untuk kebutuhan anak, istri saat lebaran. Semua harga kebutuhan pokok naik hampir 50%, Betapa menderitanya nasib kaum buruh.

    **********

    Meminta kenaikan UMK pada saat-saat ini jelas suatu hal yang mustahil, berdemonstrasi, mogok kerja atau ngeluruk kantor dewan pasti hanya menimbulkan keributan tanpa hasil, atau bisa-bisa malah digebuki Satpol PP.

    THR (Tunjangan Hari Raya) yang selama ini menjadi kado hiburan bagi buruh sengaja di kebiri pemerintah. UU No 14/1969 tentang pemberian THR telah di cabut oleh UU No 13/2003 yang tidak mengatur tentang pemberian THR. Undang-undang yang di buat sama sekali tidak memihak kepantingan kaum buruh. Atas dasar Undang-Undang inilah pengusaha selalu berkelit dalam pemberian THR.

    Sedangkan UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, lebih memihak kepentingan investor asing dan Bank Dunia. Landasan formal seluruh aturan perundangan ini memperlemah posisi tawar buruh di bidang upah, kepastian kerja tetap, tunjangan dan hak normatif, hilangnya kesempatan kerja, partisipasi demokratis Dewan Pengupahan, dan konflik hubungan industrial. Pada prinsipnya Undang-Undang ini merupakan kepanjangan dari kapitalisme (pengusaha).

    Selain masalah gaji rendah, pemberian THR, Undang-Undang yang tidak memihak kepentingan kaum buruh, derita kaum buruh seakan bertambah lengkap kala dihadapan pada standar keselamatan kerja yg buruk. Dari data pada tahun 2001 hingga 2008, di Indonesia rata-rata terjadi 50.000 kecalakaan kerja pertahun. Dari data itu, 440 kecelakaan kerja terjadi tiap hari nya, 7 buruh tewas tiap 24jam, dan 43 lainnya cacat. Standar keselamatan kerja di Indonesia paling buruk di kawasan Asia Tenggara.

    Tidak heran jika ada yang menyebut, kaum buruh hanyalah korban dosa terstuktur dari dari kapitalisme global.

    “kesejahteraan kaum buruh Indonesia hanyalah impian kosong belaka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s