Ramadan di Gaza

Sekitar 70 persen penduduk hidup dengan US$ 1 saban hari.

Ramadan di Gaza

Sehari menjelang Ramadan, Shadi al-Helo hanya dapat duduk termenung di depan kiosnya di pasar Zauya, jantung Kota Gaza. Seperti tahun lalu, pembeli tetap jarang. Padahal, puasa mulai berlangsung Sabtu.

“Saya hanya kedatangan lima atau enam konsumen Jumat pagi, sedangkan di masa lalu, saya bisa melayani lusinan pembeli dalam dua jam,” kata pedagang ayam ini. Ia menilai krisis ekonomi di Jalur Gaza sudah tidak dapat ditolerir lagi.

Seperti Al-Helo, puluhan pedagang di Zauya juga bernasib serupa. Mereka cuma bengong lantaran jarang orang yang datang ke pasar. Sebab, harga barang-barang kebutuhan Ramadan melambung tinggi dan tidak bisa dijangkau sebagai besar warga Gaza.

Semua lantaran Israel memblokade wilayah berpenduduk 1,5 juta itu sejak dua tahun lalu. Sudah tiga Ramadan dengan tahun ini, warga Gaza kekurangan pasokan bahan pangan, obat-obatan, listrik, air, bahan bakar, dan material lain. Isolasi itu juga menyebabkan harga, angka pengangguran, dan kemiskinan meroket.

Menurut Komite Palang Merah Internasional (ICRC), tingkat pengangguran mencapai 44 persen sejak April tahun ini. Sekitar 70 persen penduduk hidup dengan US$ 1 saban hari. Alhasil, sangat sulit bagi mereka menikmati daging buat berbuka atau sahur.

Menurut Al-Helo, daging ayam beku ia jual saat ini 25 shekel atau sekitar US$ 10. per kilogram, naik tiga kali lipat ketimbang dua tahun lalu. “Saya harus berjuang untuk menjual barangan dagangan saya. Orang-orang dilemahkan oleh isolasi, kemiskinan, dan pengangguran,” ujarnya.

Di sebuah toko mainan, Abu Sami, 44 tahun, bersama istrinya sedang menawar lentera ukuran sedang sebagai penerang di waktu malam. Penjual bertahan di harga 30 shekel. Padahal dua tahun lalu, lentera itu hanya 15 shekel. “Kehidupan di Gaza begitu sulit sekarang dan kami benar-benar tidak tahu kemana harus pergi atau apa yang mesti dilakukan,” kata Umm Sami.

Ketua Dewan Dagang Gaza Mahmud al-Yazji mengatakan kepada kantor berita Xinhua, pihaknya telah mengirim surat kepada organisasi-organisasi internasional untuk menekan Israel supaya mengizinkan masuknya barang-barang buat kebutuhan Ramadan.

Namun negara Zionis itu menolak melonggarkan blokade. Karena itu, Badan Bantuan dan Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNRWA) yang bertugas di Palestina telah meluncurkan bantuan pangan darurat bernilai US$ 181 juta.  Menurut juru bicara UNRWA, Adnan Abu Hasna, program ini mendapat sokongan dari Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Untung masih ada orang dermawan seperti Hamdi Syekh Ali, 45 tahun. Dengan gaji bulanan lebih dari US$ 2 ribu, tidak sulit bagi dirinya memotong kambing buat fakir miskin. Ia berencana membeli kambing seberat 50 kilogram yang diselundupkan dari Mesir dengan harga jual US$ 150.

Setelah dipotong, ia akan membagikan bungkusan yang masing-masing berisi satu kilogram daging. “Saya melakukan itu agar Allah memberkahi keluarga saya, namun saya tidak akan membeli barang-barang mewah untuk menunjukkan kekayaan saya selama Ramadan,” Ujar Ali.

Puasa kali ini kian membuat warga Gaza menderita. Perasaan itu ternyata tidak hanya dialami orang-orang yang sudah berkeluarga. Ahmad yang berniat kawin setelah lebaran pun ikut mengeluh. “Kadang saya menyesal memutuskan untuk menikah karena situasi sulit ini,” ujarnya.

Palestine Think Thank/Xinhua/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s