Politik Basa-basi Obama

Oleh Faisal Assegaf

Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama rupanya sadar betul betapa citra sangat penting dalam dunia politik. Itulah sebabnya, ia berupaya tampil di depan publik sebagai pemimpin yang amat peduli dengan nasib bangsa Palestina. Karena itu, tidak sampai sebulan setelah dilantik, ia langsung menunjuk George Mitchell, yang berhasil mendamaikan konflik Irlandia Utara, sebagai utusan khusus untuk Timur Tengah.

Ia memang memikul tugas berat memperbaiki citra Amerika yang hancur, tidak hanya di kalangan Arab dan muslim, namun juga di sebagian besar belahan dunia. Selama dua periode pemerintahan Presiden George Walker Bush sebelumnya, negara Abang Sam itu sangat dibenci akibat kebijakan antiteror yang mendiskreditkan warga Arab dan muslim.

Pekan lalu ia melawat ke Timur Tengah dan menyampaikan pidato di Ibu Kota Kairo, Mesir. Ia ingin sekali lagi menegaskan kepada seluruh dunia bahwa ia benar-benar ingin melihat Palestina dan Israel dapat hidup berdampingan secara aman dan damai.

Padahal Presiden dari Partai Demokrat ini sebenarnya memahami betapa terlalu sangat sulit mewujudkan perdamaian antara Palestina dan Israel . Apalagi saat ini negara Zionis itu dipimpin oleh Benjamin Netanyahu yang berhaluan keras. Terbukti pada saat keduanya bertemu di Gedung Putih dua pekan lalu. Ia gagal memaksa Netanyahu menyepakati sebuah tenggat waktu berdirinya negara Palestina.

Yang terjadi, pemimpin kelahiran Tel Aviv, Israel , itu sama sekali tidak peduli dengan solusi dua negara yang disokong oleh Obama. Netanyahu lebih senang membicarakan masalah nuklir Iran . Amerika dan Israel selama ini memang mencurigai Negeri Mullah itu sedang mengembangkan senjata nuklir.

Sesuai piagam partainya, Netanyahu yang berhaluan keras tidak pernah mendukung ide pembentukan negara Palestina. Politikus dari Partai Likud ini hanya berminat bekerja sama membangun perekonomian di Tepi Barat tanpa melibatkan wilayah Jalur Gaza yang sekarang dikuasai Hamas.

Lelaki kelahiran Honolulu , Hawaii , Amerika, ini pun tidak mungkin lupa akan fakta bahwa pemerintahan koalisi yang dipimpin Netanyahu menggandeng partai-partai ultranasionalis. Netanyahu tentu tidak akan rela kabinet yang ia bangun itu hancur lantaran menuruti keinginan Obama.

Ketua Partai Yisrael Beitenu Avigdor Lieberman yang ia tunjuk sebagai menteri luar negeri dikenal sebagai tokoh rasis. Dalam pelbagai kampanyenya menjelang pemilihan umum 10 Februari lalu, ia menyatakan Israel hanyalah negara bagi kaum Yahudi. Warga keturunan Arab yang ingin bergabung harus dimintai sumpah setia lebih dulu dan jika menolak harus keluar darfi negara Zionis itu.

Lieberman yang merupakan imigran asal Rusia menolak bila Yerusalem Timur nantinya menjadi ibu kota negara Palestina. Karena itulah, pada Januari tahun lalu ia keluar dari kabinet setelah Perdana Menteri Ehud Olmert memasukkan status Yerusalem sebagai salah satu bahasan dalam perundingan.

Prinsip ini pula yang dipegang teguh oleh Eli Yishai, pemimpin Partai Shas yang beraliran religius ultraortodoks. Israel sudah menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka yang tidak dapat dibagi dua melalui Hukum Dasar Yerusalem yang disahkan Knesset (parlemen Israel ) pada 1980.

Obama telah mengulangi kesalahan serupa yang pernah dibuat presiden-presiden Amerika sebelumnya dengan menagih komitmen kepada Netanyahu. Keseriusan negara Zionis itu berdamai dengan Palestina bukan dilihat dari komitmen yang mereka buat. Kedua pihak pernah menyetujui sejumlah kesepakatan damai yang tidak terlaksana, termasuk Perjanjian Oslo 1993 dan peta damai 2003 yang disodorkan Amerika, Rusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Uni Eropa. Paling mutakhir, Abbas dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sepakat mewujudkan negara Palestina akhir tahun lalu.

Namun kesepahaman yang tercapai dua tahun lalu pada konferensi perdamaian di Annapolis , Maryland , Amerika, gagal memenuhi batas waktu itu. Israel menolak tiga tuntutan Palestina, yakni menyerahkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina dengan wilayah sebelum Perang Enam hari 1967 dan hak kembali bagi pengungsi Palestina.

Jika benar-benar ingin mewujudkan negara Palestina, Obama seharusnya lebih dulu mendesak Israel mencabut blokade yang telah menciptakan krisis kemanusiaan di Gaza . Penderitaan sekitar 1,5 juta penduduk di sana kian diperparah oleh agresi militer selama 22 hari sejak 27 Desember tahun lalu. Isolasi itu juga telah memecah belah warga Palestina dan memperuncing konflik antara Hamas dan Fatah yang berbeda secara ideologi politik. .

Negara Yahudi itu juga harus mengakhiri pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat dan menghapus pos-pos pemeriksaan yang menghambat kegiatan warga Palestina. Bayangkan saja, tembok sepanjang 750 kilometer itu hanya memiliki satu pintu keluar-masuk di tiap kota yang dilewati. Israel juga mesti menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di Yerusalem Timur yang mencaplok tanah-tanah milik warga Palestina. Mereka juga harus menyetop operasi keamanan rutin dengan alasan mencari pejuang Palestina.

Bila Netanyahu mau memenuhi semua tuntutan itu, barulah dapat dikatakan Israel mempunyai niat serius untuk berunding. Tapi kemungkinan besar tidak. Alhasil, semua kebijakan Obama terkait konflik Palestina dan Israel selama ia berkuasa nanti hanya sekadar simbol dan formalitas belaka. Jadi tak ada gunanya bangsa Palestina terlalu berharap kepada Obama.

Ia memang baru saja menciptakan sebuah sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika, negara yang berdiri sejak 233 tahun lalu. Namun bukan berarti ia bisa menciptakan sejarah baru dengan mengakhiri konflik yang sudah berjalan 61 tahun hanya dalam empat tahun kepemimpinannya.

Rakyat Palestina lebih baik percaya pada kekuatan sendiri. Seperti firman Allah dalam Al-Quran yang artinya: Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu mengubah nasib mereka sendiri.

Dimuat di Koran Tempo, 8 Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s