Kasih Tak Sampai Samir dan Nadine

Dua sejoli Kristen tidak dapat menikah karena terpisah antara Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Samir Khouri dan Nadine (BBC)

Kunjungan pemimpin umat Katolik Paus Benediktus XVI pada Kamis pekan lalu ke Bethlehem, Tepi Barat, terasa hambar bagi Samir Khouri, 24 tahun. Ia sama sekali tidak tertarik bergabung bersama sekitar 5.000 umat Kristen yang antusias menyambut kehadiran pemimpin Takhta Suci Vatikan itu.

Pemuda lajang ini lebih memilih menyendiri dalam sebuah gereja Katolik di kota kelahiran Yesus itu. Ia berdoa supaya dapat segera menikahi kekasihnya, Nadine, 22 tahun. Mereka sudah bertunangan setelah berpacaran lima tahun.

Penjajahan Israel telah menjadi duri dalam hubungan asmara keduanya. Sudah setahun terakhir Samir yang tinggal di Bethlehem tidak dapat bertemu Nadine yang menetap di Jalur Gaza. Rasanya sungguh berat dipisahkan secara paksa dari orang yang Anda cintai. Saban kali saya melihat sepasang kekasih, hati saya luka,” kata Samir yang bekerja sebagai akuntan.

Samir bersama 25 ribu warga Bethlehem memang tidak lagi leluasa bergerak lantaran banyaknya pos pemeriksaan dan operasi militer Israel. Kondisi kian diperparah dengan pembangunan tembok pemisah yang hanya punya satu pintu keluar-masuk. Proyek sepanjang 750 kilometer yang melintasi semua kota di Tepi Barat ini dimulai tujuh tahun lalu.

Situasi Nadine pun tak kalah mengenaskan. Sejak negara Zionis itu memblokade Gaza pada pertengahan Juni 2007, sekitar 1,5 juta penduduk di sana, termasuk dua ribu orang Kristen tidak bisa keluar dari sana. Padahal, perempuan yang berprofesi sebagai pengacara ini sangat ingin segera kawin dengan Samir. “Semuanya bagi saya tergantung izin Israel untuk keluar dari Gaza pergi ke Tepi Barat,” ujarnya sambil mendekap foto mereka berdua.

Pemimpin Katolik di Gaza, Pastor Emmanuel Musallam, menegaskan kaumnya bersama kelangan muslim sama-sama menjadi korban kekejaman negara Yahudi itu. “Kita menderita bersama karena penjajahan (Israel), perang, dan blokade ini,” ujarnya.

Sejatinya, Nadine memiliki satu kesempatan emas bertemu Samir lantaran Israel mengizinkan seratus orang Kristen dari Gaza menghadiri lawatan Paus Benediktus ke Bethlehem Kamis pekan lalu. Sayang, nama Nadine tidak masuk dalam daftar. Namun ia yakin suatu hari nanti bisa bersama Samir.

Memang cuma keyakinan yang bisa memelihara cinta mereka berdua. Ketika kalian berdoa, mintalah perdamaian segera terwujud dan penjajahan Israel berakhir.

BBC/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s