Menengok Ayah di Penjara Israel

Cuma bisa bersentuhan ujung jari.

Penjara di Israel

Bertemu dengan ayah, sangat mahal dan berisiko bagi Jinan, 6 tahun. Saban Senin tiap dua pekan, ia mengunjungi ayahnya, Ali Nazal, di Penjara Chattah-Gilboa, Israel. Ritual ini telah ia kerjakan dalam dua tahun terakhir. Boleh jadi, ia merupakan pembesuk paling muda.

Biasanya ia pergi sendiri. Namun Senin lalu, ia melawat bersama dua adiknya, Dania, 4 tahun, dan Nur, 2 tahun. Mereka bertiga sudah bersiap sejak sebelum fajar. Salam Nazal, sang ibu, mengenakan Jinan celana jins dan blus hijau almond. Sedangkan dua adiknya sama-sama dipakaikan setelan jins dan blus merah muda.Tak ketinggalan bekal makan siang dalam tas boneka Barbie.

Namnya juga masih kecil, Jinan tak paham kenapa ayahnya mendekam di penjara negara Zionis itu. Sebab itu, tiap kali akan menjenguk, ia selalu bertanya kepada ibunya, “Mami mengapa Ayah sellau tidur di Israel?” Salam punya satu jawaban jitu yang menghibur, “Karena di sanalah tempat untuk tidur bagi orang-orang Palestina terbaik dan ayahmu salah satu di antara mereka.”

Sejatinya, dari rumah Jinan di Kota Qalqilya, Tepi Barat, ke Penjara Chattah-Gilboa hanya dua jam berkendaraan. Namun lantaran harus melewati sejumlah pos pemeriksaan, waktu perjalanan molor menjadi lima jam.

Maklum, seperti kota-kota lain di Tepi Barat, Qalqilya dikelilingi Tembok Pemisah yang cuma mempunyai satu pintu keluar-masuk. Pembangunan dinding “apartheid” sejauh 750 kilometer ini sudah dimulai tujuh tahun lalu. Meski masyarakat internasional mengkritik, Israel beralasan tembok yang dilengkapi pelbagai perangkat keamanan itu untuk melindungi warganya dari serangan pejuang Palestina.

Qalqilya pun menjadi salah satu basis perlawanan rakyat Palestina. Wali kota baru mereka yang terpilih secara langsung berasal dari Hamas, organisasi yang dicap teroris oleh Amerika Serikat dan Israel. Karena itu tidak heran jika Israel selalu menggelar operasi militer di kota ini lima kali dalam sepekan.

Salam tak pernah bisa menemani Jinan membesuk ayahnya lantaran ia masuk daftar pengawasan militer Israel tanpa sebab yang jelas. Walau khawatir, ia tetap tabah melepas kepergian ketiga putrinya itu. “Tapi apa yang dapat saya lakukan?Hanya ioni kesempatan mereka melihat ayah mereka,” ujar Salam saat mengantar Jinan dan dua adiknya menaiki bus yang disewa oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

Ali Nazal, 35 tahun, tadinya berjualan pakaian di pinggir jalan. Meski baru akan diadili, ia sudah mendekam dua tahun. Ia terancam hukuman kurungaan sampai sepuluh tahun jika terbukti memiliki senjata dan menyembunyikan satu buronan. Dakwaan itu sama sekali tak terbukti karena informasi yang diberikan informan Palestina salah.

Militer negara Yahudi itu tidak peduli, Rumah Nazal diobrak-abrik walau tak ditemukan senjata. Israel tetap menuding ia sebagai anggota aktif sebuah kelompok pejuang Palestina dan sedang merencanakan serangan terhadap warga Israel. Salam menjadi satu dari sekitar 11 ribu orang Palestina yang ditahan Israel.

Israel menolak menyediakan trasnportasi bagi pembesuk. Semua menjadi tanggungan ICRC. Menurut juru bicaranya, Anne Sophie Bonefeld, tiap bulan mereka harus menyediakan bus bagi sekitar 20 ribu warga Palestina dan mengurus  dokumen yang diperlukan.

Meski hanya 45 menit, Jinan, Dania, dan Nur, bersemangat. Bagi si bungsu Nur, ini kesempatan pertama bertemu ayahnya. Nazal dipenjara saat ia masih enam bulan. Ketika itu, ia belum dapat berjalan dan berbicara.

Dengan menggandeng tangan kedua adiknya, Jinan memasuki ruang tunggu. Bertemu ayah mereka walau melalui telepon. Mereka terpisah oleh kaca tebal. Lubang kecil yang ada membuat Nazal hanya mampu menyentuh ujung jari ketiga putrinya bergantian.

Time/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s