Nadia Abu Marzuq: “Kami Hanya Bertemu 10 Menit Selama Perang Gaza”

Nadia Abu Marzuq (koleksi pribadi)

Negara-negara Barat yang disponsori Amerika Serikat dan Israel boleh saja mencap Wakil Kepala Biro Politik Hamas Musa Abu Marzuq sebagai teroris. Namun di mata istri dan anak-anaknya, ia seorang pejuang.

Nadia Abu Marzuq, 46 tahun, juga tidak khawatir dengan label negatif itu. Ia mengaku dapat hidup normal tanpa pengawalan di Ibu Kota Damaskus, Suriah.

Kepada Faisal Assegaf dan juru foto Yosep Arkian dari Tempo, Nadia menjelaskan posisinya sebagai istri pemimpin Hamas dan sisi pribadi suaminya, Musa Abu Marzuq. Ibu enam anak kelahiran Kota Gaza ini menjawab semua pertanyaan dengan tegas.

Ia datang ke Jakarta selama lima hari bersama Rasyah, janda mendiang pemimpin Hamas Abdul Aziz Rantissi. Nadia tampak ramah sedangkan Rasyah sedikit tertutup dengan wajah selalu terlindung cadar.

Wawancara berlangsung selama 45 menit setelah pengajian ibu-ibu di rumah dinas Menteri Perumahan Rakyat Muhammad Yusuf Asy’ari di Jalan Denpasar Raya nomor 4, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis malam pekan lalu. Berikut penuturannya:

Apakah Anda merasa bangga menjadi istri pemimpin Hamas?
Tentu saja saya merasa bangga. Saya juga bangga terhadap semua mujahid (pejuang) di Palestina dan seluruh dunia. Saya sangat bangga atas apa yang selama ini ia kerjakan, memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.

Apakah Anda merasa takut karena suami Anda sasaran utama Israel?
Saya tidak pernah merasa takut karena semua rakyat Palestina adalah sasaran Israel. Allah juga mengajarkan kepada kita seseorang tidak akan mati sebelum tiba waktunya. Jadi apa pun yang direncanakan Israel terhadap dia tidak akan dapat terlaksana bila Allah tidak mengizinkan. Saya tidak khawatir soal ini. Tiap orang punya ajalnya sendiri. Jadi saya tidak pernah merasa takut.

Sebagai istri pentolan Hamas, apakah Anda mendapatkan pengawalan ketat?
Tidak, tidak (menggelengkan kepala sambil tertawa).

Apkah di Damaskus keluarga Anda tinggal secara rahasia dan tertutup dengan tetangga?
Tidak, keluarga kami hidup normal seperti orang lain, tanpa penjagaan. Kami juga terbuka terhadap orang-orang Suriah dan Palestina. Kami dan para pemimpin Hamas lainnya di Damaskus hidup normal. Alhamdulillah, anak-anak saya juga hidup normal dan bermain seperti anak-anak lainnya.

Apakah Anda berharap semua anak Anda mengikuti jejak ayah mereka sebagai pejuang?
Tentu saja. Tiap warga Palestina berfikir untuk menempuh jalan ini (berjuang). Mereka berhak memikirkan tanah air mereka. Semua anak saya tinggal di luar Palestina namun mereka berharap dapat menetap di sana.

Apakah benar suami Anda sempat mengunjungi Gaza setelah mengikuti perundingan di Kairo?
(Tertawa). Seharusnya kunjungan itu bersifat rahasia. Namun di jam-jam terakhir, beberpa orang mengetahui soal lawatannya. Namun ia sudah keburu meninggalkan Gaza. Ia berkunjung ke Gaza selama 14 jam karena ibunya sangat sakit. Ibunya tidak pernah melihat dia selama 20 tahun. Suami saya terakhir mengunjungi Gaza pada 1989. Ibunya mengunjungi kami satu kali saat kami tinggal di Yordania (Amman). Ibunya sudah sangat tua, usianya 99 tahun. Ia tinggal di Rafah (bagian Gaza). Segera setelah orang-orang tahu suami saya ada di sana, ia segera pergi.

Adakah keluarga Anda menjadi korban saat agresi Israel selama 22 hari ke Gaza?
Dalam perang di Gaza, enam sepupu saya terbunuh, empat lelaki dan dua perempuan. Mereka tinggal di Kota Gaza. Kami sangat sedih ketika mengetahui kabar itu. Kami juga terus mengikuti perkembangan berita di televisi. Kami merasa sangat tertekan dan cemas karena apa yang berlangsung di Gaza tidak pernah terjadi sepanjang sejarah.

Negara-negara Barat mencap suami Anda teroris. Bagaimana Anda menjelaskan masalah ini ketika anak-anak Anda masih kecil?
Percayalah. Mereka sudah paham sejak masih belia bahwa ayah mereka selalu memikirkan keadaan rakyat di Palestina dan tidak hanya memikirkan soal anak-anaknya. Jadi ketika anak-anak saya menanyakan soal ayahnya, saya katakan ia harus bekerja untuk seluruh rakyat Palestina dan bukan cuma untuk kami. Jadi kalian harus menerima ayah kalian seperti ini. Mereka paham bahwa kami harus kembali ke Palestina. Mereka juga paham Israel membunuh wanita, anak-anak, dan mengebom rumah-rumah warga Palestina.

Apakah Anda setuju  dengan bom bunuh diri?
(Sempat terdiam sambil menghela nafas dalam-dalam). Jika Israel terus membunuhi keluarga dan anak-anak Palestina, tidak seorang pun bisa menghentikan apa yang ingin dilakukan oleh anak lelaki atau perempuan, pria atau wanita dewasa. Kebiasaan yang ada di Palestina, ketika seorang anak lelaki pergi untuk melakukan serangan bunuh diri, mereka tidak pernah memberitahu atau meminta izin kepada ibu atau ayah mereka. Militansi mereka makin meningkat setelah menyaksikan kekejaman Israel dalam Perang Gaza.

Jadi Anda rela bila salah satu anak Anda menjadi pengebom bunuh diri?
Jihad bisa dilakukan dalam banyak cara. Anda dapat berjihad dengan surat kabar (sambil menunjuk Koran Tempo yang sedang ia pegang). Ketika Anda menulis hal-hal yang bermanfaat, itu namanya jihad. Bukan hanya dengan melakukan serangan bunuh diri.

Sebagai pemimpin Hamas, suami Anda tentu sangat sibuk. Bagaimana ia membagi waktu bersama keluarga?
Itu sangat sulit. Kami kadang menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak seperti keluarga lainnya. Namun jelas itu tidak mudah.

Dalam sepekan berapa jam ia menghabiskan waktu bersama keluarga?
Kami tidak tahu berapa jam. Ini pertanyaan yang sangat sulit. Kapan saja ia ada waktu, ia akan berkumpul bersama keluarga. Kadang ia dapat bersama kami berjam-jam, kadang tidak sama sekali. Kadang ia cuma menelepon dan mengatakan, “Apakah kamu baik-baik saja? Apakah semua baik-baik saja? Assalamulaikum. Saya terlalu sibuk.” Selama Perang Gaza, kami hanya bertemu ia sepuluh menit.

Kegiatan bersama apa dalam sepuluh menit itu?
Kami makan siang bersama di rumah.

Apa hobi suami Anda?
Ia sangat menggemari sepak bola. Ia suka bermain bola jika ada waktu. Ia juga suka berkebun dan memelihara binatang, seperti burung dan kelinci.

Sepulang dari luar negeri, oleh-oleh apa yang biasa ia bawakan untuk Anda dan anak-anak?
Ia suka membelikan saya minyak wangi dan putrinya aksesoris.

Apa koleksi yang ia miliki?
Ia suka mengumpulkan mata uang seluruh dunia dan prangko.

Anda ingin semua anak Anda jadi apa?
Saya berharap mereka menjadi politisi.

One thought on “Nadia Abu Marzuq: “Kami Hanya Bertemu 10 Menit Selama Perang Gaza”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s