Bulan Madu di Tengah Reruntuhan

Para pengantin baru di Gaza tinggal di tenda pengungsian.

Pernikahan di Jalur Gaza

Kedua mempelai itu masih lengkap dengan busana  perkawinan. Pengantin lelaki bersetelan jas serba hitam dan perempuannya gaun putih yang ditutup kerudung mulai dari kepala hingga ujun kaki. Tak ketinggalan cincin, kalung, dan sejumlah gelang emas mempercantik penampilannya.

Selasa pekan lalu, mereka menuju tempat bulan madu, yakni sebuah rumah berlantai dua milik keluarga mempelai pria yang rusak berat dibombardir tank-tank Israel selama perang 22 hari. Pasangan pengantin baru itu melangkah dengan hati-hati di atas pecahan kaca dan puing-puing.

Haitham Attar, 26 tahun, dan istrinya, Rim Abu Laila, 24 tahun, menggelar acara pernikahan sehari sebelumnya di rumah keluarga pengantin perempuan. Meski kondisi di Kota Bait Lahiya, Jalur Gaza masih memprihatinkan, suasana pesta meriah. Musik menghibur para undangan melalui sebuah alat pengeras suara. Bahkan kedua sejoli ikut menari bersama tamu-tamu lain.

Kamar pengantin baru itu memang kecil, namun masih lebih baik ketimbang harus tidur di matras. Ruangan kepunyaan orang tua Attar, Yusuf dan Fatima, ini sudah dibersihkan dan ranjang pengantin telah siap ditiduri. “Saya senang tapi tentu saja bukan seperti sekarang yang saya rasakan sebelum perang,” katanya.

Attar dan Rim sejatinya berencana agid pada 15 Januari, namun sewrbuan Israel yang gencar menghalangi niat mereka. Attar bekerja sebagai sekretaris di sebuah sekolah dasar dengan gaji 1.000 shekel atau Rp 2,4 juta. Itu tidak cukup buat menyewa apartemen yang harganya kian melonjak. Apalagi istirinya yang merupakan sarjana bahasa Arab dari Universitas Islam Gaza tidak bekerja.

Keduanya tidak dapat berlama-lama menikmati bulan madu lantaran orang tua Attar ingin segera kembali. Alhasil, pasangan pengantin baru ini terpaksa tidur di matras atau pindah ke tenda pengungsi terdekat, seperti yang dilakoni salah satu kakak Aftar bersama istrinya yang sedang hamil.

Meski begitu, Attar tidak ingin putus asa. “Hidup harus terus berjalan. Masa depan dan takdir hanya Allah yang tahu, namun harapan selalu ada,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Nasib serupa juga dialami pasangan Ahmad dan Iman yang menikah Kamis pekan lalu di kamp pengungsi Ar-Rayyan, Jabaliyah. Mereka pun juga harus tinggal di sana karena harga sewa rumah yang kelewat mahal. Kini mereka tinggal di sebuah tenda yang dilengkapi satu tempat tidur, meja, lemari, dan kamar mandi kecil. “Awalnya istir saya menolak namun akhir setuju karena kami tidak mempunyai pilihan lain,” kata Ahmad.

Attar dan Ahmad boleh saja tinggal di kamp pengungsi. Yang pasti, mereka akan melahirkan generasi muda Palestina yang tangguh dan siap berjuang menghadapi Israel.

AP/IMEMC/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s