Ahmad Muhammad Bahar “Kami Optimistis dengan Pemerintahan Bersatu”

Wakil Ketua Parlemen Palestina Ahmad Muhammad Bahar (koleksi pribadi)

Proses rekonsiliasi Palestina sudah dimulai di Ibu Kota Kairo, Mesir, sejak Selasa pekan lalu. Salah satu poin paling penting adalah pembentukan kabinet persatuan yang diharapkan bisa menduetkan kembali Hamas dan Fatah.

Pemerintahan bersama ini sangat mutlak diperlukan lantaran negara-negara donor yang sudah berkomitmen memberikan sekitar US$ 5,2 miliar mensyaratkan adanya satu otoritas di Palestina. Bukan seperti sekarang, hamas menguasai Jalur Gaza dan Fatah mengontrol Tepi Barat.

Agenda ini pula yang disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Legilastif Palestina (PLC) Ahmad Muhammad Bahar, 60 tahun, yang melawat bersama rombongan ke Jakarta sejak Rabu pekan lalu. Ia menemui Ketua DPR Agung Laksono dan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Pria kelahiran Gaza ini juga sempat mengunjungi Taman Safari, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Sayang, dengan alasan sakit pencernaan, politikus dari Hamas itu gagal menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sumber Tempo mengungkapkan Yudhoyono mencoba menjaga jarak dengan Hamas lantaran takut tekanan Amerika menjelang pemilihan umum. Maklum, Washington mencap Hamas sebagai organisasi teroris.

Menjelang kepulangannya, Ahmad Bahar yang hobi berenang ini menerima Faisal Assegaf dari Tempo untuk wawancara khusus di sebuah restoran di Terminal II Keberangkatan Luar Negeri Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Di sela wawancara, ia senantiasa berzikir dengan hitungan tasbih coklat di tangan kanan. Berikut penuturannya pada Jumat pekan lalu:

Anda yakin kabinet persatuan Palestina bisa terbentuk?
Kami tetap akan optimistis dengan pemerintahan bersatu ini, apapun kendalanya. Tapi pemerintahan bersatu yang akan kami bentuk harus sesuai konstitusi yang selama ini menjadi landasan hukum di Palestina. Kami akan terus berusaha dengan hambatan apapun namun kalau yang dikehendaki adalah menumbangkan Hamas dan menggulingkan pemerintahan yang sah kami tidak akan menerima.

Pemerintahan bersama pernah ada dua tahun lalu, kenapa Anda masih yakin bisa berkoalisi dengan Fatah?
Kami tetap yakin ini akan berhasil kecuali kalu ada campur tangan dari Amerika dan Israel yang menekan dan menggagalkan perundingan yang sedang berlangsung.

Namun Amerika dan Israel telah menyatakan menolak jika  Hamas masuk dalam kabinet persatuan?
Penolakan Amerika dan Israel bukan baru sekarang. Sejak dulu mereka tidak menghendaki adanya Hamas dalam pemerintahan. Bahkan ketika Hamas telah memenangkan pemilu secara demokratis kedua negara itu lebih anti lagi terhadap Hamas. Apa yang bisa kita perbuat keculia melawan. Mereka juga berlaku kejam terhadap anak-anak dan wanita kami.

Sebagai pemenang pemilu 2006, apakah Hamas akan meminta jabatan perdana menteri?
Kami tidak mempermasalahkan siapa yang mau menjadi perdana menteri dan kami tidak menuntut apa-apa pembentukan pemerintahan itu. Yang penting bagi kami, pemerintahan itu berdiri sesuai konstitusi dan kepentingan rakyat Palestina.

Jadi posisi apa yang diinginkan Hamas nanti?
Sekali lagi kami sampaikan bahwa kami tidak akan mempermasalahkan siapa dan jabatan yang akan diberikan kepada Hamas. Yang kami tuntut pemerintahan ini tidak menghapus legalitas dari perlawanan terhadap penjajahan Israel. Kalau memang prinsip itu harus dikorbankan, kami tidak akan terima. Perlawanan adalah hak sebagai bangsa yang dijajah.

Kalau memang ingin masuk pemerintahan, artinya Hamas mau mengakui Israel seperti yang disyaratkan kedua negara itu?
Kami tidak ingin selamanya didikte Amerika dan Israel. Kalau senadainya mereka berusaha menekan kami, kami akan melawan. Kami tidak ingin tunduk terhadap apa yang mereka inginkan. Tiktik temu dalam jangkan pendek adalah membangun kembali Gaza namun mereka ingin mempolitisasi program itu.

Menurut Anda, rekonsiliasi Hamas dan Fatah merupakan siasat politik Abbas lantaran posisinya terpojok?

Kenyataan yang terjadi setelah Perang Gaza memaksa Abbas atau pun selain Abbas untuk mau menerima perundingan dengan tokoh perlawanan. Posisi-posisi tawar untuk melakukan diplomasi politik sudah tidak laku di Palestina. Yang laku adalah perlawanan. Karena itu, mau tidak mau juga harus ditempuh oleh siapapun yang berkuasa di Palestina. Jadi sekarang melawan lebih baik ketimbang berdiplomasi untuk menyelesaikan persoalan Palestina.

Pemilihan parlemen dijadwalkan awal tahun depan. Apakah Anda yakin hamas bisa kembali menang?
Saya yakin sekali. Kalau pada pemilu 2006 lalu kita meraih 60 persen suara, pada pemilu mendatang kami akan memperoleh lebih dari 70 persen.

Apakah Anda yakin di bawah kepemimpinan Barack Hussein Obama, Amerika akan mengubah kebijakannya atas konflik Palestina dan Israel?

Politik Amerika dalam masalah Timur Tengah secara umum tidak akan berubah, baik Bush (mantan presiden George Walker Bush) atau Obama sama saja. Kami melihat memang ada sedikit perbedaan kebaikan, namun kami berharap janji-jani Obama itu dapat diwujudkan sehingga bisa terbangun komunikasi lebih baik. Tapi sulit bagi Amerika mengubah kebijakan-kebijakan polttik yang selama ini sudah mereka jalankan terhadap dunia Islam.

Netanyahu yang bakal memimpin Israel sudah berjanji melenyapkan Gaza. Apakah Hamas siap menghadapi agresi negara Zionis itu berikutnya?
Sejak dulu Olmert (Perdana Menteri Ehud Olmert), Livni (Ketua Partai Kadima Tzipi Livni), dan Netanyahu (Benjamin Netanyahu) tidak ada bedanya. Mereka sama-sama tidak mengakui keberadaan Palestina dan tidak pernah membuat kebijakan yang pro-rakyat Palestina. Mereka terus memperluas permukiman-permukiman warga Yahudi di Tepi Barat, menangkap, dan membunuhi rakyat Palestina. Memang Netanyahu dikenal keras dalam menyikapi perjuangan rakyat Palestina. Artinya bakal ada tindakan-tindakan yang lebih keras terhadap bangsa Palestina selama kepemimpinan Netanyahu nantinya.

Soal pertukaran tahanan dengan Israel, apa syarat yang diminta Hamas untuk membebaskan Kopral Gilad Shalit?
Sesungguhnya Israel sudah mengetahui syarat-syarat yang diinginkan pejuang Palestina supaya mereka dapat membebaskan Gilad Shalit. Namun persoalan ini terus diperpanjang karena mereka tidak mampu memenuhi tuntutan pejuang Palestina yang ingin menukar Gilad Shalit dengan seluruh tahanan Palestina di penjara-penjara Israel. Saat ini terdapat sekitar 11 ribu warga Palestina yang ditawan. Kita ketahui Gilad Shalit diculik saat ia menyerang, jadi ia memang orang yang memang layak kami tangkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s