Derita Gaza, Murka Pemuda

Makin banyak pemuda di Gaza yang ingin bergabung dengan Hamas atau Jihad Islam.

Pejuang Hamas

Militer Israel boleh saja menghancurkan rumah, masjid, sekolah, dan bangunan lainnya di Jalur Gaza. Namun negara Zionis itu tidak mampu melenyapkan semangat perlawanan rakyat Palestina.

Kondisi itulah yang kini berlangsung setelah agresi selama 22 hari sejak 27 Desember tahun lalu. Makin banyak pemuda Palestina yang berniat berjuang. Selain frustasi terhadap kondisi di Gaza, mereka juga ingin membalas kebiadaban Israel.

Serbuan besar-besaran yang berakhir 18 Januari lalu menewaskan lebih dari 1.300 orang, setengahnya anak-anak dan wanita. Sekitar 4.100 rumah hancur dan 17.000 lainnya rusak. Gaza luluh lantak dan diperlukan paling sedikit US$ 2,8 miliar atau Rp 3,36 triliun untuk membangun wilayah yang dihuni sekitar 1,5 juta penduduk itu.

Ahmad al-Khatib, 21 tahun , mengaku sangat kecewa lantaran tidak dapat lagi melanjutkan kuliahnya. Seluruh dokumen yang dibutuhkan hilang bersama rumah keluarganya yang hancur menjadi puing-puing. “Saya biasanya menjauhi kegiatan militer. Saya kadang takut mati, tapi kini prinsip saya berubah,” katanya dengan tatapan kosong.

Lain halnya dengan Muhammad al-Mukayad, 22 tahun. Ia dendam terhadap Israel karena menyaksikan tiga anak yang sedang bermain di jalan tewas oleh rudal jet tempur negara Yahudi itu. Peristiwa berlangsung beberapa meter dari hadapannya. “Saya ingin menolong tapi tidak bisa. Jadi saya berfikir bergabung dengan sbeuah kelompok,” ujar mahasiswa jurusan ilmu olah raga ini tanpa menyebutkan nama organisasi yang dimaksud.

Menurut Rabah Muhana, pemimpin politik dari Barisan Rakyat bagi Pembebasan Palestina (PFLP), pihaknya kebanjiran relawan baru yang ingin menjadi pengebom bunuh diri pasca Perang Gaza. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda yang kehilangan keluarga, rumah, atau melihat dua hal itu menimpa orang lain.

Dr Iyad Sarraj memperingatkan jika tidak ada perbaikan situasi di Gaza akan muncul sebuah generasi baru yang jauh lebih militant ketimbang para pendahulu mereka. Mereka mempunyai identitas sebagai lelaki Arab yang macho dan kuat… memperlihatkan kesakitan adalaha kelemahan,” kata psikiater yang berpraktek di Gaza selama 30 tahun ini.

Blokade Israel sejak pertengahan Juni 2007 telah menimbulkan trauma dan krisis kemanusiaan. Para pemuda yang tidak mempunyai pekerjaan pun tidak punya pilihan lain kecuali bergabung dengan Hamas atau Jihad Islam yang berbasis di sana.

Alhasil, penderitaan di Gaza hanya akan melahirkan pejuang-pejuang baru yang siap mengorbankan nyawa menghadapi tentara Zionis.

BBC/Faisal Assegaf

.

One thought on “Derita Gaza, Murka Pemuda

  1. mantab..i like it,…asal jngan di gunakan untk hal2 yg mengundang murka ALLAH…hancurkan setan zionit bengis n kejam itu dg akhlak karimah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s