Agen Intelijen Kesepian

Livni sempat berpacaran selama menjadi anggota Mossad.

Tzipi Livni dan Ehud Barak

Sebagai perempuan muda, ia seharusnya hidup bersenang-senang. Apalagi ia tinggal di Ibu Kota Paris, Prancis. Namun, gadis 22 tahun itu memilih jalan sebaliknya. Menutup diri dan penuh dengan rahasia.

Itulah sejarah hidup Ketua Partai Kadima Tzipi Livni semasa menjadi agen Mossad pada tahun 1980-an. Hasil wawancara yang berlangsung 14 tahun lalu baru dilansir secara lengkap oleh surat kabar Israel, Yediot Ahronot, dua pekan lalu. Koran paling laris di negara Yahudi itu merupakan pendukung Livni selama pemilihan parlemen 10 Februari.

Livni yang ketika itu berusia 22 tahun bekerja sebagai agen Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Gadis dengan kode “L” ini merupakan anggota Bayonet, unit paling elite dalam Mossad yang bertugas sebagai pembunuh. Pada 1982, ia menjalankan misi rahasia di kota mode Paris, ketika ketegangan antara Israel dan Libanon sedang meningkat. Di kota ini pula banyak hidup para pejuang Palestina.

Bagi L, bekerja sebagai agen rahasia ibarat hidup dalam dua dunia. Ia mesti menjalani kehidupan normal saban hari namun mesti mengunci rapat identitas dirinya dari orang lain, bahkan dengan keluarga terdekat. Ayahnya, Eitan Livni, yang mengunjungi ia di Paris sempat heran lantaran tidak pernah melihat putrinya ke kantor.

Tapi L menikmati profesinya itu. “Anda dipenuhi adrenalin sepanjang waktu namun saya kehilangan semua spontanitas saya. Anda harus selalu fokus dan penuh perhitungan,” katanya.

Sarjana hukum dari Universitas Bar Ilan, Tel Aviv, ini pun tidak ragu membunuh atas nama tugas negara. Ia mengaku belum pernah menggunakan seks untuk mencapai tujuan misinya. “Tapi jika saya diminta untuk melakukan itu, saya tidak tahu apa yang akan saya katakan,” ujar L.

Namanya juga gadis normal. L pun tidak dapat menyembunyikan hasrat seksualnya. Ia merasa kesepian hidup di Paris yang dikenal sebagai kota romantis. Hanya saja ia sadar tidak bisa membina hubungan serius yang memerlukan kejujuran. Meski begitu ia sempat berpacaran meski hanya sebentar. “Seperti memaksa diri Anda tidak mabuk agar bisa mengontrol lisan,” katanya.

L pun keluar dari Mossad pada 1984 setelah bergabung selama empat tahun. Ia menikah dan telah dikaruniai dua putra, Omri dan Yuval. Pada 1996, ia mulai terjun ke politik melalui Partai Likud yang berhaluan keras. Ia juga ikut pindah ke Kadima saat mantan perdana Ariel Sharon mendirikan partai baru itu.

Karirnya terus meroket hingga menduduki kursi ketua setelah Ehud Olmert mundur karena dugaan korupsi. Namun Livni dua kali gagal menjadi perdana menteri karena tidak bisa membentuk koalisi dan tidak memenangkan pemilu dengan suara mayoritas. Ia pun menolak pinangan Benjamin Netanyahu dan memilih menjadi oposisi.

First Post/Times Online/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s