Resah karena Bibi

Banyak pihak khawatir jika Netanyahu memimpin.

Benjamin Netanyahu dan Barack Hussein Obama

Lakon ini terjadi di Hotel Raja David, Yerusalem, pada musim panas tahun lalu. Pemimpin Partai Likud Benjamin Netanyahu bertemu Barak Hussein Obama yang saat itu masih kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat.

Ketika pertemuan berakhir, Obama menarik lengan Netanyahu ke pojok ruangan, menjauhi para pembantu mereka. “Anda  dan saya memiliki banyak kesamaan,” kata Obama seperti dikutip Netanyahu. “Saya memulai dari kiri bergerak ke tengah. Anda mengawali dari kanan kea rah tengah. Kita berdua pragmatis yang ingin semuanya berjalan.”

Netanyahu yang akrab dipanggil Bibi sejak kecil menceritakan kisah itu dengan bangga dalam acara jumpa pers di kediaman resmi Presiden Israel Shimon Peres, Jumat pekan lalu. Ia diberi waktu enam pekan untuk membentuk pemerintahan baru pasca pemilihan parlemen 10 Februari.

Sejatinya, Likud hanya di posisi kedua, kalah satu suara dari Partai Kadima yang dipimpin oleh Tzipi Livni yang kini Menteri Luar Negeri. Namun Bibi berhasil mematahkan peluang Livni menjadi perdana menteri perempuan kedua setelah Golda Meir setelah mendapat dukungan dari Ketua Partai Yisrael Beitenu Avigdor Lieberman yang beraliran ultranasionalis dan Partai Shas yang ultrareligius.

Bibi ingin menunjukkan ia seorang pragmatis dengan berupaya menggandeng Livni dan Ketua Partai Buruh sekaligus Menteri Pertahanan Ehud Barak dalam koalisinya. “Mari bersatu mengamankan masa depan negara Israel. Saya serukan kepada seluruh anggota faksi …untuk mengesampingkan politik dan menempatkan kepentingan bangsa sebagai prioritas,” katanya.

Namun sejauh ini rayuan itu tidak mempan. Livni dan Barak memilih menjadi oposisi. “Saya ingin memimpin Israel dengan cara yang saya percaya, untuk memajukan proses perdamaian berdasarkan prinsip dua negara bagi dua bangsa. Sebuah koalisi luas tidak berguna jika tidak mengakui prinsip itu,” Livni menegaskan.

Keduanya memang pantas menolak pinangan politikus berusia 59 tahun itu. Ia dikenal menentang berdirinya negara Palestina dan lebih suka memajukan perekonomian di Tepi Barat. Ia juga mendorong perluasan permukiman  Yahudi di wilayah itu. Ia juga menolak Perjanjian Oslo 1993 dan mundur dari jabatannya sebagai menteri keuangan pada 2005 setelah Perdana Menteri Ehud Olmert secara sepihak menarik tentara dan pemukim Yahudi dari Jalur Gaza.

Anggota koalisinya juga tak kalah galak. Lieberman mundur dari rezim Olmert pada Januari tahun lalu setelah status Yerusalem masuk dalam agenda perundingan dengan Palestina. Ia juga dikenal rasis karena selama kampanye menyerukan pengusiran warga Israel keturunan Arab jika nanti ada negara Palestina. Partai Persatuan Nasional bahkan masih berharap Israel Raya yang mencakup seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza dapat diwujudkan.

Mesir juga merasa resah dengan munculnya Bibi sebagai pemimpin baru Israel. Apalagi dialog gencatan senjata yang ditengahi Mesir mandek setelah kabinet keamanan negara Zionis itu memutuskan memasukkan pembebasan Kopral Gilad Shalit sebagai syarat kesepakatan. Hamas menolak syarat itu karena menganggap kasus Shalit yang ditawan sejak 12 Juni 2006 sebagai isu terpisah. Gencatan jangka panjang sangat diperlukan setelah Israel menyerbu Gaza selama 22 hari sejak 27 Desember tahun lalu.

Kedua negara pernah bersitegang saat Bibi menjabat pertama kali pada 1996-1999. Ia menjadi perdana menteri paling muda dalam sejarah Israel yang terpilih lewat pemilihan langsung pertama pula. “Kami berharap ia telah berubah dan ia akan membentuk pemerintahan persatuan nasional,” kata Muhammad Bassiuni, mantan duta besar Mesir untuk Israel kepada AFP.

Amerika Serikat yang selama ini merupakan sekutu sejati Israel pun punya harapan serupa. “Kami akan bekerja dengan pemerintahan Israel mendatang, bagaimanan pun bentuknya dan kami akan bekerja sama soal isu bilateral dan kawasan,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri Gordon Duguid.

Dunia masih menunggu apakah Bibi siap melanjutkan proses damai yang sudah bergulir sejak konferensi perdamaian di Annapolis, Maryland, Amerika, pada November 2007. Ataukan ia masih meresahkan seperti masa kepemimpinan pertamanya.

Yang pasti, Bibi tetap garang dalam dunia politik internasional. Ia bahkan sudah memperingatkan Iran sebagai ancaman nyata bagi keberadaan negara Zionis itu. Boleh jadi perang baru kembali muncul karena dalam kampanyenya, ia menjanjikan melenyapkan Hamas yang berkuasa di Gaza sejak pertengahan Juni 2007.

AFP/Independent/New York Times/Times Online/Washington Post/FaisalAssegaf

Kebijakan Empat Partai Besar

1 Likud
– Israel akan berfokus membantu peningkatan ekonomi di Tepi Barat.
– Tidak mengakui hak kembali pengungsi Palestina ek Israel.
– Yerusalem ibu kota abadi Israel yang tidak bisa dibagi.
– Menolak pembentukan negara Palestina.
– Mempertahankan permukiman Yahudi di Tepi Barat.

2 Kadima
– Mendukung pembentukan negara Palestina yang mencakup Jalur Gaza dan Tepi Barat.
– Negara Palestina nantinya tanpa kekuatan militer.
– Yerusalem ibu kota abadi Israel yang tidak bisa dibagi.
– Tidak mengakui hak kembali pengungsi Palestina ke Israel.
– Mempertahankan permukiman Yahudi di Tepi Barat.

3 Yisrael Beitenu
– Mendukung pembentukan negara Palestina dengan wilayah hanya Tepi Barat.
– Tetap mengisolasi Jalur Gaza yang dikuasai Hamas.
– Mengusir warga Arab dari Israel yang menolak bersumpah setia.
– Mempertahankan permukiman Yahudi di Tepi Barat.
– Tidak mengakui hak kembali pengungsi Palestina ke Israel.
– Yerusalem ibu kota abadi Israel yang tidak bisa dibagi.

4 Buruh
– Mendukung pembentukan negara Palestina dengan wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza.
– Mempertahankan permukiman Yahudi di Tepi Barat.
– Menolak hak kembali pengungsi Palestina ke Israel.
– Yerusalem ibu kota abadi Israel yang tidak bisa dibagi.

AFP/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s