Serdadu Perantau dari Swedia

Fredrik siap berkorban nyawa untuk Israel.

Serdadu dari Birgade Infanteri Golani

Sembilan tahun lalu ia hanya orang asing dan datang ke Israel sebagai pelancong. Namun lelaki yang sekarang berusia 29 tahun ini langsung kecantol terhadap negara Yahudi itu pada pandangan pertama saat mendarat di Bandar Udara Ben Gurion, Tel Aviv.

“Saya melangkah keluar dari pesawat, memandang sekeliling dan merasakan ini adalah negeri yang saya siap mati untuknya,” kata Fredrik. Ungkapan itu bukan luapan emosi sesaat. Pemuda asal Swedia ini membuktikan kata-katanya, meninggalkan karirnya sebagai pastor muda dari Kristen Pantekosta dan kembali ke Israel.

Kini Fredrik sudah menjadi tentara Israel di Batalion Infanteri ke-51 Brigade Golani. Bahkan, ia sempat menjadi anggota Unit Pengintaian Egoz, kesatuan paling elite dalam militer negara Zionis itu. Seorang rekannya memuji kualitas Fredrik sebagai prajurit. “Tiap komandan pasti ingin mempunyai prajurit seperti dia dalam unitnya, seseorang yang memberikan segalanya dan tidak pernah mengeluh.”

Putra seorang pastor di Swedia ini kini ditempatkan di barak tentara cadangan di selatan Israel. Jaraknya hanya beberapa kilometer dari perbatasan Jalur Gaza. Ia harus siap diterjunkan ke medan tempur jika gencatan senjata sepihak yang diumumkan Israel pada 18 Januari lalu itu dinyatakan habis. Pengumuman ini keluar setelah Israel menyerbu Gaza selama 22 hari yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, setengahnya anak-anak dan wanita.

Fredrik datang lagi ke Israel pada 2001. Ia tidak sekadar ingin menetap tapi ingin mengabdikan dirinya buat negara Bintang Daud itu. Ia mencoba selama beberapa tahun sebelum dapat bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) setelah memperoleh izinn tinggal tetap sebagai syarat utama. Sebelumnya, ia ikut program relawan militer bernama Sar-El selama 1,5 tahun.

Perubahan sikapnya sangat dramatis. Di Swedia, ia dikenal pecinta damai. Ia berubah setelah pada lawatan pertamanya menyaksikan aksi bom bunuh diri oleh seorang Palestina yang menewaskan 21 orang. Insiden itu terjadi di sebuah diskotek di Tel Aviv. “Saya sadar ada situasi-situasi ketika seseorang butuh senjata untuk membela diri,” ujar Fredrik.

Demi keamanan keluarganya, ia tidak mau menyebut nama lengkap dan dipotret wajahnya. Yang pasti, Fredrik ingin membuktikan sumpahnya membela Israel hingga akhir hayat. “Saya hanya yakin Tuhan ingin negara Israel ada dan saya di sini untuk melindungi keberadaannya,” ia menegaskan.

Jerusalem Post/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s