Kisah Terbunuhnya Imad Mughniyah

Pembunuhan terjadi karena informasi kepergiannya bocor.

Imad Mughniyah

Semua bermula dari penangkapan Ali Musa Daqduq, pejabat urusan luar negeri Hizbullah, oleh tentara Irak di Kota Karbala pada Januari tahun lalu. Seperti dilaporkan oleh surat kabar Israel Yediot Ahronot pada Ahad pekan lalu, ia lantas diserahkan ke pasukan Amerika Serikat yang kemudian menginterogasi Daqduq.

Agen-agen intelijen Amerika (CIA) mencecar Daqduq dengan pertanyaan seputar komandan tentara Hizbullah Imad Mughniyah. Hasilnya, mereka memperoleh informasi lengkap soal buronan nomor satu  Amerika dan Israel itu, termasuk ciri fisik dan perilakunya, tempat tinggalnya di Ibu Kota Damaskus, Suriah, mobil, dan sejumlah nomor teleponnya.

Sejak itulah rencana pembunuhan terhadap orang nomor dua setelah Hassan Nasrallah itu disiapkan. Semua informasi yang diperoleh juga diberikan kepada Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Amerika dan negara Zionis memang sangat berkepentingan terhadap Mughniyah yang dihargai US$ 5 juta atau sekitar Rp 60 miliar dalam daftar teroris versi Amerika. Ia juga masuk incaran Uni Eropa.

Mughniyah diyakini terlibat dalam pengeboman barak marinir Amerika dan Kedutaan Besar Amerika di Ibu Kota Beirut, Libanon, pada 1983 yang menewaskan lebih dari 350 orang. Ia juga terkait penculikan sejumlah warga Amerika di negara itu. Ia juga menyerang Kedutaan Besar Israel di Ibu Kota Buenos Aires, Argentina.

Lelaki kelahiran Libanon ini merupakan tokoh intelijen senior dan juga pendiri Hizbullah. Nama samarannya Haji Radwan. Ia juga sering disebut Abu Dukhan karena sulit ditangkap. “Ia adalah salah satu teroris paling berbahaya yang pernah ada di muka bumi,” kata Danny Yatom, mantan direktur Mossad.

Nasib nahas menjemput ia pada 12 Februari 2008 lantaran satu kesalahan besar. Rencana menghadiri perayaan ulang tahun revolusi Islam Iran ke-29 di rumah duta besar Iran yang baru untuk Suriah bocor ke sejumlah orang. Satu tim Mossad mengintai kediamannya sehari sebelum pembunuhan terjadi. Termasuk menyadap seluruh saluran teleponnya. Tim itu masuk ke Suriah dari Kurdistan, Irak, berpencar dengan tiga mobil.

Seperti biasa, Mughniyah pergi sendirian tanpa kawalan anak buahnya. Ia sama sekali tidak sadar dikuntit. Ketika ia dalam resepsi, tim Mossad masuk ke dalam mobil Mitsubishi Pajero warna perak miliknya. Mereka menukar bantalan kepala di jok sopir. Bantalan baru itu bermuatan bahan peledak. Tepat pukul sebelas malam, Mughniyah masuk mobil hendak pulang. Saat itulah, bom diledakkan dengan alat pengendali jarak jauh. Pajero itu hancur berantakan dan Mughniyah wafat pada usia 46 tahun.

Ulama senior Libanon Muhammad Husain Fadlallah menyatakan Hizbulah kehilangan salah satu tiangnya. Nasrallah pun mengumumkan perang terbuka terhadap Israel. Namun hingga kini kematian Mughniyah belum terbalas.

Daily Star/Nahar/ Yediot Ahronot/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s