Golput untuk Gaza

Kebanyakan warga Arab akan memboikot pemilu Israel.

Poster calon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Saban kali pemilihan umum digelar di negara mana pun selalu saja ada orang yang menolak mencoblos atau dikenal sebagai golongan putih. Alasannya selalu sama: tidak percaya pada kandidat yang ada.

Fenomena golput juga akan terjadi dalam pemilihan parlemen pada Selasa pekan depan. Kelompok ini berasal dari warga Israel keturunan Palestina yang kini jumlahnya seperlima dari sekitar 7,8 juta penduduk negara Zionis itu. Mereka merupakan keturunan dari 160.000 orang Palestina yang memilih tetap tinggal setelah negara Israel terbentuk pada 14 Mei 1948.

Alasan mereka sangatlah wajar. Para warga Arab ini kecewa dengan pemerintahan  Perdana Menteri Ehud Olmert yang telah menyerbu Jalur Gaza selama 22 hari sejak 27 Desember tahun lalu. Mereka juga pantas tidak percaya terhadap tiga calon kuat pemimpin mendatang, yakni Ketua Partai Likud Benjamin Netanyahu, Ketua Partai Kadima sekaligus Menteri Luar Negeri Tzipi Livni, dan Ketua Partai Buruh sekaligus Menteri Pertahanan Ehud Barak.

“Tiap dua tahun Israel berperang, anak-anak dan orang tak bedosa terbunuh… di Gaza, Libanon. Bagaimana mungkin saya ikut memilih?” kata Ihab Issa, 28 tahun dengan nada marah. Ia tengah duduk di dalam restorannya, Torkiy, di Kota Nazareth saat ditemui AFP Rabu lalu. Nazareth merupakan salah satu kota berpenduduk mayoritas Arab paling besar di kawasan Galilea.

Muhran Azab juga berprinsip sama. “Saya tidak mencoblos sebelumnya, jadi kenapa saya harus memilih sekarang?” ujar lelaki 24 tahun yang bekerja di kafe Aroma, pinggiran Kfar Qara, sebuah desa mayoritas Arab. Ia juga mengaku tidak mengenal orang-orang Arab yang duduk di Knesset (parlemen Israel)

Ketua Partai Arab Bersatu Syekh Ibrahim Sarsur menyerukan warga Arab memilih sebagai balasan terhadap Perang Gaza, upaya mengharamkan partai-partai Arab ikut pemilu, dan diskriminasi terhadap mereka. “Pemilu ini untuk balasa dendam, bukan dengan darah tapi lewat cara demokratis,” katanya.

Untung saja para ulama Arab di Israel tidak mengharamkan golput. Mereka sadar hanya itu satu-satunya senjata memprotes kesewenangan kaum Yahudi.

AFP/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s