PBB Baru Demi Palestina

Oleh Faisal Assegaf, Wartawan Tempo

Israel kembali menyombongkan kekejaman mereka terhadap rakyat Palestina karena memang hanya mereka sendiri yang mampu menghentikan serangan biadab itu. Dunia pun lagi-lagi hanya bisa mengutuk atau mengecam tanpa dapat menghentikan apalagi mencegah serbuan itu terjadi.

Sejak 27 Desember lalu, mesin-mesin perang Israel kembali menyuguhkan pemandangan tragis, dramatis, dan menyayat hati. Hanya dalam empat hari, gempuran negara Zionis itu telah meluluhlantakkan Jalur Gaza yang dikuasai kelompok Hamas, membunuh lebih dari 400 orang yang kebanyakan perempuan dan anak-anak, serta mencederai sedikitnya 2.000 lainnya.

Bagai menonton sebuah film perang yang menarik, gempuran jet-jet tempur negara Zionis itu mampu memancing emosi penonton dari seluruh jagat, tanpa kecuali dunia Arab dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Tangis dan senyum pahit mereka bercampur marah dan rasa dendam. Semua itu akan terus berulang saban kali militer Israel bertindak terhadap penduduk Palestina.

Sikap semacam ini sungguh memalukan. Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mewakili masyarakat internasional juga tidak berdaya. Ibarat perempuan, wajah PBB sudah tidak lagi sedap dipandang. Penuh parut dan bopeng karena begitu banyak kegagalan dalam menyelesaikan persoalan Palestina.

PBB gagal membantu pendirian negara Palestina seperti diamanatkan Resolusi Majelis Umum nomor 181 pada 29 November 1947. Resolusi ini membagi dua wilayah mandat Inggris, untuk kaum Yahudi dan warga Arab. Yang terjadi, kelompok Zionis yang dipimpin oleh David Ben Gurion, perdana menteri pertama, mendeklarasikan kemerdekaan Israel pada 14 Mei 1948, persis ketika mandat Inggris berakhir.

Amerika Serikat malamnya langsung mengakui kemerdekaan Israel diikuti Uni Soviet tiga hari kemudian. Berdirinya negara Israel mengakibatkan sekitar 700.000 warga Palestina terpaksa mengungsi atau diusir oleh tentara Israel dari tanah kelahiran mereka. Ini dikenal sebagai peristiwa Naqbah.

Lembaga dunia yang seharusnya berpengaruh dan disegani itu juga tidak mampu mencegah Perang Enam Hari 1967 yang akibatnya wilayah Israel makin luas. Mereka berhasil merebut Tepi Barat dan Jalur Gaza dari Yordania, Dataran Tinggi Golan milik Suriah, serta Gurun Sinai kepunyaan Mesir. PBB juga diam saat Israel menetapkan Yerusalem sebagai bu kota abadi mereka yang tidak dapat dibagi dua dengan Palestina. Padahal kota suci tiga agama – Islam, Yahudi, dan Nasrani – itu sudah dinyatakan di bawah kontrol PBB.

PBB pun tidak berupaya mencegah kampanye kotor Amerika Serikat dan Israel untuk tidak mengakui kemenangan Hamas pada pemilihan umum 25 Januari 2006. Mereka mencap organisasi antiIsrael itu sebagai kelompok teroris. Kedua negara itu memprovokasi Fatah yang dipimpin oleh Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas sehingga pecah bentrokan di antara kedua faksi. Puncaknya, pemerintahan persatuan nasional yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Haniyah dari Hamas bubar. Palestina terbelah, Hamas menguasai Jalur Gaza dan Fatah mengontrol Tepi Barat.

Israel bahkan mengisolasi Gaza yang berpenduduk sekitar 1,5 juta. Perbatasan darat, laut, dan udara ditutup sehingga lalu-lintas orang, barang, dan jasa sangat terbatas. Pasokan bahan makanan, obat-obatan, air, listrik, dan material lainnya menipis. Alhasil, krisis kemanusiaan meletup di Gaza. PBB juga tidak berkutik menghadapi pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat.

Impotensi PBB ini lantaran struktur dan aturan main yang tidak adil. Sejak berdiri pada 24 Oktober 1945, organisasi ini jelas hanya menguntungkan lima anggota tetap Dewan Keamanan yang mempunyai hak veto, yakni Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, dan Cina. Hak istimewa ini membuat kelima negara berkekuatan nuklir itu dapat membatalkan sebuah resolusi yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingan nasional mereka. Hingga kini, Rusia sudah 123 kali menggunakan hak veto, disusul Amerika (82), Inggris (32), Prancis (18), dan Cina (6).

Jangan berharap akan ada wakil dari lima negara itu yang menjadi sekretaris umum PBB karena posisi itu tak ubahnya boneka bagi mereka. Semua kandidat yang ditetapkan dalam sidang Majelis Umum harus memperoleh restu kelima anggota tetap itu. Bayangkan saja, betapa memalukan jika sekretaris umum PBB dari Amerika tidak berani mengutuk agresi militer Israel terhadap rakyat Palestina.

Namun sungguh ironis. Negara-negara Arab dan muslim masih mengandalkan PBB untuk menyelesaikan konflik Palestina. Ini pantas disebut sebagai kebodohan karena mereka terus ,mempercayai sistem yang telah berkali-kali terbukti gagal. Herannya, mereka juga tidak merasa malu meski Israel sudah menginjak-injak martabat mereka lantaran tidak menghormati prinsip hak asasi yang dianut oleh PBB.

Jika benar-benar ingin melihat negara Palestina berdiri mereka harus berani menuntut perubahan segera terhadap struktur PBB yang sekarang. Pilihannya hanya dua: menghapus hak veto atau meminta satu jatah anggota tetap Dewan Keamanan dengan hak veto bagi negara Arab atau muslim. Lima anggota tetap saat ini seperti perwakilan agama besar di dunia. Bersama Inggris, Prancis, dan Rusia, selain mewakili komunitas Nasrani, Amerika merepresentasikan kepentingan Yahudi. Sedangkan Cina mewakili agama Budha. Belum ada wakil dari Islam dan Hindu.

Tentu saja lima sekawan itu bakal menolak dua usulan ini. Karena itu, negara-negara Arab dan muslim harus keluar dari PBB dan membentuk blok baru yang berani bersikap tegas terhadap Israel, Amerika, dan para sekutunya. Bukan seperti Organisasi Konferensi Islam yang juga tidak bertaji.

Dimuat di Koran Tempo, 21 Januari 2009

5 thoughts on “PBB Baru Demi Palestina

  1. Hammas adalah organisasi teroris yang berbahaya bagi perdamain dunia, juga bagi palestina sendiri. Hammas hanyalah organisasi teroris pengecut yang hanya bisa bersembunyi di belakang perempuan dan anak-anak Palestina…
    Saudara-saudara saatnya kita mendukung Israel dalam perang melawan Teroris Hammas, karena Hammas hanyalah perusak bagi Palestina dan juga Merusak Islam.. maka dari itu, sudah seharusnya kita mendukung Isarel… karena hanya Israel yang bisa memberikn kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Palestina yang pro Israel…
    Hidup Israel
    Hidup Palestina without Hammas…

    Allah Bless Israel Now & Forever …

  2. Salam Olmert

    Tapi Anda harus ingat Hamas memenangkan pemilihan parlemen pada 25 Januari 2006. Tapi Amerika Serikat dan Israel yang mengaku negara demokratis tidak mengakui kemenangan Hamas. Perdamaian baru bisa tercipta jika Israel mundur dari semua wilayah yang direbut setelah Perang Enam Hari 1967.

    Anda lancar berbahasa Indonesia. Kalau boleh tahu siapa nama Anda dan tinggal di kota mana di Israel?

  3. EHUD OLMERT gadungan tuh..
    Memangnya Ehud Olmert nyembah ALLAH?
    Mudah2an ALLAH memberikan hidayahNya padamu Olmert, sehingga tersentuh hati nuranimu untuk memeluk Islam dan bergabung Hamas meraih kemerdekaan Palestina atas jajahan bangsamu yang tidak kenal kata ‘damai’ itu
    Innalloha ma ashshobirin.
    Freedom for Palestine and Al Quds..
    ALLAHU AKBAR..

  4. EHUD OLMERT.,.,!!!LU NGRTIK 1 HURUF AJA UDAH DOSANYA 1000 TAHUN TU TULISAN LOE.,,,,.ANJING LAKNAT LOEEE.,,.,,..,

    PENGEN IKUT KAUM ZIONIS YANG UDAH PUNYA TIKE KE NERAKAAA.,,,.
    DAFTARIN AJA SANA DI ISRAEL!!!!

  5. EHUD OLMERT.,.,!!!LU NGETIK 1 HURUF AJA UDAH DOSANYA 1000 TAHUN TU TULISAN LOE.,,,,.ANJING LAKNAT LOEEE.,,.,,..,

    PENGEN IKUT KAUM ZIONIS YANG UDAH PUNYA TIKE KE NERAKAAA.,,,.
    DAFTARIN AJA SANA DI ISRAEL!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s