Susah Mayat Cari Selamat

Kebanyakan korban tewas di Kota Gaza dikubur dalam satu liang karena sulit mencari areal pekuburan baru.

Ribuan warga Gaza mengantarkan korban tewas ke pemakaman

Dengan luas wilayah sekitar 150 kilometer persegi, sekitar 1,5 juta penduduk Jalur Gaza sudah kesulitan mencari tempat untuk pekuburan. Apalagi, sejak agresi militer Israel pada 27 Desember lalu. Rasanya, tiap jengkal tanah di sana tidak aman.

Hingga haris ke-22 kemarin, korban tewas sekitar 1.200 orang, setengahnya adalah anak-anak dan wanita. Gempuran hebat mesin-mesin perang negara Zionis itu membuat warga Gaza tidak dapat mencapai kompleks Pemakaman Syuhada, satu-satunya areal yang masih bisa menampung penghuni baru.

Alhasil, kompleks pekuburan di seantero Gaza yang sudah ditutup dibuka kembali. Jenazah-jenazah baru menghuni liang yang sama dengan warga lama. Misalnya, sebuah keluarga menguburkan putranya di atas tulang-tulang kakeknya, tiga saudara sepupu ditumpuk di atas kubur bibinya, dan seorang pria dimakamkan satu lubang dengan kakaknya.

“Seluruh Gaza sekarang seperti kompleks pemakaman,” kata penggali kubur bernama Salman Umar seraya mengayunkan paculnya untuk membuat kubur baru di kompleks Syekh Radwan, Kota Gaza, Selasa lalu. Ia mengusir hawa musim dingin dengan menghisap sebatang rokok.

Pria 24 tahun ini pernah menguburkan seorang anggota polisi satu liang dengan ibunya, tiga bersaudara dalam satu lubang, dan anak-anak dengan bu mereka. “Jangan tanya macam-macam yang penting ada sebuah tempat dan kuburkan mereka,” ujar Salman.

Tak jauh dari Salman, beberapa lelaki sedang menggali lagi kubur kakek mereka. Penghuni liang akan bertambah satu dengan saudara mereka, Muhammad Abu Laila, anggota Hamas yang terbunuh akibat serangan Israel. Ketika penggalian sedang berlangsung, mereka menengadah ke atas saat sebuah jet tempur Israel dengan suara amat bising lewat.

Serangan maraton Israel juga tidak memberi kesempatan warga Gaza menggali kuburan baru. Seperti yang dialami keluarga dari klan Samuni. Mereka buru-buru memakamkan ketiga anaknya seliang dengan bibinya yang sudah meninggal duluan karena ditembaki.

“Kami menguruburkan mereka secepatnya karena takut bakal kena serangan,” ujar ujar Iyad Samuni yang juga cedera kena pecahan bom. Lelaki 26 tahun itu kini dirawat di Rumah Sakit Al-Awda, Kota Gaza.

Dengan dalih dijadikan tempat penembakkan roket dan mortir oleh para pejuang Hamas, jet-jet tempur negara Yahudi itu pernah menembakkan rudal ke kawasan pemakaman Syekh Radwan. Ternyata bukan hanya warga masih hidup yang sulit mencari tempat berlindung, mayat-mayat pun susah cari selamat di Gaza.

Los Angeles Times/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s