Perang Siasat di Jalur Gaza

Israel menangkapi banyak pemuda untuk mengorek informasi tentang Hamas.

Pertempuran di Kota Gaza

Pertempuran kota di Jalur Gaza antara tentara Israel dan pejuang Hamas tak ubahnya adu strategi di antara kedua pihak. Para pejabat intelijen Israel mengaku Hamas yang dilatih Iran telah menggunakan jaringan terowongan kota, jebakan, dan bom pinggir jalan.

Seperti cerita Ron Ben Yishai, wartawan surat kabar Yediot Ahronot yang menempel di pasukan Israel. Suatu hari, serdadu negara Zionis itu menemukan sebuah jebakan di aula sebuah bangunan permukiman di Zaitun, kota kecil di timur Kota Gaza.

Jebakan itu berupa sebuah boneka yang diletakkan di pintu masuk utama. Pejuang Hamas berharap satu regu tempur Israel mendekati boneka yang nantinya bakal diledakkan dengan penmgendali jarak jauh sehingga bangunan itu runtuh menimpa pasukan itu.

Lain waktu, sekelompok serdadu Israel melihat tumpukan senjata dengan roket peluncur granat di atasnya. Mereka lantaas memindahkan peluncur itu. “Mereka terkejut memandang sebuah detonator yang menyala, namun entah bagaimana tidak meledak,” kata Yishai.

Informasi intelijen juga menyebutkan senjata dan bahan peledak milik Hamas disembunyikan di dalam masjid, halaman sekolah, rumah-rumah penduduk. Direktur Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel) Yuval Diskin memastikan ruang rapat pimpinan Hamas adalah sebuan bunker di gedung nomor dua kompleks Rumah Sakit Syifa yang terbesar di seantero Gaza.

Karena itu jangan heran jika serangan udara Israel menghancrukan sekolah, masjid, rumah sakit, dan rumah-rumah warga sipil. Hingga hari ke-18 kemarin, lebih dari 900 orang, termasuk 300 anak-anak dan 100 kaum ibu tewas. Paling sedikit 4.000 lainnya cedera.

Negara Yahudi itu menuduh pejuang Hamas pengecut karena menyamar seperti warga sipil, termasuk polisi tanpa seragam. Kadang mereka muncul dari dalam terowongan dan menembaki serdadu Israel atau menembakkan rudal antitank, lalu bersembunyi lagi.

Menghadapi semua taktik itu, tiap serdadu Israel wajib menggunakan rompi anti peluru dan helm berbahan keramik. Tiap unit tempur memiliki anjing-anjing terlatih yang mampu melacak bahan peledak dan mengendus orang dalam terowongan. Mereka juga dilengkapi personel yang mampu menjinakkan bom atau ranjau.

Ketika memasuki bangunan, tentara Israel meledakkan bagian samping ketimbang masuk dari gerbang depan. Mereka juga menyisir tiap ruangan dan membunuh warga sipil bermantel tebal lantaran khawatir mereka pengebom bunuh diri dengan ikatan bahan peledak di pinggang.

Israel menggunakan bom berukuran kecil dengan berat 60-80 pound. Bahan peledak dengan nama GBU-39 ini cocok untuk pertempuran kota karena jangkauan ledaknya sempit namun mampu menebus bunker atau terowongan. Bom jenis ini baru dibeli dari Amerika Serikat.

Untuk menggali informasi lokasi persembunyan anggota dan para pemimpin Hamas, agen-agen intelijen Israel menelepon warga Gaza. Bahasa Arab mereka lancar dengan aksen Mesir, Arab Saudi, Yordania, atau Libya. Setelah menyatakan simpati mereka atas penderitaan warga Gaza dan menanyakan keadaan orang yang dihubungi, agen itu akan bertanya soal kondisi di lapangan, apakah keluarga itu mendukung Hamas atau ada pejuang Hamas yang bersembunyi di sekitar mereka.

Karim Abu Shaban, 21 tahun, pernah mendapat telepon semacam itu. “Awalnya sangat mendukung. Oh, semoga Allah menolong kamu, Allah bersama kamu,” kata warga Kota Gaza ini. Penelepon pertama beraksen Mesir. Lima menit berselang, penelepon beraksen Aljazair dan bertanya apakah Karim sudah tiba di Gaza. “Tidak, Tel Aviv,” ujarnya sambil menutup telepon.

Tapi Israel juga bermain kasar dengan menangkapi banyak pemuda Gaza untuk diperiksa soal pengetahuan mereka tentang Hamas dan taktik mereka. . Pekan lalu, mereka memperoleh peta buatan Hamas saat menggrebek sebuah rumah di Al Atatra, Bait Lahiya. Isinya soal pertahanan pejuang Hamas, jebakan bom,dan lokasi penembak jitu, dan jaringan terowongan.

Untuk menghindari warga sipil mereka menyebarklan selebaran sebelum membombardir sebuah wilayah. Kadang menembakkan bom suara untuk menakuti orang yang berdiri di atas atap bangunan.

New York Times/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s