Resah Ibu Seorang Serdadu

Paula selalu bangun saban dinihari untuk menelepon putranya di medan tempur.

Tentara Israel

Perang selalu membuat warga sipil menderita, terutama perempuan dan anak-anak. Di Jalur Gaza, kaum ibu amat ketakutan dengan keselamatan anaknya. Hingga hari kesepuluh, kemarin, agresi militer Israel telah menewaskan lebih dari 500 orang, sedikitnya 100 di antaranya perempuan dan anak-anak.

Kekhawatiran juga dirasakan oleh kalangan ibu di Israel yang anaknya ikut bertempur menghadapi kelompok pejuang Hamas. Ibu lima anak bernama Paula R. Stern ini tinggal di Maalih Adumim, kawasan permukiman Yahudi di sekitar Yerusalem Timur, Tepi Barat. Putra sulungnya, Elie, 20-an tahun, kini ikut dalam pasukan artileri.

Sejak itu, Paula selalu cemas, berharap anaknya tidak terkena tembakan mortir Hamas. Saban dini hari, ia bangun mencoba menghubungi telepon seluler anaknya. Ahad dini hari lalu, ia bangun pukul 2.30 atau 7.30 waktu Jakarta. Namun ia mendapati telepon Elie mati. Ia hanya meninggalkan pesan suara.

Hatinya makin galau karena terakhir kali berbicara dengan Elie pada Kamis malam lalu. “Ia bilang sudah di wilayah tempur,” kata Paula. Dengan gaya kekanakan, Elie menggoda ibunya dengan pesan pendek: “Fire….BOOMMMM.” Tapi Paula membalas dengan pesan penuh kasih sayang: “Ibu sayang kamu. Hati-hati dan telepon Ibu jika bisa. Kapan saja.”

Kabar yang ditunggu pun datang. Pada 2.31, telepon selulernya bernyanyi. Suara Elie terdengar kelelahan. Ia bercerita habis bertempur sejak sore dan mendapat istirahat beberapa jam sebelum beraksi kembali. Ia juga bilang kepada ibunya, telepon seluler seluruh serdadu dikumpulkan pada Jumat, sehari sebelum serangan darat berlangsung.

Di tengah percakapan, beberapa suara ledakan terdengar. “Itu bukan kami. Ibu akan tahu kalau bom itu mengenai kami,” ujar Elie mencoba menenangkan ibunya. Tetap saja tidak mempan. Paula kian gelisah lantaran suara ledakan makin banyak dan terdengar kian keras.

“Bagaimana kamu tidur dengan semua ini?” tanya Paula dengan nada gelisah. “Ima (Ibu), Saya lelah. Saya mau tidur,” jawab Elie mengakhiri perbincangan.

Paula berhasil menenangkan perasannya yang resah lantaran suara dentuman di medan tempur. Yang pasti, Ahad dinihari lalu, ia tahu, Elie dan ia dapat tidur setelah bertukar kabar. Paula juga seharusnya pantas tenang karena militer Israel jauh lebih kuat ketimbang Hamas.

Huliq News/Faisal Assegaf

4 thoughts on “Resah Ibu Seorang Serdadu

  1. You have 24 hours to remove my precious son’s picture from your filthy site. If you do not remove it, I will sue you for copyright infringements. Everything on my site is copyrighted and you are in violation. You can write what you want. But you do NOT have permission to use my son’s permission. Remove it or face an international lawsuit.

  2. Dear Mrs Paula,

    I am a journalist who works for Koran Tempo daily, Jakarta, Indonesia. U can see about me at English version.U can also ask about me with Amir Mizroch (editor at Jerusalem Post).

    Off course I have connection with Hamas professionally. They’re my news source not more than that. I choose my blog’s name hamaslovers just to attract people.

    If u would like to see mt newspaper u can visit http://www.epaper.korantempo.com or http://www.tempointeraktif.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s