Sikap Mendua Indonesia terhadap Israel

Oleh: Faisal Assegaf

Perang baru kembali meletus di Timur Tengah. Aktornya, Israel melawan Arab. Kali ini Israel menggempur Libanon dan Palestina. Perang ini sekali lagi membuktikan proses perdamaian yang belum bisa tercapai. Kalaupun ada kesepakatan yang ditandatangani antara Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, itu hanya bersifat sementara.

Kenyataan sejarah kembali berulang. Belum ada satu pihak pun yang bisa menjembatani perdamaian di antara pihak-pihak yang bertikai. Negara-negara Arab, seperti Mesir dan Yordania, yang selama ini mensponsori proses perundingan, cuma menghasilkan seremoni belaka. Mereka masih terkungkung kepentingan nasional masing-masing. Ini disebabkan oleh hegemoni Amerika Serikat – negara yang selalu mendukung Israel – di Timur Tengah membelenggu sangat kuat.

Sangat sulit melihat negara-negara Arab bersatu dalam panji Pan Arab seperti yang terjadi pada masa Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan Presiden Anwar Sadat. Padahal ketika terjadi Perang Arab-Israel pada 1973, negara-negara Arab sukses memberi tekanan melalui embargo minyak.

Jangankan Liga Arab atau Organisasi Konferensi Islam, Israel pun memandang sebelah mata terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa. Seperti biasa, PBB tidak dapat memainkan perannya. Setiap Dewan Keamanan akan mengambil sikap atau tindakan tegas terhadap agresi Israel, Amerika selalu menggunakan hak vetonya. Masyarakat internasional sama sekali tidak berdaya. Umat Islam di seluruh dunia cuma bisa mengutuk dan berdemonstrasi. Itu semua dianggap seperti sampah oleh Israel.

Demo dan simpati yang juga melanda Indonesia sama sekali tidak ada pengaruhnya. Seminar dan diskusi yang dilakukan berbagai organisasi atau partai politik Islam sekadar wacana untuk memenuhi isi otak saja.

Semangat menggebu-gebu untuk mengirimkan sukarelawan ke Palestina dan Libanon cuma sebatas mimpi. Tidak ada orang berduit yang mau mengongkosi dan membiayai semua pengeluaran. Selain itu, ini bukan perang tradisional, yang masing-masing pihak saling berhadapan dari jarak dekat.

Keinginan berjihad tentu akan berakhir dengan mati konyol. Meski beberapa di antaranya sudah terlatih, seperti di konflik Ambon dan Poso, keterampilan itu sama sekali tak berguna. Medan perang yanbg akan dihadapi sangat modern. Pertempuran berlangsung dalam jarak jauh dengan berbagai senjata mutakhir. Jadi sia-sia saja mengirimkan pejaung ke sana.

Jangan-jangan mereka cuma bisa terdiam atau bahkan merepotkan pihak berwenang di sana. Apalagi kalau sulit mencari tempat perlindungan dan makanan, bisa-bisa mereka malah ikut bergabung dengan pengungsi. Ada kemungkinan mereka menjadi bahan tertawaan lantaran hanya bisa mengigau akibat bunyi dentuman bom dan rudal yang tiada henti.

Yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah berperan secara aktif sebagai mediator dalam perundingan damai. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Jakarta harus terlibat langsung. Bukan hanya mengecam atau mengutuk.

Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sama sekali tidak mengutuk serangan yang juga telah menewaskan seorang tenaga kerja wanita Indonesia, Siti Maemunah, itu. Ibu satu anak asal Sukabumi, Jawa Barat, itu bersama majikannya asal Kuwait menjadi korban saat sedang berlibur di Kota Tyre, 27 Juli lalu. Padahal pemerintah seharusnya menuntut permohonan maaf dari Israel.

Sebenarnya pihak Israel sudah berulang kali menawarkan kepada pemerintah Indonesia posisi sebagai mediator, termasuk dalam pertemuan rahasia antara mantan Menteri Luar Negeri Israel Silvan Shalom dan Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di Kota New York, September tahun lalu. Namun dengan malu-malu kucing, Jakarta menolak lantaran syarat yang diajukan maha berat: Indonesia harus membuka hubungan diplomatik dengan negara Yahudi itu.

Ini sejatinya wajar saja. Bagaimana mungkin Indonesia mendamaikan dua pihak yang bertikai jika hanya berhubungan dengan satu pihak? Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Mark Regev, Indonesia sebagai negara muslim terbesar bisa berperan secara aktif dan Israel ingin membina hubungan dengan smeua negara muslim.

Jika yang dikhawatirkan reaksi keras dari umat Islam, lalu bagaimana dengan Mesir dan Yordania? Mereka sudah berpuluh tahun membina hubungan diplomatik dengan Israel. Namun masyarakatnya seperti diam saja. Indonesia juga tidak mengecam pembinaan hubungan itu dan tetap bekerja sama dengan kedua negara Arab itu. Kenyataannya, mantan Presiden Palestina Yasser Arafat dan Presiden Mahmud Abbas tetap berbaikan dengan Mesir dan Yordania. Mereka juga selalu hadir dalam perundingan yang disponsori kedua negara itu.

Kalau itu yang dikhawatirkan, pada kenyataannya sejumlah kalangan masyarakat sudah bermesraan dengan Israel. Bahkan Bahkan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid tersiar kabar sejumlah pemuda Nahdhatul Ulama dikirim belajar ke sana. Bahkan tahun lalu ada dua dokter yang mengikuti kursus singkat melalui beasiswa yang diberikan Mashav, sebuah program pembangunan internasional yang dikelola Kemnterian Luar Negeri Israel.

Pemerintah kelihatan seperti banci. Di satu sisi menolak hubungan dengan Israel, tapi di sisi lain mengizinkan delegasi Kamar Dagang dan Industri bertandang ke sana. Ini membuktikan hubungan bisnis di anatar pengusaha kedua negara sudah sangat erat. Padahal sebelumnya, tim tennis Indonesia dilarang bertanding dengan Israel.

Sikap mendua ini juga terlihat dalam hal menerima bantuan untuk korban bencana alam. Aparat berwenang menerima bantuan obat-obatan, makan cepat saji, gula, minyak goring, air minum, pakaian, dan tenda plastik seberat 75 ton setelah mengizinkan pesawat carteran jenis Boeing 747-200 mendarat di Bandar Udara Hang Nadim, Batam, 11 Januari 2005. Namun delegasi Israel tidak diizinkan turun dari pesawat.

Pihak Kedutaan Besar Indonesia di Bangkok juga memeberikan visa selama 10 hari kepada sebuah lembaga swadaya masyarakat Israel, Israeli Flying Aid, untuk melaksanakan misi kemanusiaan membantu korban gempa di Ypgyakarta. Padahal enam dari delapan anggota misi berpaspor Israel. LSM ini pun berhasil masuk ke lokasi bencana yang belum digapai bantuan di delapan desa di Kecamatan Wedi, Klaten. Jadi pemerintah masih harus membuktikan komitmennya melaksanakan politik luar negeri bebas aktif untuk memelihara perdamaian dunia tanpa menerapkan standar ganda.

Dimuat di Koran Tempo, 9 Agustus 2006

17 thoughts on “Sikap Mendua Indonesia terhadap Israel

  1. Terlalu berat syarat yang diminta oleh Israel itu. andaikata dia ingin Indonesia menjadi mediator, tidak usah dengan syarat itu juga tidak apa-apa, toh itu bisa diurus di Kedubes di Beirut, Amman atau di Kairo.
    Alasan bahwa Indonesia dengan membuka hubungan diplomatik dengan Israel dapat mendengarkan kedua belah pihak juga lemah, karena selama ini, Israel juga tidak pernah mengakui pemerintahan Palestina dan mendengarkan tuntutan pemerintah Palestina. Jadi sulit buat Indonesia untuk menjadi mediator bila Israel sendiri belum mengakui secara sah pemerintah Palestina. Jadi intinya Indonesia tidak mau di fait accomplie. Minimal Israel mau mengakui kemerdekaan Palestina yang pernah dideklarasikan oleh Yasser Arafat sebelumnya, baru Indonesia mungkin bisa menjadi mediator karena yang akan berhadapan adalah dua entitas negara yang berdiri secara sejajar. Gitu opini gue, sal.

  2. Dan ingat sal, kasus Mesir dan Yordania membuka hubungan diplomatik jelas sangat berbeda sekali, kalo mesir buka hubungan diplomatik dengan imbalan pengembalian Sinai, kalau Yordania karena pasukannya habis dibantai dalam perang enam hari, ribuan pasukan Yordania tewas saat bertempur di Yerusalem Timur. Tidak bisa sama, kecuali kalau faktor yang gue sebut sebelumnya sudah dijalankan.

  3. Jadi jangan pernah berharap Indonesia bisa berperan penting untuk memerdekakan Palestina.Selama ini yang dijalankan hanya pinggiran saja tanpa menyentuh inti masalah.

    • trus buat apa kita berperan penting… emang mreka juga berperan penting dlm kemerdekaan kita!!! ingat sejarah!! negara yg berperan dalam kmerdekaan kita adalah mesir, US, australi dll

  4. kuncinya adalah di negara Arab itu sendiri, Indonesia bisa menjalankan peran penting itu kalau Negara Arab sendiri sudah satu suara dalam memerdekakan Palestina. Analoginya Indonesia disuruh memadamkan sebuah rumah (palestina) yang terbakar, namun yang jadi masalah tetangga terdekat kiri-kanan rumah itu belum satu suara malah cenderung diam, sementara hanya Indonesia sebagai tetangga jauh yang diandalkan, ya nggak jalan.
    Minimal negara Arab itu juga harus dapat juga menekan Israel untuk mengakui kemerdekaan Palestina, karena itu faktor kuncinya, baru setelah itu masalah lain diurai.

  5. Israel pada kenyataannya adalah bangsa yang paling kuat didunia.ingat mana mungkin negara islam mampu melawannya lihat saja..Mesir,arab saudi,yordania yang malah jadi sekutu mereka…dan IRAN hanya bisa koar koar mo hapus israel dari peta dunia.MANAAAAAAA……

  6. harus dibedakan antara sikap masyarakat dan sikap pemimpin negara, seringkali bertolak belakang., masyarakat ingin kebenaran, pemimpinnya sebaliknya,.

    • pemerintah kita dah melakukan yg terbaik, dan rakyat mengapresiasi hal itu… ingat.. gak usah sok mencampuri urusan negri orang,, negri sendiri aja masih banyak masalah!!!

  7. aneh banget artikel diatas… siapa juga yang pengen jihad ke palestin, buang2 waktu aja.. kurang kerjaan, mending kita introspeksi diri aj, apa yg udah kita kerjain utk bangsa negara, diri sendiri, kluarga…. trus gunanya apa jihad2 gitu cman orang bego aja, mending mlakukan hal yg lebih berguna,, kerja dll..

  8. oh ya soal ambon n poso… masak dibilang ketrampilan??? bego!!! konflik ambon n poso adalah masa suram bangsa kita n hal yg gak perlu terjadi seandainya kita gak terlalu fanatik… kta smua saudara bro…

  9. soal bantuan dari israel… bukannya trima kasih ehh malah negative thinking gitu… kita harusnya bersyukur israel membantu kita, soal niatan mreka terserah lah ya.. yg penting mreka dah bantu rakyat yg sedang dalam keadaan emergency… lha elo, apa yg udah elo bantu????

  10. ” bkerja sama dlm hal kebaikan n manfaat blh n sah,” .Rosulullah SAW pun juga bkrjasam dg Yahudi( Yahudi suruh mngajari bhs Ibrani bg umat muslim wktu itu). so jd kerjasama g da maslh slama t7an n manfaatnya baik n sama2 mnguntungkan k2 belah pihak…..israel memang bngsa bengis n kejam, namun ada juga yg msh berhati nurani,Faham ZIONIS lah yg membuat israel di benci di dunia krn ulahnya(zionis)…. wallahu’alam..

  11. Indonesia lebih baik membuka hubungan diplomatik dengan Israel dan Palestina, ………
    Ibaratnya kalau mau mengobati penyakit yg diderita dari kedua negeri yg selalu bertikai ini, ya musti harus mendekat kepada keduanya, biar mengetahui obat yg paling cocok untuk mengobati penyakitnya, ……..
    Kalau cuma dengan jarak jauh saja bgmn bisa mengobati penyakitnya supaya bisa sembuh?…….
    Maka jadilah bangsa yg bijak dan berhikmah, agar bisa menjadi negara yg disegani dan diperhitungkan di dunia, ……. Amin YRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s