Jabat Tangan Terlarang

Rektor Universitas Al-Azhar didesak mundur karena bersalaman dengan Presiden Israel Shimon Peres.

Syekh Muhammad Sayyid Tantawi

Mengucapkan salam seraya berjabat tangan adalah hal lumrah di kalangan muslim. Namun kenbiasaan ini dapat menuai kecaman jika berlaku dengan pemimpin Israel. Apalagi, pelakunya seorang ulama yang disegani.

Itulah yang menimpa Syekh Muhammad Sayyid Tantawi, Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia bersalaman dengan Presiden Israel Shimon Peres dalam acara jamuan makan malam. Insiden itu terjadi bulan lalu pada konferensi antar agama yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat.

Sebenarnya, di acara itu juga hadir sejumlah pemimpin Arab, termasuk emir Kuwait dan Raja Abdullah dari Arab Saudi, Bahkan Abdullah menjadi pemimpin Saudi pertama yang berada di satu acara dengan pemimpin Israel.

Kontroversi meletup di Mesir setelah pekan lalu foto salaman kedua tokoh itu tersebar luas. Padahal bersama Yordania, Mesir merupakan dua negara Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara Zionis itu. Para pejabat Mesir juga sering bertemu Peres. Dua bulan lalu, Presiden Husni Mubarak menjamu Peres di Kairo.

Bukan sekadar kritikan dan kecaman. Media, termasuk surat kabar independent Al-Dustur, dan politisi Mesir menuntut Tantawi mundur dari jabatannya. Sejumlah akademisi mendesak ia diadili dengan tuduhan berkhianat. Yang lain meminta ia menyampaikan permohonan maaf. “Pertemuannya dengan Peres sebuah penghinaan bagi seluruh muslim,” kata anggota parlemen Mustafa Bakri.

Tantawi berusaha membela diri dengan mengatakan pertemuannya dengan Peres tidak disengaja. Ia bahkan mengaku tidak mengenal mantan menteri luar negeri Israel itu. “Saya menyalami siapapun yang mengulurkan tangan. Termasuk Shimon Peres yang tidak saya kenal, jadi saya menyalami dia seperti saya lakukan dengan yang lain,” ujarnya kepada koran Al-Masri al-Yaum.

Namun laporan versi media Israel menyebutkan Tantawilah yang menghampiri Peres. Keduanya berbincang beberapa menit tanpa melepaskan jabatan tangan. Kantor Peres membenarkan pertemuan itu berlangsung menyenangkan dan kedua tokoh berbicara sangat serius.

Untuk membersihkan namanya, Tantawi pada Jumat lalu mendesak Israel segera mengakhiri penjajahan terhadap Palestina. Ia juga menyerukan negara Yahudi itu mengakhiri blokade Jalur Gaza yang berlangsung sejak pertengahan Juni tahun lalu. Padahal, beberapa hari sebelumnya ia menyatakan tidak tahu soal isolasi itu.

Sejatinya, ini bukan kontroversi pertama Tantawi terkait Israel. Ia pernah bersalaman dengan mantan pemimpin rabbi, Yisrael Lau. Untung saja, ia tidak mengucapkan salam yang berarti mendoakan pemimpin Israel yang telah membunuh dan menyiksa rakyat Palestina selama 60 tahun.

BBC/Haaretz/Faisal Assegaf

2 thoughts on “Jabat Tangan Terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s