Korban Gusuran Israel

Fauziah al-Kurd kini tinggal di sebuah tenda, beberapa meter di depan rumahnya yang telah dirampas.

Fauziah al-Kurd di depan rumahnya sebelum digusur

Tragedi itu terjadi pada 9 November lalu, menjelang Subuh. Satu regu polisi Israel mendobrak pintu rumah keluarga Al-Kurd di kawasan Syekh Jarrah, Yerusalem Timur, Tepi Barat.

Penghuni rumah bangun dengan sangat terkejut. Namun jangankan mengemasi perabotan dan pakaian, polisi negara Zionis itu tidak membiarkan Muhammad al-Kurd, 55 tahun, dan istrinya Fauziah al-Kurd, 52 tahun, bersalin pakaian atau sekadar membasuh wajah.

Dengan kasar, mereka mendorong dua penghuni yang masih setengah sadar lantaran bangun dari tidur lelap dengan tiba-tiba. Alhasil, sungguh memilukan. Muhammad yang berkursi roda dan Fauziah keluar dari rumah yang sudah mereka tinggali selama 52 tahun hanya dengan baju tidur.

Fauziah sangat sakit hati dengan pengusiran itu. Apalagi kondisi suaminya amat mengenaskan. Lumpuh sebelah dan menderita jantung, batu ginjal, diabetes, serta tekanan darah tinggi. “Saya tidak akan pernah memaafkan Israel atas apa yang telah mereka lakukan terhadap saya dan suami saya yang sakit, menendang kami keluar dari rumah pada pagi buta. Saya mungkin memaafkan perbuatan lain mereka, tapi tidak untuk hal ini,” katanya dengan geram.

Insiden ini mengakhiri perlawanan keluarga Kurd selama satu dekade. Mahkamah Agung Israel pada Juli lalu memutuskan mereka tinggal secara tidak sah di sana. Tanah itu adalah milik sebuah keluarga Yahudi yang tujuh tahun lalu sudah mengambil alih bangunan lain miliik keluarga Kurd.

Pemukim Yahudi itu beralasan Kurd membangun rumah tanpa izin pemerintah Yahudi itu. Padahal kenyataannya, Israel amat jarang mengeluarkan izin bagi warga Palestina membangun rumah.

Lewat Hukum Dasar Yerusalem yang disahkan Knesset (parlemen Israel) pada 1980, Israel telah menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua dengan bangsa Palestina. Mereka juga menyatakan tiap warga Israel berhak tinggal di mana pun di Yerusalem sebagai ganti atas rumah mereka yang diambil alih saat Yordania menguasai Tepi Barat pada perang 1948.

Tapi keluarga Kurd juga mempunyai dasar hukum. Mereka termasuk dari 700.000 warga Arab yang terpaksa mengungsi setelah berdirinya negara Israel. Pada 1956, Yordania dan Perserikatan Bangsa-Bangsa memerikan mereka rumah di Syekh Jarrah. Berdasarkan kesepakatan dengan Badan Bantuan dan Kerja PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), mereka membayar sewa selama 33 tahun dengan kartu bantuan makanan. Setelah itu rumah menjadi hak milik.

Aslinya, keluarga Kurd berasal dari Jaffa, dekat Tel Aviv. Sedangkan keluarga istrinya dari Talbiyah, Yerusalem Barat. Mereka menjadi pengungsi setelah Israel mengusir semua warga Arab Palestina yang dikenal dengan peristiwa Naqbah.

Hatim Abdul Qadir, penasihat Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad, menuding pengusiran keluarga Kurd itu sebagai kejahatan baru atas serangkaian kejahatan untuk me-Yahudi-kan Yerusalem. Saat ini, terdapat sekitar 200.000 warga Yahudi dan 250.000 warga Palestina di erusalem Timur.

Kepala staf kepresidenan Rafiq Hussaini bahkan mengancam akan membatalkan proses perundingan. “Mereka harus menghentikan para pemukim mereka atau tidak akan ada perdamaian dengan kami,” ia menegaskan.

Daniel Luria dari Ateret Cohanim, organisasi yang mempromosikan permukiman Yahudi di Yerusalem, menolak keras telah terjadi pengusiran terhadap keluarga Kurd karena berdasarkan putusan pengadilan. Ia mengatakan hal semacam ini jarang terjadi.

Semua berlangsung melalui proses jual-beli. “Tak seorang pun bertindak sendiri mengusir seseorang. Orang Arab mau menjual dan Yahudi membeli,” ujar Luria. Fauziah pun mengakui pernah menolak tawaran US$ 10 juta untuk rumah sederhananya itu.

Kini Fauziah tinggal di sebuah tenda protes, beberapa meter di depan rumah satu lantai dengan dua kamar tidur miliknya yang telah dirampas. Ia sendirian karena suaminya yang lumpuh dan penyakitan menetap di rumah kerabat. Meski begitu, warga Palestina lain mengunjungi dia tiap hari untuk memberikan dukungan. Para pegiat hak asasi manusia juga membuat tenda di sebelahnya.

Fauziah hanya bisa menatap sedih ke arah bekas rumahnya itu. Ia berharap suatu hari rumah itu ia huni lagi. “Ini tanah air saya, ini hak saya.”

BBC/Guardian/Yediot Ahronot/Faisal Assegaf

2 thoughts on “Korban Gusuran Israel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s