Palestina dan Calon Presiden Amerika

Oleh: Faisal Assegaf

Dunia boleh saja menganggap pemilihan presiden Amerika Serikat pada 4 November tahun ini yang paling bersejarah. Jika terpilih, calon dari Partai Republik, John McCain, 72 tahun, akan menjadi presiden paling tua sepanjang sejarah negara itu. Sebaliknya, bila Barack Hussein Obama, kandidat dari kubu Demokrat, yang menang, ia akan menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika.

Ini tentu saja menjadi ujian paling berat dalam proses demokrasi di negara adi daya itu. Apakah mungkin rakyat Amerika yang selama 232 tahun dipimpin oleh lelaki kulit putih penganut Protestan, kecuali mendiang Presiden John Fitzgerald Kennedy, pemeluk Katolik yang ditembak mati pada 22 November 1963, bisa menerima kepemimpinan orang kulit hitam.

Masyarakat internasional juga tidak salah berharap jika berkuasa lelaki keturunan Kenya itu dapat mengubah kebijakan luar negeri Amerika yang sangat agresif selama masa pemerintahan Presiden George Walker Bush. Dalam dua periode kekuasaannya, negara polisi dunia ini telah menciptakan dua perang besar di Irak dan Afghanistan yang masih terus berlangsung.

Namun bagi rakyat Palestina, sejarah baru itu tidak akan muncul. Obama atau McCain bukanlah calon idaman karena terbukti tidak mempedulikan penderitaan mereka selama 60 tahun penjajahan Israel. Bayangkan saja, keduanya selama masa kampanye tidak pernah menyinggung keadaan rakyat Palestina saat ini.

Mereka hanya peduli terhadap keamanan Israel, sekutu terdekat Amerika di kawasan Timur Tengah. Sebab itu tidak mengherankan jika mereka berupaya keras tampil sebagai pembela Israel nomor wahid. Obama dan McCain sama-sama menganggap Hamas, Hizbullah, Iran, dan Suriah sebagai ancaman paling besar dan akan membela Israel jika diserang.

Kedua kandidat sudah menyakiti perasaan rakyat Palestina dengan mengunjungi Israel, meminta restu para pemimpin negara Zionis itu dan berdoa di Tembok Ratapan, tempat yang disucikan oleh kaum Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsha, Yerusalem Timur. Mereka lebih memilih menengok warga Sderot, kota di selatan Israel, ketimbang menyaksikan penderitaan sekitar 1,5 juta penduduk di Jalur Gaza akibat blokade Israel sejak Hamas menguasai wilayah itu pada pertengahan Juni tahun lalu. Padahal jarak antara dua wilayah itu hanya satu kilometer.

Sikap pro-Israel McCain bukan hal aneh bagi warga Palestina. Senator Arizona itu sangat mendukung operasi militer Israel terhadap Hamas dan Jihad Islam di Gaza. Ia menolak gagasan kawasan bebas nuklir di Timur Tengah karena sadar Israel memang memiliki senjata pemusnah massal itu. Ia juga sudah sering bolak-balik Israel sejak lawatan pertamanya pada 1979, saat berpangkat kapten angkatan laut.

Namuni pembelaan Obama, 47 tahun, terhadap Israel sebuah penghianatan atas rakyat Palestina. Padahal selama bertahun-tahun Senator Illinois ini dikenal dekat dengan komunitas Arab-Amerika. Ia memandang pemimpin Gereja Komunitas Bersatu Trinitas di Chicago pastor Jeremiah Wright Jr. yang anti-Israel sebagai guru spiritual sekaligus pembimbing moralnya. Ia bahkan pernah berucap, “Tak ada seorang pun yang lebih menderita ketimbang rakyat Palestina.”

Perubahan sikap politiknya sungguh ironis. Dari atas helikopter militer Israel, ia langsung terenyuh menyaksikan anak-anak Kiryat Shmona di selatan Israel bermain. Itu terjadi pada lawatan pertamanya, Januari 2006. Padahal menurut B’Tselem, organisasi pemantau HAM Israel, di tahun itu pasukan Israel menewaskan 660 warga Palestina, termasuk 141 anak-anak, meningkat tiga kali lipat dari sebelumnya. Sedangkan pejuang Palestina hanya membunuh 23 orang Israel, setengah dari tahun sebelumnya. Angka ini sangat jauh ketimbang 500 warga Israel yang meninggal tiap tahun akibat kecelakaan lalu-lintas.

Obama berhasil menangkis semua keraguan atas komitmennya terhadap Israel. Salah satu buktinya, ia memecat Robert Malley, seorang anggota tim penasihat luar negerinya, pada Mei lalu setelah mengaku sering bertemu dengan para pejabat Hamas. Ia juga tidak malu menyakiti perasaan warga muslim Palestina dengan berdoa di Tembok Ratapan ketika tiba waktu shalat Shubuh.

Obama sekarang dapat mensejajarkan diri dengan McCain sebagai pembela Israel. Bahkan sangat mungkin peluangnya menjadi presiden lebih besar ketimbang pesaingnya itu. Banyak pihak menilai proposal kebijakan ekonomi Obama lebih mumpuni mengatasi resesi yang sedang melanda Amerika.

Israel memang sangat berkepentingan dengan pemulihan perekonomian Amerika. Negara Zionis ini merupakan penerima bantuan Amerika terbesar sejak Perang Dunia Kedua. Total bantuan yang mereka peroleh hingga sekarang sedikitnya US$ 140 miliar atau sekitar Rp 1.400 triliun, sepertiga dari seluruh bantuan luar negeri Amerika.

Alhasil, kemeriahan saban empat tahun itu tak ubahnya sandiwara basi yang sudah dapat ditebak akhir ceritanya. Siapapun yang menjadi penghuni Gedung Putih nantinya, itu tidak akan mengubah nasib bangsa Palestina. Washington akan terus menyokong Tel Aviv melanjutkan penjajahan mereka terhadap wilayah Palestina. Andaikan rakyat Palestina dapat menentukan siapa presiden Amerika ke-44. Tentu bukan Obama atau McCain.

Dimuat di Koran Tempo, 29 Oktober 2008

3 thoughts on “Palestina dan Calon Presiden Amerika

  1. Obama dan McCain keduanya memang sama-sama menjaga kursinya sampai ke pemilihan agar tidak digoyang pengaruh kekuatan terbesar di Amrik, yaitu Yahudi. Dalam sebuah kampanyenya, Obama sempat panik dan berusaha menutup-tutupi kedekatannya dengan Islam, bahkan seolah-oleh menutupi bahwa ayah biologisnya adalah seorang muslim asal Kenya . Lagi impossible seorang pro-islam di Amrik bisa sampai ke tingkat kandidat capres, bisa-bisa ditembak duluan.

    Ini memperkuat dugaan menjadi seratus persen bahwa Amrik dan Yahudi adalah satu kesatuan, bahkan kesan bahwa Amrik-lah sebenarnya boneka Israel, dan bukan sebaliknya.

    Soal hubungan antara Kennedy (presiden AS yang dibunuh) yang bukan kristen-protestan, melainkan katolik itu apa ya mas Faisal? apakah kristen-protestan lebih nurut sama yahudi ketimbang katolik?

    (Blog-nya bagus dan unik, cuma perlu lebih disosialisasiin lagi. btw apa kabarnya Tempo sekarang pasca migrasi besar? he.. he.., semoga niat S2 ke Tel Aviv terlaksana-salam dari kawan lama)

  2. Bener banget, jadi jangan terlalu berharap Obama bisa menang. Mungkin saja Mc Cain yang menang kalau isu rasial bisa mempengaruhi pikiran kebanyakan rakyat Amerika. Thanks buat pujiannya.

  3. dear mas hamaslovers,

    wajar kok Obama dan McCain nyari muka ke israel krn memang di sana titik kritis yg menentukan terpilihnya presiden AS. pastinya akan bertolak belakang dengan gerakan pro palestina.

    hanya saja mas hamaslovers, kok di tulisan ini palestina seperti sangat ingin mendapat perlakuan serupa dg israel dari AS?

    [quote]Alhasil, kemeriahan saban empat tahun itu tak ubahnya sandiwara basi yang sudah dapat ditebak akhir ceritanya. Siapapun yang menjadi penghuni Gedung Putih nantinya, itu tidak akan mengubah nasib bangsa Palestina.[/quote]

    Lho, bukannya AS sudah jelas musuh muslim muslim? Kaya gitu kok diharapkan bisa mengubah nasib bangsa palestina.

    [quote]Andaikan rakyat Palestina dapat menentukan siapa presiden Amerika ke-44. Tentu bukan Obama atau McCain.[/quote]

    Andai-andainya terlalu jauh. Gak mungkin.

    terima kasih mas hamaslovers
    saya pembaca setia blog ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s