Patroli Penjaga Moral Yahudi

Ingat! Berpakaian sopan kalau masuk kawasan Haredi.

Sepintas, patroli ini tidak tampak galak. Berpakaian serba hitam, baju terusan lengan panjang hingga mata kaki dan semacam topi koboi berukuran besar. Mereka juga berhiaskan janggut panjang.

Namun skuad ini berubah menjadi beringas jika menyaksikan pemandangan yang tidak layak menurut ajaran agama Yahudi. Seperti perempuan yang memakai kaus ketat dan rok mini. Alhasil, gadis malang itu akan menjadi mangsa.

Nasib nahas ini pernah dirasakan seorang perempuan 28 tahun berinisial M karena berpakaian tidak sopan. Warga Yerusalem ini takut diserang lagi jika menyebutkan nama lengkapnya. Bulan lalu, ia menjadi korban keganasan patroli moral itu. “Mereka memukuli, mengikta, dan mengancam membunuh saya,” kata M sambil menahan tangisnya. “Siapa yang akan mencegah mereka membunuh saya?”

Sejatinya, patroli moral itu hanya beroperasi di kawasan permukiman Haredi di Yerusalem, seperti distrik Mea Sharim. Jalan-jalan di daerah ini tutup saban hari besar Yahudi. Skuad ini sebenarnya sudah beroperasi sejak sepuluh tahun lalu.

Saat ini, terdapat sekitar 800.000 komunitas Haredi dari 5,4 juta penduduk Israel. Mereka menjalankan Taurat secara ketat. Kaum lelaki harus berpakaian serba hitam hingga mata kaki dengan topi koboi atau kippa (peci khas Yahudi). Mereka juga harus memelihara jenggot panjang. Sedangkan perempuan harus menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah.

Kebanyakan warga Yerusalem resah dengan kehadiran skuad moral itu. “Mereka membakar persediaan barang kami, tak ada yang bisa menghentikan mereka,” ujar David, seorang penjaga toko elektronik. Ia enggan menyebut nama keluarganya lantaran takut diserang.

Di luar tokonya, seorang pemuda Haredi membagikan selebaran yang melarang pengunjung membeli pemutar MP4 dengan alasan bisa dipakai menonton film porno. “Toko ini merusak generasi muda. Kami akan melawan sampai mereka berhenti menjual peralatan najis,” ia menegaskan.

Haredi memang melarang film, televisi, surat kabar sekuler, dan Internet kecuali untuk keperluan bisnis. Komunitas ultra-ortodoks ini juga melarang bioskop, kolam renang, dan fasilitas umum yang tidak memisahkan antara lelaki dan perempuan. Secara politik, kelompok ini menolak ajaran Zionisme. Bagi mereka negara Israel baru boleh berdiri jika Sang Penyelamat sudah datang.

Untuk melayani kaum Haredi, otoritas Yerusalem meluncurkan bus dengan sekat pemisah: lelaki di depan dan perempuan di belakang. Sejumlah operator telepon juga menjual telepon seluler tanpa koneksi Internet, fasilitas perekam video, dan kamera.

Seorang wisatawan Amerika Serikat pernah menjadi korban dua tahun lalu. Empat lelaki dari skuad Haredi memukuli perempuan 50 tahun itu karena menolak duduk di belakang. Pada Juni lalu, gadis 14 tahun dirawat di rumah sakit karena disiram dengan cairan asam.

Tampaknya, nasihat dari Anav Silverman, mahasiswi di Yerusalem bisa menjadi pelindung. “Anda harus berpakaian sepeti mereka ketika memasuki kawasan Haredi,” katanya kepada Tempo melalui telepon selulernya.

AFP/Islam Online/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s