Tumbal Cinta di Batas Golan

Seorang gadis Golan tidak diizinkan pulang oleh Israel karena menikah dengan lelaki Suriah.

Cinta memang butuh pengorbanan. Setidaknya itulah yang sudah dialami Nihal Arina Safadi dari Desa Ain Quniya di Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel. Lantaran ingin menikah dengan sepupunya dari Suriah, ia tidak diizinkan kembali ke kampungnya.

Sejatinya, pengorbanan gadis 25 tahun ini dipaksa oleh situasi politik lantaran tidak ada hubungan diplomatik antara Israel dan Suriah. Bahkan sebagai syarat melewati perbatasan, ia harus menyerahkan kartu izin tinggal tetap kepada otoritas negara Zionis itu.

Alhasil, pernikahan Nihal pada akhir bulan lalu diliputi kesedihan. Ia terus menangis dalam mobil ayahnya saat perjalanan ke perbatasan di Quneitra. Sang ibu yang duduk di sebelahnya, Hadia, juga berurai air mata. “Saya merasa sedih dan senang di saat yang sama tapi sungguh menyakitkan meninggalkan keluarga saya,” kata Nihal sambi mengusap air matanya.

Duka sudah terasa sejak Nihal menerima lamaran Rabia Mursyid Safadi melalui telepon pada Januari tahun ini. Keduanya bertemu pada acara reuni keluarga besar Safadi di Yordania beberapa tahun lalu. Pihak keluarga gagal membujuk ia supaya membatalkan rencana pernikahan itu. “Rasanya benar-benar sulit. Saya telah memohon tapi ia menegaskan ingin menikah dengan Rabia,” kata ayah Nihal, Yahya Safadi.

Nihal bukan orang pertama yang mengambil keputusan seperti itu. Sejak 1987, sudah 50 perempuan dari keluarga Druze yang tidak dapat pulang karena menikah dengan lelaki Suriah. Israel hanya memberi kelonggaran bagi para ulama Druze berziarah ke sana dan para pelajar yang ingin menuntut ilmu ke Damaskus.

Druze merupakan kelompok sempalan dari Syiah Ismailiyah. Meski secara formal diakui, para ulama tidak menganggap Druze aliran dalam Islam. Salah satu ajarannya adalah, para pengikut Druze tidak perlu berpuasa karena semua ditanggung oleh sang imam.

Sejak Israel mencaplok Golan dari Suriah pada Perang Enam Hari 1967, sekitar 20.000 warga Druze di kawasan itu menolak menjadi warga negara Israel. Mereka hanya mendapatkan izin tinggal tetap. Sedangkan 83 persen dari 100.000 Druze lain di Israel terdaftar sebagai wajib militer selama tiga tahun.

Menjelang pukul 11.00 Nihal dan 40 keluarga lainnya tiba di kantor otoritas Israel dekat perbatasan. Di sana, ia harus meneken sebuah dokumen bertulisan: “Saya menyerahkan hak saya menetap dan saya tahu mungkin tidak bisa kembali karena tidak ada hubungan diplomatik amtara Israel dan Suriah.”

Lantas rombongan melewati gerbang perbatasan. Sebuah truk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa membawa lima koper berisi pakaian, kado pernikahan, dan album foto milik Nihal juga ikut. Di wilayah bebas militer antara Israel dan Suriah akad nikah dilaksanakan. Semua serba cepat karena waktu yang diberikan hanya sejam.

Selepas itu, tangis di keluarga Nihal pecah. Gerbang ditutup dan lambaian terakhir Nihal menghilang di kejauhan. “Saya membesarkan dan merawat dia,” kata Yahya Safadi dengan suara tercekat. “Saya tidak bisa tidur semalaman. Saya tidak akan pernah melihat cucu saya.”

Nihal akan memulai hidup baru di Jaramana, kota kecil dekat Damaskus, namun puluhan kilometer dari desanya.

AFP/Scotland on Sunday/Faisal Assegaf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s