Tobat Calon Syuhada

Sulit bagi Syifa al-Qudsi melupakan kenangan enam tahun lalu itu. Ia hampir menjemput maut sebagai calon pengebom bunuh diri.

Ketika itu, di sebuah bangunan rahasia di Kota Tulkarim, Tepi Barat. Syifa berdiri di pojok sebuah ruangan yang tidak terjangkau cahaya matahari. Seorang pemuda dari Brigade Al-Aqsha, sayap militer kelompok Fatah, memeriksa bom yang melingkari tubuhnya untuk memastikan semuanya dapat berfungsi.

“Yang harus Anda lakukan menekan tombolnya,” kata sang pemuda. Itu adalah persiapan terakhir sebelum Syifa menyampaikan pesan terakhir bagi putri tunggalnya dan orang tuanya tentang aksi bom bunuh diri yang bakal ia laksanakan. Pesan itu direkam dengan kamera video.

Perempuan 24 tahun yang bekerja sebagai juru rias ini ditugaskan meledakkan diri di sebuah supermarket di Nataniyah, sekitar enam kilometer dari Ibu Kota Tel Aviv, Israel. Ia sangat yakin tindakannya itu dibenarkan oleh ajaran Islam untuk membalas kekejaman mesin perang Israel. “Itu saat yang paling sulit dan brutal dalam hidup saya,” ujar Syifa.

Sejak pecah intifadah kedua pada September 2000, terjadi 120 kali aksi bom bunuh diri yang dilakukan warga Palestina. Pelaku meyakini mereka mati syahid. Para ulama berbeda pendapat, ada yang menghalalkan dan mengharamkan.

Bom bunuh diri halal lantaran tidak berimbangnya kekuatan antara rakyat Palestina dengan penjajah Israel. Seperti kata pendiri Hamas, Syekh Ahmad Yassin: “Jika kami sudah memiliki pesawat tempur dan rudal baru kami mengubah cara pertahanan diri yang diakui.”

Yang mengharamkan beralasan pelaku membunuh diri sendiri dulu untuk membunuh musuh mereka. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz menegaskan bom bunuh diri tidak benar dengan landasan Al-Quran surat An-Nisa ayat 29: “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian.”

Nabi Muhammad pun bersabda: “Siapa membunuh dirinya dengan sesuatu maka ia akan diazab dengan itu di hari kiamat.” Ibnu Taimiyah pun berpendapat haram terhadap bom bunuh diri dan sang pelaku bakal kekal di neraka jahanam.

Tidak mengherankan jika Syifa berambisi membalas dendam. Ia telah menjadi korban penjajahan Israel. Dua sepupunya berumur 14 dan 17 tahun tewas oleh serdadu Israel saat berunjuk rasa. Adiknya, Mahmud 16 tahun, dihukum 18 tahun penjara karena ketahuan merencanakan serangan bunuh diri.

Ia sangat marah dengan operasi militer Israel yang telah membunuh, menyiksa, dan mengusir warga Palestina dari rumah-rumah mereka. “Saya bukan orang yang haus darah, saya bahkan tidak tega membunuh ayam. Tapi rakyat Palestina dan saya amat marah,” katanya dengan geram.

Tentu saja ia tidak mudah melaksanakan bom bunuh diri itu. Ia harus mampu meyakinkan putrinya agar merelakan kepergiannya. “Saya katakan, saya melakukan ini untuk dia dan anak-anak Palestina,” katanya.

Namun gadis enam tahun itu tidak dapat menerima alasan ibunya. Ia terus menangis meminta ibunya membatalkan rencana itu. “Jangan lakukan ini, tetaplah bersama saya. Tidak ada yang merawat saya jika ummi meninggal,” ujarnya.

Rupanya Allah berencana lain. Syifa gagal melaksanakan niatnya. Tentara Israel keburu menangkap dia lewat serangan fajar ke rumahnya pada April 2002. Ia yakin dijebak oleh seorang pejabat Palestina yang menjadi informan bagi negara Zionis itu. Sepekan kemudian, giliran calon syuhada yang akan beraksi bersama dia ditembak mati dan tiga lainnya ditahan.

Ia divonis enam tahun dan mendekam di Penjara Hadarim, Nataniyah. Selama itu pula, ia hanya tiga kali berjumpa putrinya. Di sana pula, pemimpin intifadah Marwan Barghuti menjalani hukuman 255 tahun sejak 2002.

Selain perlakuan sipir yang kasar, kondisi sel isolasi yang ia huni juga sangat buruk. “Ada kecoa dan serangga lain,” katanya. Ia bahkan harus mogok makan untuk mendapatkan kondisi yang lebih baik.

Penjara telah mengubah Syifa dari pemuja kekerasan pecinta damai. Selepas dari Hadarim, ia bergabung dengan Combatants for Peace, organisasi non-pemerintah yang mengupayakan perdamaian antara Israel dan Palestina. Berdiri secara rahasia pada 2005 dan setahun kemudian diumumkan ke masyarakat. Kini anggotanya lebih dari 150 orang dari kedua bangsa.

Meski begitu, ia masih ragu apakah perjuangan anti-kekerasan seperti yang dilakukan Mahatma Gandhi dari India itu bisa berhasil mewujudkan negara Palestina merdeka. “Israel selalu menggunakan kekerasan dan tidak berubah. Tapi saya sadar sekarang hanya Tuhan yang berhak mencabut nyawa manusia,” ujarnya.

Yang pasti, Syifa tetap bisa berjuang di jalan Allah dengan membesarkan putrinya dan berkampanye damai. Sang janda yang sekarang berusia 30 tahun ini pun kembali menjadi peñata rias sambil menyelesaikan SMA-nya. Ia juga mulai belajar bahasa Inggris serta Ibrani.

Impact News/Faisal Assegaf

2 thoughts on “Tobat Calon Syuhada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s