Shaum di Tanah Terjajah

Warga Palestina di Gaza berpuasa dalam keadaan serba sulit lantaran blokade Israel.

Hidup adalah penderitaan. Bagi sekitar 1,5 juta penduduk Jalur Gaza, kalimat itu bukan sekadar semboyan. Mereka sudah menderita setidaknya selama 14 bulan terakhir.

Tepatnya sejak Israel memblokade wilayah seluas 380 kilometer persegi itu pada pertengahan Juni lalu lantaran dikuasai oleh kelompok Hamas yang anti-Israel. Seluruh pintu perbatasan laut, udara, dan darat ditutup, termasuk perlintasan Erez dan Sofia (Gaza-Israel), Rafah (Gaza-Mesir), dan Karen Shalom (Gaza-Mesir-Israel). Lalu-lintas orang, barang, dan jasa sangat dibatasi.

Karena itu, tidaklah mengherankan jika Ramadhan tahun ini yang juga dimulai Senin lalu sangat menyiksa warga Gaza. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pangan untuk sahur dan berbuka puasa. “Israel berusaha membatasi kebutuhan yang kami perlukan selama Ramadhan,” kata Jamilah Abdallah Syamsi yang tinggal di kamp pengungsi Jabaliyah kepada Tempo melalui telepon selulernya Kamis lalu.

Harga barang terus meroket. Sebagai contoh, harga masing-masing per kilogram daging kambing (US$ 10), beras (US$ 3), minyak goreng (US$ 5), dan tepung terigu (US$ 1). Tentu saja ini sangat menyulitkan Jamilah yang harus menanggung hidup tujuh keponakannya setelah orang tua mereka tewas akibat serangan Israel tiga tahun lalu. Namun perempuan 38 tahun yang belum menikah ini tetap memaksakan diri menabung US$ 500 per bulan dari gajinya US$ 2.000 sebagai anggota parlemen dari Hamas.

Kondisi makin diperparah oleh pasokan air yang tidak lancar. “Air hanya mengalir satu jam sehari, itu pun keluarnya sangat kecil,” ujar Jamilah. Jadwalnya pun tidak menentu, kadang malam atau shubuh. Sebab itu, seluruh keran selalu dalam keadaan terbuka. Ia pun menyuruh keponakannya bergantian jaga untuk mengisi seluruh ember dan bak mandi saat air mengalir.

Situasi serupa juga dirasakan oleh warga di pusat Kota Gaza. Air hanya mengalir setengah hari. Di beberapa kawasan, pasokan air dapat berhenti sama sekali 1-2 hari dalam sepekan. Listrik pun tidak kalah mengenaskan. Pemadaman bergilir menjadi pemandangan rutin. “Di tempat saya, kami mengalami mati lampu empat jam dalam seminggu,” ujar Kamlin Shaath, 57 tahun, Presiden Universitas Islam Gaza, saat dihubungi secara terpisah.

Meski begitu, Jamilah dan Shaath sekeluarga masih beruntung. Gaji yang mencukupi membuat mereka bisa terus menikmati makanan enak selama bulan puasa kali ini. Keduanya masih mampu menyajikan nagloda (nasi dengan sayur dan daging), baqlawa (manisan), sup, serta salad.

Tapi tidak buat Salim Abid, 46 tahun, bapak sembilan anak yang sudah enam tahun tidak bekerja. Ia juga sudah tidak mampu lagi menyekolahkan anak-anaknya. Hidupnya sangat bergantung pada bantuan dari Badan Pekerja dan Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNRWA). “Anak-anak saya tidak pernah lagi makan daging lebih dari lima bulan lalu,” katanya.

Keadaan keluarga Mahmud Mustafa Diri juga menyedihkan. Sahur pertama mereka hanya dengan nasi, roti, dan semangkuk kecil potongan tomat serta kol. Ayah delapan anak ini diberhentikan dari pekerjaanya sebagai pemasang ubin di Israel sejak tahun ini. Meski begitu, ia tidak mau mengemis. “Apakah itu yang dinamakan kehidupan, menjadi seorang pengemis yang minta ke sana ke mari?” ujarnya.

Warga Gaza memang sedang sekarat. Profesor Muhammad Miqdad dari Universitas Islam Gaza menjelaskan 70 persen warga Gaza menganggur dan 90 persen hanya menyandarkan hidup mereka pada bantuan kemanusiaan. “Kami kehilangan segalanya,” kata Ketua Jurusan Ekonomi ini kepada Tempo.

Komite Rakyat Menentang Pengepungan (PCAS) menyebutkan, hingga kini sudah 185 pasien meninggal, 1.884 sekarat, dan 470 penderita kanker menunggu maut. Isolasi juga telah menyebabkan sekitar 900 pabrik berhenti beroperasi sehingga lebih dari 160.000 pekerja menganggur. Penyanderaan ini juga membuat 3.000 nelayan tidak bisa melaut, proyek US$ 370 juta macet, dan 4.500 petani stroberi serta bunga rugi US$ 14 juta.

Kesulitan juga dialami warga Palestina di Tepi Barat. Sampai sekarang, Israel belum membongkar sekitar 607 pos pemeriksaan. Fadwa Barghuti masih membutuhkan empat jam untuk menjenguk suaminya, Marwan Barghuti di penjara Hadarim, Nataniyah, sekitar enam kilometer dari Ibu Kota Tel Aviv. Padahal dengan bermobil, jarak Ramallah-Hadarim bisa ditempuh satu jam.

“Pemeriksaan masih sangat ketat. Kami berharap bisa berkumpul lagi dengan ayah,” ujar Qassam, putra tertua Marwan Barghuti, pemimpin dua intifadah yang sedang menjalani hukuman lima kali seumur hidup.

Meski terhimpit kesulitan, warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat berupaya menjalankan tradisi Ramadan, seperti shalat tarawih, tadarus, buka bersama, atau jalan-jalan sore sambil menunggu adzan maghrib. Mereka pun berupaya mendekatkan diri kepada Allah. “Saya ingin mengkhatam Al-Quran dua kali pada Ramadan tahun ini,” kata Mahmud Zahar pendiri sekaligus pemimpin Hamas di Gaza kepada Tempo.

Namun semua itu tidak dapat menutup kesedihan mereka. Sebagian besar warga Gaza menyalahkan Hamas dan Fatah atas penderitaan ini. “Kami tidak merasakan kegembiraan apapun ketika Ramadan tiba,” ujar Radiya, 42 tahun, yang kehilangan putranya saat konflik bersenjata Hamas dan Fatah meletus pertengahan tahun lalu.

Meski sedih, semoga saja mereka termasuk golongan yang disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad: “Orang-orang yang gembira menyambut Ramadhan, Allah haramkan jasadnya dari api neraka.”

Statesman/Xinhua/Faisal Assegaf

One thought on “Shaum di Tanah Terjajah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s