Bertamu ke Markas Hizbullah

Kawasan Harit Thariq terlarang bagi tentara pemerintah.

Kesempatan emas itu datang ketika saya meliput ke Libanon awal Februari lalu. Seorang anggota Hizbullah bernama Haji Abu Ali meminta saya menunggu di depan kantor Dewan Tertinggi Syiah, kawasan Harit Thariq, Beirut, pukul satu siang. Saya datang dengan menumpang mobil Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Setelah menunggu sepuluh menit, datang seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan mengendarai motor. “Indonesia?” tanya dia. Saya mengangguk. Sekejap kemudian, ia berlalu dan saya mengikutinya dari belakang. Lima menit kemudian, kami berhenti di sebuah bangunan pemukiman.

Kami masuk dari samping lewat gang sempit yang hanya cukup satu mobil. Di sana terparkir sebuah mercy hijau yang mungkin milik Muhammad Ra’ad. Kami menaiki tangga menuju lantai empat. Lalu memasuki sebuah ruangan di mana terdapat empat anggota Hizbullah. Setelah menunggu 15 menit, saya pun bertemu dengan salah satu pendiri Hizbullah itu.

Sehari sebelumnya, saya juga ke markas Hizbullah di daerah ini. Bedanya saya dijemput seseorang bernama Adnan Husaini. Kami berhenti di sebuah bangunan yang sedang diperbaiki. Lalu menuju ke lantai empat. Urusan saya ketika itu: mendaftar untuk mewawancarai Hasan Nasrallah. Setelah mengisi formulir, Wafa Hutait, petugas pendaftaran, memindai paspor dan kartu pers saya.

Wafa menegaskan kembali apa yang saya tulis dalam formulir. Selain wawancara, saya juga ingin menginap di tempat persembunyian Nasrallah dan memotret kegiatan sehari-harinya. Hingga kini, kesempatan itu belum datang. “Permohonan sudah kami ajukan, tinggal menunggu jawaban dari Beliau,” kata Wafa yang berkali-kali saya hubungi setelah kembali ke Jakarta.

Dua kali ke markas Hizbullah dua kali pula saya dibuat kagum. Kagum terhadap para pemuda yang dengan gagah dan bangga menyandang senjata jenis M-16 atau AK-47. Di wajah mereka saya lihat kebanggaan sebagai seorang patriot yang berani melawan Israel.

Kondisi politik yang tak menentu membuat Ra’ad dan elit politik lain membatasi diri tampili muka umum. Mereka tidak mau senasib dengan Rafiq Hariri, mantan perdana menteri Libanon selama periode yang tewas akibat bom mobil pada 14 Februari 2005. Sejak, saat itu, lima orang mengalami nasib serupa, termasuk dua wartawan dan Menteri Perindustrian Pierre Gamayel.

Era 1975-1990 adalah mimpi buruk bagi rakyat Libanon. Perang saudara itu bermula dari perkelahian antara seorang warga Libanon dan sekelompok orang Palestina di Ain ar-Rumanah, Beirut, April 1975. Berlangsung pula lima pembantaian besar, termasuk dua serangan Israel di kamp Sabra dan Satila. Perang selama 15 tahun itu menewaskan 100 ribu orang dan 14 juta lainnya eksodus ke luar negeri.

Sisa-sisa perang berupa bangunan rusak dan tak berpenghuni masih terlihat di Beirut, terutama di daerah perbatasan antara Islam dan Kristen. Bahkan sejumlah bangkai bus dikumpulkan di sebuah lapangan terbuka di sisi jalan menuju kantor Kementerian Luar Negeri.

Belum sepenuhnya pulih, perang besar kembali melanda negeri berpenduduk sekitar empat juta jiwa itu pada 12 Juli-14 Agustus 2006. Ini dipicu oleh penolakan Hizbullah membebaskan dua tentara Israel yang diculik sebulan sebelumnya.

Dua ribu warga sipil tewas dan Libanon merugi US$ 11,4 miliar (Rp 10,26 triliun), terutama di sektor pariwisata. Para turis asing biasanya membanjiri negara ini tiap musim panas (Mei-September). “Hizbullah telah menghancurkan segalanya. Kini tidak ada lagi orang yang mau datang ke Libanon,” kata Patricia Khoder, 34 tahun, warga Beirut.

Wilayah Libanon Selatan yang menjadi basis Hizbullah menderita kerusakan parah. Jalan tol yang menghubungkan Beirut dengan daerah Selatan sulit dilalui. Jembatan dan bangunan-bangunan yang rusak masih tampak di kota Tyre, Nabatiyah, dan Qana.

Di Qana – bisa ditempuh dua jam dengan mobil dari Beirut – Israel kembali membantai warga sipil untuk kedua kali. Sebelumnya, pada 19 April 1996, 107 orang dan hampir 50 staf PBB menjadi korban. Hasil serangan udara kali ini merenggut 29 nyawa, termasuk 24 anak-anak. Para korban berusia 9 bulan-75 tahun berasal dari dua keluarga besar, yakni: 11 orang dari keluarga Mahmud Ibrahim Hasyim dan sisanya dari keluarga Hasan Husain Salhub.

Menurut Sana binti Ahmad Mahmud Salhub, pengeboman mulai berlangsung sekitar pukul satu dinihari pada 30 Juli 2006. Kakeknya, Mahmud Salhub, menyuruh Sana dan dua saudaranya tetap berada di rumah dan tidak mengikuti mereka mengungsi ke tempat lain.

Mereka bertiga tak bisa tidur semalaman. “Dalam semalam, Israel terdengar enam bunyi ledakan,” sambung Jamil Salami, 40 tahun. Esoknya, Sana mendapati orang tua, kakek, dan saudara-saudaranya meninggal di bawah reruntuhan bangunan. Semua korban baru bisa dikuburkan pada 17 Agustus setelah terjadi gencatan senjata.

Untuk mengobati kangen, Sana hanya bisa menatap foto keluarga yang tergantung di ruang tamu rumahnya yang menghadap lembah penuh pohon zaitun. “Kalau saya bertemu orang Israel, saya akan memotongnya kecil-kecil secara perlahan,” kata gadis 14 tahun ini dengan wajah penuh dendam kepada Tempo di rumahnya.

Di Beirut, kerusakan paling parah terlihat di Harit Thariq, kawasan pemukiman kelompok Syiah-Hizbullah. Sedikitnya, ada lima tanah kosong dipenuhi reruntuhan bangunan. Tiga di antaranya memperlihatkan lubang besar yang menjadi pondasi bangunan. Sedang bangunan yang rusak sebagian tersebar cukup banyak.

Meski begitu, warga yang berseliweran seolah tak acuh dengan pemandangan bangunan yang rusak. Sejauh ini, belum ada perbaikan walau perang sudah lama berakhir. “Masih terjadi tarik ulur antara Hizbullah dan pemerintah soal siapa yang harus membiayai,” kata Muhammad Zainal Aziz, staf lokal KBRI Beirut.

Tapi tidak gampang bagi orang asing untuk memotret bangunan yang rusak dari luar. Seorang pemuda penjaga toko melarang dengan menggunakan bahasa tubuh bahwa kamrea saya akan dirampas dan diinjak-injak. “Kita juga tidak boleh memotret tentara Hizbullah,” ujar Aziz. Saya pun menjepret dari dalam mobil.

Mereka juga mencurigai warga asing yang mencoba mendekati salah satu pentolan Hizbullah. Ini terjadi ketika pada suatu malam saya mengunjungi toko milik Abdullah yang menjual pelbagai pernik soal Hizbullah dan Syiah. Mulai dari poster berbingkai, kaos, hingga gantungan kunci bergambar Hasan Nasrallah.

Sejumlah orang bolak-balik di depan toko sambil memandang curiga kearah saya yang sedang melihat-lihat barang. Tak ketinggalan, tiga pemuda di seberang jalan. Yang membuat saya sedikit kuatir, dua pemuda menenteng senapan otomatis memandangi saya.

“Dia (Abdullah) salah satu pentolan Hizbullah di daerah ini,” kata Muhammad Arkan, warga Indonesia yang tinggal di daerah Hizbullah. Saya kian yakin setelah seorang kakek berpakaian dan kopiah serba putih meminta bantuan untuk mengusir anak-anak muda yang ribut sehingga mengganggu tidurnya.

Di negara ini, senjata bebas beredar di mana-mana. Saya sempat berpapasan dengan seorang pemuda dengan santainya menyeret senapan di tepi jalan yang ramai pada suatu siang. Malam sebelumnya, seorang warga bernama Hasan yang saya temui di tempat cukur juga membawa pistol yang terlihat menyebul dari balik jaket hitamnya.

Saya juga menyaksikan senjata dijual bebas di toko milik Ahmad, warga Syiah. Sebelumnya, ia memiliki pabrik pembuatan peluru di Libanon Selatan yang hancur dibom Israel, Juli tahun lalu. “Di sini tiap orang bebas memilki senjata tanpa ijin,” kata Habib Karout, warga Kristen Beirut.

Secara sosial-politik, rakyat Libanon membagi wilayahnya berdasarkan agama dan sekte. Terutama setelah perang saudara. Di negeri ini, ada 17 aliran agama dengan pelbagai sekte: 5 Islam (Syiah, Sunni Druze, Ismaili, Alawi); 11 Kristen (4 Ortodoks-Armenia, Yunani, Suriah, Nestoria-Assyiria; 6 Katolik-Armenia, Suriah, Kaldea, Yunani, Romawi, Maronit dan 1 Protestan) dan Yahudi. Berdasar etnis, terdiri dari masyarakat Arab, Armenia, dan Kurdi.

Tiap wilayah pemukiman punya ciri tertentu. Di kawasan Syiah-Hizbullah banyak dijumpai poster besar Sayyid Hasan Nasrallah, Abbas al-Musawi, atau Musa Sadr. Di daerah Syiah-Amal, poster para imam Syiah itu selalu berdampingan dengan Nabih Berri, Ketua Partai Gerakan Amal sekaligus Ketua Parlemen. Sedang gambar Perdana Menteri Fuad Siniora mendominasi daerah Sunni.

Polarisasi rakyat Libanon kembali muncul sejak pemilu Juni 2005. Munculnya kelompok mayoritas baru yang merupakan koalisi Islam Sunni-Druze-Kristen dan didominasi kelompok proHariri tidak cukup kuat untuk mengendalikan seluruh proses politik di negara itu.

Masih ada dua kelompok yang sangat menentukan poerimbangan politik, yakni mayoritas Kristen yang dipimpin pensiunan jenderal Michael Aoun (memperoleh ¾ suara Kristen) yang menganggap dirinya pihak oposisi dan blok Syiah yang merupakan gabungan antara Gerakan Amal (Nabih Berri) dan Hizbullah (Hasan Nasrallah).

Kedua kelompok ini cukup kompak dalam menyikapi isu-isu strategis, seperti dukungan terhadap Presiden Emil Lahud. Sedang kubu Hariri menganggap Presiden Lahud illegal lantaran masa jabatannya sudah habis sejak 2004, namun diperpanjang faksi proSuriah hingga 2007. Soal Hariri, para mneteri Syiah menuduh rekan sekabinet mereka tidak bersikap obyektif dan cenderung apriori terhadap keterlibatan Suriah.

Perpecahan dalam kabinet juga terjadi dalam menanggapi Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1559 yang menuntut perlucutan senjata semua kelompok paramiliter di Libanon. Ini menjadikan Hizbullah sebagai satu-satunya sasaran. Padahal, menurut para menteri Syiah, hanya Hizbullah yang dapat diandalkan untuk mengakhiri dan menangkal pendudukan Israel di Libanon.

Terkait Perang 34 hari, koalisi Aoun, Nasrallah, dan Berri menuding pemerintah tidak proaktif mengatasi kerugian akibat perang itu. Dampak politiknya, lima menteri Syiah dan tiga menteri dari kubu Aoun mundur. Tidak puas sampai di situ, kelompok oposisi mengadakan demonstrasi besar-besaran yang melibatkan sekitar satu juta orang di Lapangan Martir, pusat Kota Beirut, sejak 8 Maret 2006. Enam hari berselang, giliran kubu pemerintah melakukan aksi serupa.

Menurut Muhammad Hasan Ra’ad, Ketua Fraksi Hizbullah di parlemen, aksi akan terus berlanjut hingga pemerintah persatuan nasional bisa terbentuk. Ia secara tegas membantah pihak oposisi berniat menjatuhkan pemerintah Perdanan Menteri Fuad Siniora. “Yang kami tuntut adalah perluasan pemerintahan di mana Siniora tetap menjadi perdana menteri dan oposisi memiliki peran yang cukup dalam membuat keputusan bersama,” katanya.

Situasi yang memanas memaksa tentara pemerintah membuat pos pemeriksaan di perbatasan antara Sunni-Syiah dan Islam-Kristen. Biasanya ditempatkan satu unit tank dengan lima tentara. Perdana Menteri Siniora tidak ingin mengambil resiko kembali meletusnya perang saudara.

Perang yang sering melanda Libanon telah membuat sebagian rakyatnya bosan. “Saya muak dengan perang. Saya ingin hidup tenang dan damai,” kata Ali Jabir, warga Syiah di Beirut. Keinginan Ali dan sebagian warga Libanon lainnya didukung oleh pemerintah. Mereka membuat papan iklan dalam bahasa Arab dan Inggris yang bertulisan “Saya Mencintai Hidup”.

Tapi ingat, ini cuma sementara. Perang baru akan berkobar lagi di Libanon. “Mereka (Israel) sendiri yang berkoar-koar akan melakukan serangan musim panas depan (Mei-September),” kata Raad.

Faisal Assegaf (Beirut, Februari 2007)

One thought on “Bertamu ke Markas Hizbullah

  1. Sal, sayangnya waktu berkunjung ke Libanon, loe nggak sempat mampir ke Byblos dan Harissa di Libanon utara ya?. Gua sempat pergi kesana, Agustus 2007. Kawasan ini damai sekali, nggak ada perang, nggak ada darah atau tangisan anak-anak dan wanita. Sungguh jauh dari kesan kita sedang berada di negeri konflik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s