Taruhan Terakhir Olmert

Oleh: Faisal Assegaf

Jangan heran bila Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, 62 tahun, menolak mundur, meski desakan itu disampaikan sebagian besar rakyat Israel, termasuk dari orang-orang partainya. Seperti politisi di Indonesia, ia memilih bertahan hingga pengadilan memutuskan ia bersalah dalam kasus suap.

Padahal, popularitas pemimpin dari Partai Kadima ini sedang anjlok setelah mengaku menerima uang dari Morris Talansky, pengusaha Amerika Serikat keturunan Yahudi yang bergerak di bidang minibar hotel. Total pemberian selama 15 tahun itu lebih dari US$ 150 ribu atau sekitar Rp 1,35 miliar.

Ia menegaskan fulus itu buat dana kampanye dan bukan untuk kepentingan pribadi. Tapi Talansky yang selalu memberikan uang tunai dalam amplop seperti yang diminta Olmert bersumpah bahwa duit itu antara lain untuk membiayai liburan Olmert sekeluarga ke pantai Sardinia, Italia, dan membayar tagihan hotel di New York. Boleh jadi, penolakan Olmert ini karena ia yakin bakal bebas dari jeratan hukum. Ia memang dikenal licin bagai belut dan sudah lima kali terbebas dari vonis pengadilan. Pada 1970-an, dugaan penilapan uang Partai Likud oleh Olmert diselesaikan secara damai.

Pada 1999, polisi pernah menyelidiki dugaan suap yang ia terima untuk dana kampanye. Ia kembali dapat bernafas lega setelah pada Juni 2004, Jaksa Agung Israel menutup kasus dugaan suap yang juga melibatkan Ariel Sharon lantaran tidak cukup bukti. Saat menjadi Menteri Perdagangan, Industri, dan Tenaga Kerja, pada April tahun lalu, ia membantah terlibat aktif di sebuah lembaga investasi.

Jika lolos lagi, itu belum cukup memulihkan reputasinya yang kadung hancur sejak negaranya kalah dari Hizbullah dalam Perang Juli 2006. Israel kehilangan nyawa 156 orang, kebanyakan prajurit. Meski berhasil menewaskan sekitar 1.200 orang yang mayoritas pejuang Hizbullah, negara Zionis ini tidak mampu melumpuhkan kekuatan organisasi yang dipimpin Sayyid Hassan Nasrallah itu.

Laporan pendahuluan Komisi Winograd pada April tahun lalu menyimpulkan Olmert, Menteri Pertahanan Amir Peretz, dan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Dan Halutz gagal lantaran perang dilancarkan tanpa rencana yang jelas. Komisi bentukan 18 September 2006 yang diketuai pensiunan hakim, Eliyahu Winograd, ini menilai ketiga pejabat itu terlalu terburu-buru dan tanpa dasar saat memutuskan untuk berperang.

Karena itu, Olmert menggantungkan harapannya pada pembebasan Sersan Kepala Eldad Regev dan Sersan Mayor Ehud Goldwasser, dua serdadu Israel yang diculik Hizbullah pada 12 Juli 2006. Insiden penculikan mereka yang juga menewaskan tiga serdadu Israel lainnya itu telah memicu perang 34 hari di antara kedua pihak.

Tapi kesepakatan 16 Juli dengan kelompok Syiah paling berkuasa di Libanon Selatan itu gagal meningkatkan kembali citranya. Bahkan, pertukaran tahanan itu malah makin menegaskan kekalahan Israel pada perang dua tahun lalu. Ribuan rakyat Israel berduka menyambut kedatangan mayat Regev dan Goldwasser. Sebaliknya, para pendukung Hizbullah di selatan Libanon dan di Ibu Kota Beirut bersuka-cita menyongsong Samir Qantar dan rekan-rekan bagaikan pahlawan. Olmert dikecam di dalam negeri dan ditertawakan oleh rakyat Libanon.

Padahal ia sudah membayar mahal untuk mendapatkan dua tubuh tak bernyawa itu. Negara Yahudi itu membebaskan lima tahanan dan 199 jenazah pejuang Hizbullah. Seorang di antaranya, Qantar, yang dihukum empat kali seumur hidup setelah membunuh seorang ayah dan putrinya berusia 4 tahun serta dua polisi di Kota Nahariya pada 1979. Ketika itu, ia masih 16 tahun dan serangan itu ia lakukan bersama tiga anggota Barisan Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP).

Bukan kali ini saja Israel takluk dari Hizbullah, kelompok yang dicap teroris oleh Amerika dan Israel itu. Kesepakatan serupa pada 2004 juga memaksa Perdana Menteri Ariel Sharon membebaskan 400 warga Palestina dari penjara dan memberikan jenazah 59 pejuang Hizbullah demi seorang warga dan mayat tiga prajurit Israel.

Kini harapan terakhirnya ada pada Shalit. Olmert memang sedang diburu waktu lantaran pertengahan September mendatang berlangsung pemilihan ketua Partai Kadima. Ia mesti bersaing ketat dengan tiga calon kuat lainnya: Menteri Luar Negeri Tzipi Livni, Menteri Transportasi dan Keamanan Jalan Shaul Mofaz, dan Menteri Keamanan Publik Avi Dichter. Yang terpilih akan menggantikan posisi Olmert sebagai perdana menteri.

Sebab itu, sangatlah mungkin ia berani membayar lebih mahal ketimbang harga Regev dan Goldwasser untuk membawa pulang Shalit yang ditawan sejak 25 Juni 2006 dalam keadaan selamat. Kesempatan itu masih terbuka karena Shalit telah dua kali mengirim surat melalui Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Ia memberitahukan keluarganya bahwa ia masih hidup.

Hamas sendiri sudah meminta pembebasan sekitar 1.400 tahanan Palestina, termasuk tiga pejabat senior mereka: Hassan Salami, Abdullah Barghuti, dan Ibrahim Hamad. Bahkan surat kabar Al-Bayan terbitan Uni Emirat Arab melaporkan, Olmert bersedia menukar kebebasan Shalit dengan Marwan Barghuti, pemimpin dua kali intifadah pada 1985 dan 2000. Bapak empat anak ini sedang menjalani lima hukuman seumur hidup di Penjara Hadarim, Nataniyah, sekitar enam kilometer dari Ibu Kota Tel Aviv.

Rasanya, 1.400 tahanan Palestina plus Marwan Barghuti, harga yang tidak bisa ditawar lagi. Banderol itu amat pantas bagi Shalit yang merupakan modal taruhan terakhir Olmert untuk mempertahankan jabatannya sebagai perdana menteri ke-12 Israel.

Dimuat di Koran Tempo, 2 Agustus 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s