Hamas dan Hizbullah Kian Menakutkan

Iran dan Suriah menyokong dua kelompok ini.

Ini bukan sekadar isapan jempol. Bagi Israel, kekuatan Hamas di Jalur Gaza dan Hizbullah di Libanon Selatan makin hari kian menakutkan.

Ini terbukti dengan kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan Hizbullah yang terjadi di perbatasan Naqura, Rabu pekan lalu. Israel kembali takluk dan ikhlas menerima mayat dua serdadunya yang tewas: Sersan Mayor Ehud Goldwasser dan Sersan Kepala Eldad Regev. Seluruh Israel berkabung menyambut dua jenazah yang memicu Perang Libanon Kedua setelah mereka diculik pada Juli 2006.

Sebagai balasannya, negara Zionis itu menyerahkan 199 mayat pejuang Hizbullah dan lima anggota mereka yang masih hidup. Termasuk Samir Qantar, tahanan paling lama mendekam di penjara Israel, yakni sejak 1999. Warga Libanon Selatan menyongsong mereka bagai pahlawan dengan bersuka-cita.

Pertukaran tahanan ini makin menegaskan kekalahan Israel atas Hizbullah. Bahkan laporan Komite Winograd yang dibentuk untuk menyelidiki Perang Juli 2006 menyimpulkan Israel kalah berperang. Kebijakan Perdana Menteri Ehud Olmert menyerbu markas Hizbullah adalah sebuah kesalahan fatal.

Perang 34 hari itu menewaskan 156 orang, kebanyakan serdadu Israel dan membunuh sekitar 1.200 yang sebagian besar pejuang Hizbullah. Meski begitu, negara Yahudi itu gagal menghancur milisi Syiah paling berkuasa di Libanon itu. “Menyambut ulang tahun kedua Perang Libanon, Anda pasti tidak tahu harus tertawa atau menangis,” tulis kolumnis Yoel Marcus di surat kabar Ha’aretz.

Sekarang kelompok yang dipimpin Sayyid Hassan Nasrallah itu makin kuat. Militer Israel menyebutkan Hizbullah memiliki 40.000 rudal dengan jarak termbak 185 mil. Artinya bisa menjangkau Tel Aviv, Yerusalem, dan mungkin Gurun Dimona yang merupakan lokasi reaktor nuklir Israel.

“Keadaan saat ini sangat mengkhawatirkan saya. Saya tidak akan mempercayai pemerintahan sekarang untuk membuat keputusan penting,” ujar Yehezkel Dror, mantan anggota Komite Winograd. Ia menegaskan Olmert sama sekali tidak mempunyai kemampuan soal strategi pertahanan.

Iran bahkan sudah mendirikan stasiun peringatan dini dan pangkalan radar pemandu rudal di puncak Gunung Sannine yang berketinggian 7.800 kaki dari permukaan air laut.

Secara politik pun, Hizbullah makin perkasa. Mereka memperoleh hak veto di parlemen sebagai hasil kompromi politik yang berakhir dengan penunjukkan Michel Sulaiman sebagai presiden baru Libanon menggantikan Emile Lahud yang pro-Suriah.

Hamas pun tak kalah mengerikan buat Israel. Meski terisolasi di Gaza sejak pertengahan tahun lalu, Hamas masih mampu menembakkan roket Qassam ke wilayah Israel. Pembatasan pasokan bahan makanan, air, listrik, obat-obatan, dan barang lainnya, kian mengobarkan semangat perlawanan terhadap Israel.

Sejumlah laporan menyebutkan 150 pejuang Hamas sudah selesai berlatih di kamp militer milik pasukan Garda Revolusi Iran. Jumlah yang sama sedang berlatih di sana saat ini.

Namun ada yang lebih mengkhawatirkan bagi Duta Besar Israel untuk Perserikatan bangsa-Bangsa, Dan Gillerman. “Ketakutan sebenarnya bukan lantaran Iran cukup gila menembakkan rudal ke Israel, tapi mereka akan menyediakan senjata pemusnah massal bagi organisasi teror seperti Hamas dan Hizbullah,” katanya dalam wawancara khusus dengan koran The New York Times.

Alhasil, Israel mesti berfikir berkali-kali bila benar-benar ingin menggempur Hamas dan Hizbullah.

Debka/Israel Today/World Tribune/Faisal Assegaf

9 thoughts on “Hamas dan Hizbullah Kian Menakutkan

  1. Allahu Akbar!!!
    Semoga kelak Hizbullah kembali ke pangkuan Sunnah… Karena saya dengar Hizbullah adalah syiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s