Sahabat Pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.

Perasaan cinta, kasih, dan sayang adalah naluri yang ada pada tiap manusia. Ia tidak bisa musnah meski di tengah medan perang sekalipun. Kenyataan ini pula yang hidup di tengah konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel.

Anav Silverman dan Mona Yusuf telah membuktikan itu. Keduanya baru berhubungan selama tiga bulan meski melalui surat yang diperantarai oleh situs berita BBC. Surat ketiga adalah kabar terakhir di antara mereka.

Anav adalah mahasiswi jurusan Sastra Inggris dan Ilmu Politik di Universitas Bar Ilan, Israel. Gadis berdarah Yahudi dari sisi ibu ini lahir di Yerusalem dan sejak umur dua tahun pindah bersama keluarganya ke Maine, Amerika Serikat. Negara bagian yang berbatasan dengan Kanada ini dikelilingi danau dan hutan. Empat tahun lalu, ia kembali ke Israel dan menetap di Yerusalem.

Sejak Agustus 2007, ia bekerja paruh waktu untuk pusat media di Sderot, kota di selatan Israel yang hanya satu kilometer dari perbatasan Jalur Gaza. Tugasnya saban hari mengedit dan menerjemahkan pelbagai bahan berita dan dokumen dari bahasa Hebrew ke Inggris.

“Saya juga mewawancarai korban roket dan menulis artikel soal situasi dan penduduk Sderot yang hidup di bawah ancaman roket bunyi sirene tiap hari,” kata Anav kepada Tempo melalui telepon selulernya kemarin.

Mona juga lulusan Sastra Inggris dan bekerja sebagai penerjemah lepas di utara Jalur Gaza. Ia adalah sulung dari empat bersaudara. Keluarganya terusir dari Kota Ashkelon saat negara Israel berdiri pada 1948. Kakeknya tewas dalam perang saat itu sedangkan adik bungsunya yang saat itu berusia 12 tahun, Amir, ditembak mati serdadu Israel pada 1992.

Menurut Anav, persahabatan itu bermula saat ada tawaran dari pihak BBC kepada dia. Ia menerima ajakan itu lantaran memiliki banyak teman orang Arab di kampusnya. “Saya tidak memandang orang-orang dari Gaza berbeda dengan yang lain. Kita semua adalah manusia,” ujarnya.

Mereka lantas saling bertulis surat. Isinya soal pandangan masing-masing mengenai konflik Palestina dan Israel. Menurut Anav, perdamaian tidak dapat datang hanya dengan mengembalikan wilayah seperti yang diminta rakyat Palestina. “Selama bertahun-tahun anak-anak Palestina diajarkan membenci dan menteror warga sipil Israel,” katanya memberi alasan.

Mona tak mau kalah. “Bagaimana saya dapat menerima keberadaan sebuah negara yang menjajah wilayah dan membunuh rakyat kami?” Ia juga membalas tudingan Anav dan menilai Israel lebih pantas disebut teroris lantaran persenjataannya lebih lengkap.

Ia juga bercerita soal penderitaan hidup di Gaza. Pada Mei lalu, ia menderita sakit kepala karena harus belajar dengan penerangan lilin selama beberapa jam. Bahkan bunyi bom mengiringi Mona yang sedang menulis surat balasan bagi Anav. “Saya mendengar ibu saya bertanya apa yang akan terjadi malam ini?”

Krisis kemanusiaan muncul sejak Hamas menguasai wilayah berpenduduk sekitar 1,5 juta itu pada pertengahan Juni tahun lalu. Sebabnya, Israel mengisolasi Gaza sehingga pasokan bahan makanan, air, listrik, dan obat-obatan menipis. Tidak puas sampai di situ, tentara Israel juga menyerbu wilayah itu dengan alasan mencari para penembak roket.

Namun Anav menilai blokade itu terpaksa dilakukan karena tidak ada pilihan lain. Bahkan ia balik menuduh Hamas berlaku pengecut lantaran memakai perempuan dan anak-anak sebagai perisai pelindung.

Ia hanya dapat berharap suatu saat kelompok yang didirikan Syaikh Ahmad Yassin itu berhenti menyerang Israel dan lebih menolong rakyat Palestina. “Saya membenci tindakan Hamas namun saya tidak mempercayai kata benci karena tidak produktif membenci orang lain,” kata Anav.

Anav pun menggambarkan betapa ia sungguh takut menginap di Sderot lantaran mendengar suara roket yang terbang di atas atap kamar kosnya. Alhasil, ia memilih menginap di kibbutz atau komunitas pertanian Yahudi terdekat di luar Sderot. “Karena saya tidak bisa lari ke bawah untuk berlindung 15 menit setelah sirene bergaung,” ujarnya memberi alasan.

Maklum saja, hampir saban hari, pejuang Palestina menembakkan roket Qassam ke kota berpenduduk 19.000 orang itu. Militer Israel mencatat, lebih dari 6.000 roket ditembakkan sejak pecah intifadah kedua pada 2000.

Meski berbeda pandangan, kedua gadis ini menyukai drama karya William Shakespeare. Mona senang Hamlet dan Anav memuji King Lear. Mereka pun mantap meneruskan persahabatan. “Saya ingin mengunjungi Mona jika aman bagi saya sebagai gadis Yahudi,” kata Anav.

Faisal Assegaf

4 thoughts on “Sahabat Pena dari Gaza

  1. aku ingin mengenali lebih mendalam secara pribadiku dan disamping itu aku juga jadikan dirimu sebagai pendamping hidupku yang setia untuk hari esok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s