Sikap Obama terhadap Israel

Oleh: Faisal Assegaf

Mengikuti persaingan antara Barack Husein Obama dan Hillary Rodham Clinton tak ubahnya menyaksikan pertarungan dua pembela Israel. Selama enam bulan kampanye yang melelahkan, kedua bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat ini berkali-kali menunjukkan dukungan mereka terhadap negara Zionis itu.

Dua kandidat di atas bersama John Edwards memang direkomendasikan Dewan Demokrat Yahudi Nasional (NJDC) bagi para pemilih kaum Yahudi. Sikap pro-Israel yang ditunjukkan Hillary dan Edwards bukan sesuatu yang mengherankan. Keduanya memang dikenal aktif membela negara yang sedang menjajah Palestina itu.

Bagi Hillary, Israel bukan negara asing. Ia sudah lusinan kali berkunjung ke sana. Bahkan saat mendampingi suaminya, Presiden Bill Clinton, pada 1994, ia sempat berdoa di Tembok Ratapan yang berada di kompleks Masjid Al-Aqsha, Yerusalem Timur. Sejak terpilih sebagai anggota Kongres delapan tahun lalu, ia bersama Edwards mensponsori sejumlah beleid yang memihak Israel, termasuk Undang-undang Akuntabilitas Suriah dan Akta Antiteror Palestina.

Senator New York ini juga menyerukan pembatasan sumbangan Amerika bagi Komite Palang Merah Internasional (ICRC) sampai mereka mengakui the Magen David Adom (MDA), palang merah Israel. Upaya itu berhasil pada 2006. Atas jasa-jasanya itu, ia memperoleh gelar doktor kehormatan dari Universitas Yeshiva, Yerusalem.

Tentu saja, dukungan Obama terhadap Israel sungguh ironis. Padahal, ia telah mendapat tempat di kalangan komunitas Arab-Amerika karena konsistensinya membela Palestina. Ia pernah berucap, “tak ada seorang pun yang lebih menderita ketimbang rakyat Palestina.”

Meski ayahnya seorang muslim, ia menjadi jemaat Gereja Komunitas Bersatu Trinitas yang dipimpin Pastor Jeremiah Wright Jr. Sang pastorlah yang menikahkan ia dengan Michele dan membaptis kedua anaknya. Obama sangat mengagumi Jeremiah dan bahkan menyebut ia sebagai pengajar spiritual sekaligus pembimbing moralnya.

Kedekatan dengan Jeremiah membuat Obama dicap anti-Israel. Maklum saja, sang pastor sering mengecam negara Yahudi itu dan selalu membanggakan ras kulit hitam. Ia selalu membandingkan kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina dengan politik apartheid yang pernah terjadi di Afrika Selatan. Jeremiah juga pendukung Louis Farrakhan yang menyebut Yudaisme agama selokan dan mengejek orang Yahudi sebagai pengisap darah.

Kini Obama telah berubah menjadi pembela Israel. Tentu saja ini yang harus ia lakukan untuk bersaing meraih tiket ke Gedung Putih. Ia pasti menyadari betapa kuatnya lobi Yahudi dalam politik dalam negeri Amerika, termasuk dalam partainya. Bayangkan saja, komunitas Yahudi di negara adi daya itu menyumbang lebih dari 60 persen dari seluruh dana kampanye Demokrat.

Ia memang tidak bisa menafikan kenyataan bahwa sejak 1920-an, para pemilih Yahudi mencoblos calon presiden dari Demokrat. Hasil penelitian pada pemilu 2004 yang dilakukan terhadap 1.511 pemilih Yahudi menunjukkan 78 persen memilih John Kerry, calon dari Demokrat, dan sisanya mendukung Presiden George Walker Bush.

Senator Ilinois ini juga memahami Yahudi saat ini mendominasi anggota Kongres dari Demokrat hasil pemilu 2006. Dari 43 Yahudi, 40 orang di antaranya berasal dari partainya Obama. Mereka menduduki sejumlah posisi penting, seperti Harry Reid yang menjadi pemimpin mayoritas Senat dan Senator Joseph Biden yang mengetuai Komite Hubungan Luar Negeri. Ada pula Nancy Pelosi yang menjadi Ketua DPR dan Tom Lantos yang memimpin Komite Hubungan Internasional DPR.

Perubahan sikap politik Obama baru berlangsung dua tahun lalu. Semua berawal ketika ia pertama kali mengunjungi Israel pada Januari. Dari atas helikopter tentara Zionis, ia terharu menyaksikan anak-anak yang asyik bermain di Sderot meski kota yang hanya satu kilometer dari perbatasan Jalur Gaza itu menjadi sasaran serangan roket Qassam hampir saban hari. Sejak itu, ia berubah menjadi pecinta Israel.

Pengorbanan prinsip dan ideologi politik pro-Palestina yang ia anut berbuah manis. Pada pekan lalu, ia mengukir sejarah dengan menjadi calon presiden pertama Amerika yang berkulit hitam setelah menyudahi perlawanan Hillary. Bahkan sebagai rasa terima kasih kepada para pemilih Yahudi, ia menyampaikan pidato kemenangan pertamanya itu di depan anggota Komite Urusan Publik Amerika Israel (AIPAC). Di sini, ia kembali menegaskan komitmennya terhadap Israel, termasuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara Zionis itu.

Mungkin banyak orang meragukan komitmen Obama dalam menyokong Israel. Namun yang pasti, lelaki 46 tahun ini telah belajar mencintai Israel. Dalam dua tahun terakhir, ia sudah belajar menutup mata dan telinganya atas penderitaan rakyat Palestina akibat 60 tahun penjajahan Israel.

Sikap politik seperti ini memang sejalan dengan Undang-undang Pengkajian Anti-Semit Global yang ditandatangani Presiden Bush pada Oktober 2004. Beleid ini mewajibkan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice memberikan laporan tahunan soal tindakan anti-Semit di seluruh dunia. Ia juga harus menunjuk seorang utusan khusus yang mengepalai kantor yang mengawasi dan memerangi anti-Semit.

Masyarakat internasional akan kembali menyaksikan persaingan dua pembela Israel pada tahap akhir pemilihan presiden Amerika. Obama bakal menantang John McCain, calon presiden dari Partai Republik yang sangat pro-Zionis. McCain langsung “meminta restu” Perdana Menteri Ehud Olmert dan sejumlah pejabat Israel lainnya setelah resmi menjadi kandidat tunggal.

Jadi siapapun presiden Amerika mendatang, itu tidak akan mengubah nasib bangsa Palestina. Tidak akan ada perdamaian, apalagi negara Palestina merdeka.

Dimuat di Koran Tempo, 12 Juni 2008

5 thoughts on “Sikap Obama terhadap Israel

  1. Siapapun Presiden Amerika yang terpilih, ia harus berpihak kepada kaum Zionis yang sudah nyata-nyata menguasai dunia. Atau, ia tidak akan pernah duduk di kursi presiden sama sekali…..

  2. Bener banget tuh Mbak Dewi. Makanya ketika Obama menang Perdana Menteri Israel Ehud OLmert dan Menteri Luar Negeri Tzipi Livni menegaskan rezim Obama nantinya tidak akan mengubah hubungan khusus Amerika dan Israel.

  3. Seharusnya Obama tidak membela Israel yang begitu kejam terhadap Palestina.Presiden seharusnya TAHU keputusan yang benar.Ayo!Kita selamatkan Palestina dari kekejaman Israel!
    ALLAHU AKBAR!
    ALLAHU AKBAR!
    ALLAHU AKBAR!
    Jangan pernah meyerah Palestina!

  4. Salam Annisa

    Jangan bermimpi Palestina bisa merdeka jika umat Islam sedunia tidak bersatu. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar adada khalkihi wa ridha nafsihi wa zinata arsihi wa midada kalimatihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s