Gaza, Selamat Datang di Kota Antre

Sudah 123 pasien tewas.

Antrean sudah menjadi pemandangan saban hari di Jalur Gaza sejak Israel memblokade wilayah itu, pertengahan Juni tahun lalu. Terutama di depan kantor Badan Pekerja Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNRWA) yang mengurusi pengungsi Palestina.

“Jika tidak ada PBB di sini, saya mungkin sudah menggelandang di jalan,” kata Nasir, 46 tahun, ayah lima anak yang sedang berdiri mengantre sambil memegang sebuah kartu khusus untuk mengambil bantuan makanan. Setelah sejam, gilirannya pun tiba. Ia menyodorkan ‘kartu sakti’ itu ke petugas. Sebagai gantinya ia menerima satu paket bahan makanan, antara lain berisi gula, susu, beras, minyak goreng, dan tepung

“Saya tak punya pekerjaan. Jadi tidak ada pilihan,” ujarnya seraya tersenyum getir. Ketika pulang melewati barisan perempuan, anak-anak, dan orang tua, seorang lelaki memanggil Nasir dan ingin membeli voucher miliknya. Ia sejenak tampak ragu, namun kartu itu pun ia masukkan lagi ke dalam kantong.

Selang beberapa menit, seorang ibu berjilbab dengan menggandeng anaknya baru selesai mengantri. Ia mengaku keadaan sangat memaksa lantaran suaminya sudah diberhentikan dari pekerjaannya di Israel sejak tujuh tahun lalu. Kondisi mereka kian berat karena harus menghidupi sembilan anak mereka, sedangkan harga makin melambung. “Kami punya utang lebih daru US$ 4 ribu. Tak ada harapan,” katanya pasrah.

Antrian juga tampak di pelbagai pom bensin. Seolah tak ada habisnya. Seperti yang dilakukan Ayman Eid, seorang sopir taksi. Ia berdiri di samping Hyundai, oranye-nya. Banyak pula yang mengantri tanpa mobil. Berdiri dengan jeriken di tangan.

Tapi jangan harap bisa memperoleh bensin meski sudah antri seharian. “Sekarang ini, ketika harga tiap barang naik karena blokade Israel, pengurangan pasokan gas kian menyakitkan,” kata Eid.

Menurut Mahmud al-Khozindar, Wakil Presiden Asosiasi Pemilik Pom Bensin di Gaza, kebutuhan bensin per pekan 850 ribu liter, tapi Israel hanya memasok 70 ribu. Negara Zionis itu juga Cuma membolehkan 800 ribu liter gas batu bara masuk ke Gaza dari 2,5 juta liter yang dibutuhkan saban minggu.

Krisis kemanusiaan memang sedang terjadi di Gaza . UNRWA mencatat terdapat 859 ribu dari sekitar 1,5 juta warga Gaza yang menyambung hidup dengan bantuan makanan dari PBB. Komite Rakyat Menentang Pengepungan (PCAS) menyebutkan sedikitnya 123 pasien rumah sakit tewas, 1.562 sekarat, 322 penderita kanker menunggu maut.

Isolasi terhadap Gaza membuat 900 pabrik berhenti beroperasi sehingga lebih dari 160 ribu orang menganggur. Penyanderaan ini juga menyebabkan 3.000 nelayan tidak bisa melaut, proyek US$ 370 macet, dan petani stroberi serta bunga rugi US$ 14 juta.

“Terdapat kehancuran serius pada semua aspek kehidupan di Gaza lantaran isolasi,” kata Adnan Abu Hasna, juru bicara UNRWA.

AFP/Inter Press Service/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s