Tumbal Demokrasi Palestina

Oleh: Faisal Assegaf

Tanggal 25 Januari tentu selalu berkesan bagi Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, dan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush. Boleh jadi, ketiganya diliputi rasa tak percaya bila ingat apa yang terjadi dua tahun lalu. Mereka mungkin pula sangat menyesal karena mengizinkan Hamas ikut dalam pemilihan umum.

Hasil pemilihan parlemen pada 25 Januari 2006 memang mengejutkan banyak pihak. Hamas yang baru berumur 21 tahun menguasai Dewan Legislatif Palestina (PLC). Mereka meraup 74 dari 132 kursi yang ada. Sedangkan Fatah yang telah berkuasa selama empat dekade hanya memperoleh 45 kursi.

Semestinya kemenangan Hamas itu disambut positif lantaran menurut para pemantau internasional, termasuk mantan presiden Amerika Jimmy Carter, proses pencoblosan berlangsung jujur dan adil. Namun Abbas menerima dengan setengah hati. Bush dan Olmert secara tegas menolak dan tidak mau mengakui pemerintahan baru yang dipimpin Hamas.

Bagi mereka, pemerintah Perdana Menteri Ismail Haniyah tidak demokratis karena menolak mengakui negara Israel yang merupakan sekutu abadi Amerika. Berkuasanya Hamas juga dianggap dapat mengganggu proses yang sebenarnya sudah berhenti sejak 2000.

Selanjutnya yang terjadi dapat ditebak. Bush dan Olmert bersama-sama mendukung Abu Mazin – panggilan akrab Abbas – meruntuhkan pemerintahan Hamas. Keduanya mengkampanyekan pemutusan bantuan ekonomi terhadap Palestina yang disokong banyak negara secara terbuka atau malu-malu.

Olmert langsung membekukan hasil pajak US$ 50 juta per bulan yang seharusnya menjadi hak Palestina. Alhasil, dalam dua bulan pertama pemerintahannya, Haniyah sudah tidak mampu menggaji ratusan ribu pegawai negeri dan pasukan keamanan Palestina.

Hanya butuh 1,5 tahun untuk menjungkalkan Hamas dari kekuasaannya. Pada Juni 2007, pemerintahan persatuan nasional yang dibentuk berdasarkan kesepakatan Makkah, Maret sebelumnya, bubar. Hamas dan Fatah pecah kongsi setelah beberapa bulan saling bertempur. Hamas menguasai Jalur Gaza dan Fatah mengontrol Tepi Barat.

Ternyata inilah yang amat ditunggu oleh Israel. Mereka langsung mengisolasi Gaza. Empat pintu perbatasan ditutup, yakni Erez dan Sofia (Gaza-Israel), Rafah (Gaza-Mesir), serta Karen Shalom (Gaza-Mesir, dan Israel). Pos pemeriksaan antara Gaza dan Tepi Barat juga diperketat. Lalu-lintas orang, barang, dan jasa sangat dibatasi.

Akibatnya, pasokan bahan makanan, obat-obatan, listrik, air, BBM, dan bahan material lainnya menipis. Menurut Jamilah Abdullah Syamsi, 38 tahun, bantuan makanan cuma cukup buat tiga hari dan tidak datang tiap pekan. Listrik dan air juga tidak mengalir saban hari. Perempuan yang belum menikah ini tinggal di kamp pengungsi Jabaliyah dan menanggung hidup tujuh keponakannya setelah orang tua mereka tewas akibat serangan Israel tiga tahun lalu.

Musim dingin yang suhunya bisa di bawah nol derajat saat ini kian memperparah penderitaan warga Gaza. Mereka kekurangan makanan karena langkanya stok dan Badan Pekerjaan dan Bantuan PBB (UNRWA) tiap hari hanya bisa memasok maksimal 20 truk bahan pokok. Mereka juga tidak bisa membuat perapian atau menyalakan alat pemanas karena BBM yang langka dan listrik yang jarang menyala.

Krisis kemanusiaan sedang terjadi di Gaza. Tapi Israel sungguh kejam lantaran tidak membolehkan para pasien yang butuh perawatan segera keluar dari sana. Komite Rakyat Menentang Pengepungan (PCAS) mencatat, sudah 68 pasien rumah sakit tewas, 1.884 sekarat, 470 penderita kanker menunggu maut, karena semua rumah sakit di Gaza sudah kekurangan obat dan banyak peralatan medis yang rusak.

Isolasi terhadap Gaza telah membuat sekitar 900 pabrik berhenti beroperasi sehingga lebih dari 160 ribu orang menganggur. Penyanderaan ini juga membuat 3.000 nelayan tidak bisa melaut, proyek US$ 370 juta macet, dan 4.500 petani straoberi serta bunga rugi US$ 14 juta.

Masyarakat internasional seolah menutup mata dan telinga. Mereka lebih terpukau dengan konferensi perdamaian di Annapolis yang digagas Bush, November tahun lalu. Pertemuan itu sangat dipaksakan karena sampai sekarang Abbas dan Olmert belum sepakat soal tiga isu utama: status Yerusalem, perbatasan, dan pengungsi. Mereka juga tidak perduli ketika kedua pemimpin bertikai bertemu, serdadu Israel menyerbu Gaza. Negara Zionis itu merasa berhak setelah Gaza dinyatakan sebagai daerah musuh, sebulan sebelumnya.

Namun yang paling ironis, bukan hanya rakyat Palestina yang menjadi korban. Atas nama demokrasi yang selalu mereka agungkan, Amerika dan negara-negara proWashington telah mengorbankan pemerintahan Hamas yang terpilih secara demokratis.

Dunia menyambut baik tindakan Abbas membubarkan kabinet Haniyah dan mengangkat Menteri Keuangan Salam Fayyad sebagai penggantinya. Padahal berdasarkan amandemen konstitusi 2003, perdana menteri baru harus tetap dari Hamas sebagai jawara pemilu.

Pemerintahan Fayyad seharusnya pula hanya berlaku dua bulan dan mesti mendapat persetujuan parlemen. Tapi Israel sungguh cerdik. Jauh-jauh hari, mereka telah menahan 45 anggota PLC dari Hamas sehingga Fatahlah yang menguasai mayoritas parlemen. Alhasil, Fayyad bisa terus memerintah tanpa perlu pengesahan dewan. Dukungan terus berlanjut setelah Konferensi Annapolis. Para negara donor bahkan berjanji menggelontorkan dana US$ 7,4 miliar, lebih tinggi dari yang diminta Abbas, yakni US$ 5,9 miliar.

Tak berlebihan rasanya menyebut demokrasi yang dianut Amerika dan para sekutunya sebagai demokrasi munafik. Atas nama demokrasi semacam itu, mereka rela menjadikan rakyat Palestina dan demiokrasi sebagai tumbal.

Dimuat di Koran Tempo, 25 Januari 2008

4 thoughts on “Tumbal Demokrasi Palestina

  1. Selamat buat suhu gw satu ini. Dukungan yang cantik namun tetap di wilayah abu-abu (asal jangan liat nama blog-nya). Lebih cantik lagi kalo ada opini dari ‘sahabat2mu’ di Putera Jaya sampai Timor Leste sana. Makin muantappp..! Anyway, congrats and good luck for your blog. Keep on jihad-ing..

  2. hehehe, Amerika bukan negara demokrasi faisal, tapi negara penindas dan penjajah. Herannya, di Indonesia sini, masih banyak orang-orang pinter yang terpukau dengan demokrasi ala Amerika ….

  3. Waaahhh..hebatnya, bravo..bravo…bagus mas..tapi gue nggak berani komentar dah..hehe..buat gue yang penting Palestine cepet merdeka..🙂

    Terusin jihad nya mas..dan do’a nya biar bisa ke Palestina tahun ini yaa..Amin

  4. wuahhhhh…. supermantappp…

    sudah layak jadi pengamat palestina!

    selain, tentu saja, pengamat internasional..

    hehehhehe…

    sukses selalu ya bro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s