Lisensi untuk Membunuh Hamas

Oleh: Faisal Assegaf

Tidak semua berita yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga, seperti itulah kebenarannya. Inilah yang terjadi dalam konferensi perdamaian di Annapolis, Maryland, Amerika Serikat, 27 November lalu.

Memang benar tercipta komitmen bersama antara Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert. Kedua pemimpin yang bertikai itu sepakat memulai kembali perundingan yang mandek sejak tujuh tahun lalu. Bahkan mereka mengharapkan perdamaian bisa terwujud paling lambat akhir tahun depan.

Namun semua itu dipaksakan. Hingga detik-detik terakhir menjelang pertemuan yang dihadiri delegasi dari 52 negara dan sejumlah organisasi internasional itu, Abbas dan Olmert belum menyetujui isu-isu penting yang bakal dibahas nantinya.

Palestina ingin putaran perundingan yang akan mulai bergulir 12 Desember mendatang mengupas masalah status Kota Yerusalem Timur, perbatasan akhir negara Palestina merdeka, dan pemulangan pengungsi Palestina. Sedangkan Israel meminta lebih sedikit agenda.

Olmert sendiri sudah menyatakan keraguannya beberapa jam setelah deklarasi bersama itu diumumkan Presiden Amerika George Walker Bush. Boleh dikatakan mustahil, konflik antara kedua bangsa itu dapat diselesaikan hanya dalam setahun.

Alhasil, komitmen yang dihasilkan bukanlah untuk berdamai. Abbas dan Olmert sama-sama menyadari masalah keamanan menjadi ganjalan utama bagi mereka. Israel tak mungkin mau bertetangga dengan negara baru yang dihuni kelompok-kelompok bersenjata serta sering mengancam wilayah dan rakyat mereka. Karena itulah, negara Zionis itu selalu menjadikan isu ini sebagai alasan tidak melanjutkan perundingan.

Deklarasi yang dibacakan Bush itu tak ubahnya pernyataan perang terhadap Hamas yang telah menguasai sepenuhnya Jalur Gaza sejak pertengahan Juni lalu. Atas nama perdamaian, masyarakat internasional telah menjadikan kelompok yang didirikan Syekh Ahmad Yassin itu sebagai musuh bersama.

Ironisnya, pengumuman perang ini disokong oleh negara-negara Arab dan muslim, termasuk Indonesia. Tak terkecuali Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berprinsip memelihara dan menciptakan perdamaian dunia. Padahal di saat Konferensi Annapolis berlangsung, para serdadu Israel sudah membunuh lima warga Palestina di Gaza dan gencar menyerbu wilayah itu.

Jakarta kembali terpeleset dalam melaksanakan kebijakan luar negerinya dan telah melanggar pembukaan UUD 1945 yang menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Pemerintah seolah lupa Hamas adalah pejuang yang ingin melepaskan rakyat Palestina dari penjajahan Israel. Bukan satu organisasi teroris yang menjadi kampanye global Bush.

Kehadiran Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda telah melukai perasaan Mahmud Zahar, pemimpin Hamas di Gaza. Ia tidak lagi percaya dengan Indonesia yang disebutnya telah mengkhianati perjuangan rakyat Palestina. Partisipasi Indonesia pun percuma lantaran konferensi perdamaian lanjutan bakal digelar di Rusia, Januari 2008. Padahal, pemerintah telah menyampaikan kepada Abbas keinginan menggelar konferensi serupa di Jakarta, juga awal tahun depan.

Sejatinya, status sebagai musuh bersama ini sudah disandang Hamas sejak meruntuhkan dominasi Fatah selama empat dekade dalam pemilu parlemen 25 Januari 2006. Mereka menang mutlak setelah meraup 75 dari 132 kursi Dewan Legislatif Palestina. Sedangkan kelompok yang dibentuk mendiang Yassir Arafat itu hanya mendapatkan 45 kursi.

Sejak itulah, Amerika, Israel, dan negara-negara proWashington membekukan bantuan bagi Palestina. Posisi Hamas kian terjepit setelah Israel menetapkan Gaza sebagai entitas musuh, Oktober lalu. Negara Yahudi ini membatasi pasokan bahan bakar dan listrik ke wilayah yang dihuni sekitar 1,5 juta warga Palestina itu. Israel juga masih menahan sekitar 45 anggota parlemen dari Hamas.

Hasil konferensi Annapolis ini tentu saja sangat menguntungkan kelompok Fatah yang dipimpin Abbas. Abu Mazin, panggilan akrabnya, sudah sangat geram terhadap Hamas yang ia anggap sudah berusaha mengkudeta dirinya sebagai presiden.

Dalam beberapa waktu mendatang, dunia bakal menyaksikan kehancuran Palestina akibat perang saudara. Tampaknya Abbas sudah mempersiapkan kekuatannya. Sejumlah laporan menyebutkan, Fatah sudah membentuk pasukan elit bernama Al Himaya Wal Isnad (pasukan pelindung dan penguat) yang dipimpin Anwar al-Hilu, komandan senior di dinas rahasia Palestina.

Grup pertama beranggotakan 25 personil sudah dikirim berlatih selama sebulan di Rusia, akhir Oktober lalu, setelah menjalani latihan fisik dan pemeriksaan kesehatan di Jericho, Tepi Barat. Mereka berangkat lewat Yordania. Unit anti-teror ini dilatih di pusat pelatihan dekat Bandara Domodedovo, selatan Ibu Kota Moskow. Instruktur mereka dari anggota Komando Alpha, pasukan anti-teroris Rusia, yang ikut memerangi gerilyawan Chechen. Abbas telah berencana mengirim 200 tentaranya tiap bulan untuk berlatih di sana.

Kekuatan Abbas bakal bertambah dalam beberap bulan ke depan setelah Olmert mengizinkan pengiriman kendaraan militer ringan dari Rusia. Ini merupakan hasil kesepakatan dengan Perdana Menteri Ariel Sharon dua tahun lalu. Hanya saja, pelaksanaannya ditunda setelah Hamas memenangkan pemilu.

Kini genderang perang sudah ditabuh. Mengutip salah satu judul film James Bond: Licence to Kill, Abbas telah mendapatkan lampu hijau dari komunitas internasional yang hadir di Annapolis untuk melenyapkan Hamas.

Dimuat di Koran Tempo, 5 Desember 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s