Diplomasi Omong Kosong Abbas

Oleh: Faisal Assegaf

Menghadapi konferensi perdamaian internasional yang bakal digelar di Annapolis, Maryland, Amerika Serikat, November mendatang, Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas melawat ke Asia Tenggara mencari dukungan. Ia mengunjungi Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam yang merupakan negara mayoritas muslim.

Selama tiga hari di Jakarta, 21-23 Oktober, ia bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pimpinan Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, serta para tokoh lainnya. Ini merupakan kunjungan pertamanya ke Indonesia. Yang menarik, dalam jumpa pers setelah bertemu presiden, Abbas menyatakan bahwa konflik Palestina dan Israel bisa diselesaikan akhir 2008.

Ini artinya: akan berdiri sebuah negara Palestina merdeka dan berdaulat yang hidup berdampingan secara aman dan damai dengan Israel. Negara baru ini akan beribu kota di Yerusalem Timur. Palestina akan memiliki semua wilayah seperti sebelum Perang Enam Hari 1967. Jutaan pengungsi Palestina boleh kembali ke tanah airnya.

Apa yang dilontarkan Abbas ini berpatokan pada visi Presiden Amerika George Walker Bush. Berdasarkan peta jalan damai yang diajukan pihak kwartet: Amerika, Rusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Uni Eropa. Sesuai Inisiatif Perdamaian Arab yang dihasilkan dalam KTT Liga Arab di Beirut, Libanon, 2002. Sesuatu yang bukan baru.

Tentu saja ini hanya omong kosong. Boleh jadi pemimpin dari kelompok Fatah ini juga tidak yakin semua itu bisa dicapai. Ia mengaku tidak menawarkan apapun kepada Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sebagai balasan atas konsesi itu. Dan memang tidak ada yang bisa ditawarkan oleh Abbas.

Ia tidak bisa memberikan jaminan keamanan yang sangat dibutuhkan negara Yahudi itu. Hingga kini kelompok-kelompok pejuang Palestina, seperti Hamas dan Jihad Islam, leluasa menembakkan roket dari wilayah Jalur Gaza. Ia sama sekali tak mampu menjinakkan Hamas meski berhasil menjungkalkan mereka dari kekuasaan melalui bantuan Amerika dan Israel. Malah Palestina sekarang terbelah, Fatah menguasai Tepi Barat dan Hamas mengontrol Jalur Gaza.

Bagi warga Yahudi, Yerusalem adalah tanah suci di mana mereka meyakini dulunya di sana berdiri Kuil Sulaiman. Tak ubahnya Makkah dan Madinah bagi umat muslim, mereka bakal ikhlas mengorbankan nyawa untuk mempertahankan tempat bersejarah itu. Hasil jajak pendapat yang dilansir surat kabar Israel Yediot Aharonot beberapa waktu lalu menunjukkan 61 persen warga Israel menentang rencana pembagian Yerusalem.

Israel secara sepihak telah menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota abadi lewat Basic Jerusalem Law yang disahkan Knesset (parlemen Israel) pada 1980. Sejak itu, semua kantor pemerintah pindah dari ibu kota lama, Tel Aviv, ke Yerusalem. Kota ini juga menguntungkan secara ekonomi lantaran selalu dikunjungi peziarah dan wisatwan asing. Padahal menurut Resolusi Majelis Umum PBB nomor 194 pada 11 Desember 1948, status Yerusalem adalah kota internasional.

Boleh dibilang sangat mustahil bagi Israel mundur dari semua wilayah yang mereka kuasai sejak 1967. Artinya Israel harus menyerahkan seluruh wilayah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur kepada Palestina, serta Dataran Tinggi Golan kepada Suriah. Mereka sudah mengembalikan daerah Semenanjung Sinai kepada Mesir setelah menandatangani Perjanjian Camp David 1978. Wilayah yang jauh lebih kecil nantinya akan sangat padat untuk dihuni sekitar 7,18 juta warga Israel.

Kembalinya para pengungsi Palestina diperkirakan bakal mengancam keselamatan warga Israel. Boleh jadi mereka akan balas dendam lantaran diusir dari tanah airnya selama puluhan tahun. Saat ini terdapat sekitar 3,9 juta pengungsi Palestina. Sekitar 1,3 juta orang tinggal di 58 pengungsian di Yordania, Libanon, Suriah, Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

Tentu saja semua konsesi di atas sangat mahal bagi Israel. Kemungkinan besar Olmert tidak akan memenuhi itu lantaran Abbas datang dengan tangan kosong. Alhasil, perundingan di Annapolis boleh dikatakan diplomasi omong kosong. Bagaimana mungkin dua pihak yang bertikai bisa mencapai perjanjian damai jika salah satu pihak tidak bisa menawarkan konsesi yang setara dengan yang diminta.

Sungguh sangat menggelikan, Abbas dengan penuh percaya diri menggandeng Indonesia ikut dalam diplomasi omong kosong itu. Ia juga mengundang Malaysia dan Turki. Alangkah bodohnya bila pemerintah mau menerima undangan menghadiri konferensi di Annapolis. Apalagi hanya menjadi tim peninjau. Itu tidak akan berpengaruh positif terhadap hasil konferensi dan hanya akan menjadi bahan tertawaan Israel.

Padahal sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya bisa memainkan peran sentral sebagai mediator dalam penyelesaian konflik Palestina dan Israel. Tapi pemerintah malah bersikap seperti banci. Mau mendamaikan dua pihak yang bermusuhan tapi hanya bersedia menjalin lobi dengan satu pihak saja.

Israel tidak akan pernah menerima keterlibatan langsung Indonesia jika tidak ada hubungan diplomatik di antara kedua negara. Sebaliknya, pemerintah berkali-kali menegaskan tidak akan menjalin hubungan resmi dengan negara Yahudi itu sampai Palestina merdeka.

Kunjungan Abbas ke Indonesia juga seolah menggambarkan posisi Indonesia yang lebih pro-Fatah ketimbang bersikap netral. Padahal Februari lalu, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyampaikan secara langsung undangan kepada pemimpin Hamas di Suriah, Khalid Mishaal, untuk datang ke Indonesia. Bahkan Jakarta berniat mendamaikan Hamas dan Fatah yang masih bermusuhan. Entah kenapa hingga sekarang niat itu tidak dilaksanakan. Yang jelas pihak Hamas mengaku kecewa karena pembatalan undangan itu.

Kelompok yang didirikan Syaikh Ahmad Yassin ini juga bakal makin terluka bila Indonesia jadi mengirimkan delegasi ke Annapolis. Bagi pemimpin Hamas di Gaza, Mahmud Zahar, langkah itu merupakan penghianatan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Jangan sampai Presiden Yudhoyono pantas dicap sebagai boneka Amerika dan Israel seperti yang Zahar sematkan kepada Abbas.

Dimuat di Koran Tempo, 25 Oktober 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s