Kisah Buronan Israel

Hanya sekali sebulan menemui istri dan ketiga anaknya.

Hidup menjadi buron memang tidak enak. Selalu merasa diikuti dan diawasi sehingga perasaan tidak tenang. Ini pula yang dialami Abu Suhaib, 28 tahun, yang sudah enam tahun diburu tentara Israel.

Lelaki berbadan pendek dan gemuk dengan brewok tebal ini sangat jarang tidur di rumah. Paling banter hanya sekali dalam sebulan ia menemui istri dan tiga anaknya yang masih kecil. Ia selalu mengirim pesan pendek untuk memberi kabar kepada keluarganya. “Jika Anda berbicara lewat telepon, jet-jet tempur Israel bisa menemukan Anda,” kata Abu Suhaib, pemimpin senior Brigade Al-Quds, sayap militer kelompok Jihad Islam.

Saat itu ia sedang asyik mengisap rokok sambil minum gahwah di bagian belakang sebuah restoran kebab di Kota Gaza. Meski begitu, ia selalu waspada. Matanya sering melirik ke arah dua pemuda bertampang sangar yang berjaga di depan pintu. Di seberang jalan, seorang pemuda lainnya duduk merebah di kursi mobil sambil menggunakan handy talkie.

Ia dan para serdadunya selalu menggunakan nama rahasia untuk tempat dan orang. Tempat berkumpul mereka mulai dari Bait Lahiya, di utara Gaza, hingga Rafah, dekat perbatasan Mesir. “Kami berpindah tempat dengan berjalan kaki atau naik taksi,” ujar Abu Suhaib seraya menambahkan sang sopir tak pernah tahu siapa ia sebenarnya. “Jika tahu mereka tidak akan mengangkut kami.”

Sebagai buruan, ia siap menghadapi segala resiko. “Saya tahu, saya bisa mati kapan saja dan di mana pun,” kata Abu Suhaib. Apalagi saat ini, pasukan Israel giat memburu para pejuang Palestina di Jalur Gaza.Sejak konferensi perdamaian di Annapolis, Maryland, Amerika Serikat, 27 November lalu, sudah lebih dari 30 orang yang tewas akibat serbuan Israel. Termasuk Majid al-Harazin, 38 tahun, pemimpin Brigade Al-Quds.

Aksi ini sebagai balasan atas serangan roket dan mortir yang ditembakkan kelompok Brigade Izzudin al-Qassam, sayap militer Hamas, dan Briugade Al-Quds dari wilayah yang dikuasai Hamas sejak pertengahan Juni lalu. Militer Israel mencatat, lebih dari seribu roket mendarat di wilayah selatan negeri itu, khususnya di Kota Sderot.

Abu Suhaib pernah hampir terbunuh dalam sebuah serangan udara Israel dua tahun lalu. Ketika itu, ia dan beberapa pemimpin Jihad Islam baru sekitar 150 meter meninggalkan rumah yang dijadikan lokasi rapat. Sebuah rudal menghantam mobil yang ia tumpangi dan menewaskan tiga penumpangnya. “Saya terlempar sekitar enam meter dari mobil,” katanya.

Akibat ledakan itu, ia kehilangan hampir seluruh kaki kanannya. Ia kini berjalan dengan menggunakan sebuah tongkat. Wajah dan badannya dipenuhi kerutan bekas luka. Meski begitu, ia bertekad bertempur sampai akhir hayat.

AFP/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s