Demi Sebuah Otoritas Semu

Oleh: Faisal Assegaf

Sikap arogan sering membuat orang lupa akan tujuan sejatinya. Ini pula yang terjadi di Palestina. Perseteruan antara Hamas-Fatah telah melahirkan perpecahan di antara bangsa Palestina. Sesuatu yang seharusnya dihindari oleh sebuah bangsa yang sedang dijajah. Konflik bersenjata yang meletus sejak Mei lalu itu dipicu perebutan wewenang soal kontrol keamanan di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Fatah yang selama ini faksi paling berkuasa tidak rela menyerahkan kewenangan itu kepada Hamas yang memenangkan pemilihan umum parlemen tahun lalu. Tentu saja sikap ngotot Fatah ini mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Israel. Bila kontrol itu sampai jatuh ke tangan kelompok yang dibentuk Syaikh Ahmad Yassin pada 1987 itu, sangat mungkin serangan roket ke wilayah Israel akan makin gencar. Ini juga bakal menghambat proses perdamaian Israel dan Palestina.

Ketakutan faksi yang dipimpin Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas ini sangat wajar. Tapi ingat, Hamas adalah pemenang pemilihan umum parlemen tahun lalu. Karena itu, mereka berhak menunjuk Menteri Keamanan Dalam Negeri yang bertanggung jawab atas keamanan di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Boleh jadi Abbas berniat berunding untuk mencapai kesepakatan dengan Perdana Menteri Ismail Haniyah, seperti dikatakan Mahmud Barghuti, juru damai yang juga mantan Menteri Informasi. Namun situasi lapangan yang tak terkendali membuat kedua pemimpin berkukuh atas sikapnya masing-masing.

Karena tak ada jalan keluar, pada 17 Juni lalu, Abbas melantik kabinet darurat beranggotakan 12 menteri tanpa Hamas setelah mengumumkan keadaan darurat sekaligus membubarkan pemerintah persatuan. Ia menunjuk Salam Fayyad, doktor ekonomi lulusan Texas University, sebagai perdana menteri sekaligus menteri luar negeri dan menteri keuangan.

Padahal, berdasarkan konstitusi hasil amandemen 2003, Abbas seharusnya tetap menunjuk perdana menteri dari Hamas sebagai penguasa di parlemen. Boleh jadi Abbas telah merasa di atas angina karena Komite Eksekutif Organbisasi Pembebasan Palestina (PLO) telah mengeluarkan fatwa bahwa pemerintahan darurat itu tidak membutuhkan persetujuan parlemen. Sedangkan menurut konstitusi, pemerintahan Fayyad hanya sampai 30 hari. Lewat dari masa itu tidak sah jika tidak memperoleh dukungan parlemen.

Keputusan ini disambut gembira oleh Amerika Serikat dan Israel. Kedua negara itu bersuka-cita atas keberhasilan Abbas menyingkirkan Hamas dari puncak kekuasaan. Ini dibuktikan dengan pencabutan embargo ekonomi terhadap Palestina.

Bahkan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menyatakan akan segera mencairkan pendapatan pajak US$ 800 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun yang menjadi hak Palestina. Pendapatan yang per bulannya US$ 50 juta itu dibekukan sejak Hamas berkuasa, Januari 2006. Olmert juga bertemu dengan Abbas dalam perundingan yang diprakarsai Presiden Husni Mubarak di kawasan wisata Sharm al-Sheikh, Mesir.

Semuanya sungguh ironis. Masyarakat internasional hanya diam menyaksikan “kejatuhan” Hamas. Mereka juga cuma diam ketika Hamas naik ke pucuk pemerintahan lantaran takut dimusuhi Amerika. Mereka tetap membisu ketika Amerika dan Israel secara sepihak menerapkan embargo bagi Palestina. Bahkan banyak negara yang mendukung meski tidak secara terbuka.

Dunia harus bertanggung jawab karena telah membiarkan demokrasi di Palestina hancur. Hamas sekali lagi menjadi bukti kemunafikan Washington yang mengagungkan demokrasi. Bagi Presiden George Walker Bush, sebuah pemerintahan baru bisa dikatakan sah dan terpilih secara demokratis bila mau bekerja sama dengan mereka.

Karena itu, sejak Hamas memenangkan pemilu dengan meraih 75 dari 132 kursi di Dewan Legislatif Palestina, Sedangkan Fatah hanya memperoleh 45. Amerika dan Israel secara terbuka menyatakan menolak pemerintahan baru itu. Di mata mereka, Hamas adalah organisasi teroris dan tidak pantas berkuasa.

Kedua negara ini berhasil menggalang dukungan negara-negara lain untuk memutuskan bantuan ekonomi bagi Palestina. Mereka yakin usaha ini bisa melumpuhkan Hamas. Kenyataannya memang demikian. Hanya dalam waktu dua bulan, pemerintah Haniyah tidak mampu membayar gaji bulanan ratusan ribu pegawai negeri dan tentara pemerintah.

Dunia internasional rupanya menutup mata terhadap kenyataan lain. Embargo itu juga merugikan rakyat Palestina lantaran Israel tidak memberi ijin masuk bagi kendaraan yang mengangkut bahan makanan dan bahan bakar. Alhasil, terjadi krisis kemanusiaan. Banyak warga Palestina kelaparan.

Seperti pengemis, Haniyah berkeliling dari satu negara ke negara Arab lainnya. Ia mencari pinjaman dari tetangga dekat mereka. Namun seperti yang diduga, negara-negara Arab itu tidak mau memberi bantuan karena takut dimusuhi Amerika. Pernah ada laporan yang menyebutkan bahwa Haniyah berhasil mendapat uang tunai jutaan dolar. Tapi uang itu tidak bisa masuk karena ditahan pemerintah zionis Israel.

Karena tekanan embargo, Hamas mengalah dan berbagi kekuasaan. Pada Maret lalu, dibentuk pemerintahan persatuan sebagai hasil perundingan Abbas dan Haniyah di Makkah, Arab Saudi. Tapi embargo tetap berlanjut hingga pecah bentrokan bersenjata di antara kedua faksi.

Kini demokrasi sudah mati di Palestina. Abbas seolah menjadi penguasa mutlak. Ia sekarang bisa leluasa mengontrol pemerintahan yang dijalankan Fayyad. Sebaliknya, kondisi Hamas kian terjepit. Kondisi ini makin diperparah dengan kebijakan Israel yang memisahkan Tepi Barat dari Jalur Gaza.

Tapi Abbas lupa, kekuasaan yang ia nikmati saat ini bersifat semu. Ia hanya menjadi pemimpin boneka Amerika dan Israel. Ia alpa bahwa Israel masih menjajah Palestina. Demi kepentingan kedua negara itu, ia rela bertempur dengan saudara sebangsa. Ia juga tak perduli denhgan penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Demi sebuah otoritas semu, Palestina kini terbelah: Tepi Barat dan Jalur Gaza. Hamas dan Fatah. Ini suatu kebodohan dari bangsa Palestina dan negara-negara Arab yang tak mau bersatu. Kebodohan dari dunia internasional yang membiarkan Palestina terus dijajah dan menderita.

Dimuat di Koran Tempo, 29 Juni 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s