Cinta Terlarang Jasmin dan Usamah

Pemuda muslim Palestina menikahi gadis Yahudi-Israel. Tak diterima kedua keluarga, kini mereka tinggal di Berlin.

Sore itu, 18 April 2004, adalah saat yang paling ditunggu bagi pasangan Usamah Zaatar dan Jasmin Avissar. Mereka berencana mengikat janji sehidup semati di Kota Yerusalem. Kedua pasangan yang sama-sama berusia 24 tahun itu sepakat bertemu di tempat penitipan hewan tempat mereka bekerja.

Saat itu, langit di atas Yerusalem cerah. Jasmin tiba lebih dulu. Tidak seperti calon pengantin pada umumnya, ia tidak mengenakan gaun pengantin. Ia cuma berkemeja lengan panjang warna putih dan celana jins biru. Usamah yang muncul sepuluh menit berselang, juga berdandan serupa.

“Kami sangat gembira sekaligus bingung dan takut,” kata Jasmin saat dihubungi Tempo melalui telepon selulernya, April 2007. Keduanya berpikir keras soal di mana mereka akan menikah. Maklum, mereka berasal dari dua negara yang sedang berkonflik.

Jasmin adalah perempuan Yahudi Israel. Ia dilahirkan dan besar di Yerusalem. Anak bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarganya ini lulusan dari Jerusalem Academy for Music and Dance pada 2003. Calon suaminya, Usamah, merupakan lelaki Muslim Palestina. Ia asli dari Ramallah, Tepi Barat. Anak keempat dari lima bersaudara ini hanya bersekolah sampai kelas dua SMA.

Keduanya bekerja di sebuah tempat penitipan hewan piaraan di Yerusalem. Di sana terdapat sekitar 600 ekor anjing dan 200 kucing. Usamah bertugas merawat anjing, sedangkan Jasmin mengurusi kucing. “Awalnya, kami bersahabat dan secara perlahan jatuh cinta lalu memutuskan untuk hidup bersama,” kata Jasmin.

Setelah jadian pada 2003, mereka berpacaran selama setahun. Karena ini “cinta terlarang”, baik Usamah maupun Jasmin tidak pernah menemui calon mertua masing-masing. Usamah tak pernah mengapeli Jasmin di rumahnya. Keduanya memadu kasih di tempat penitipan hewan.

Keputusan untuk menikah diambil dua hari sebelumnya ketika mereka sedang berduaan menyaksikan pembangunan tembok pemisah di Yerusalem. Keduanya khawatir tembok itu juga akan memisahkan mereka “Lalu kami memutuskan sekaranglah saatnya untuk menikah atau tidak akan pernah bisa,” kata Jasmin.

Ketakutan Jasmin dan Usamah sangat beralasan. Tembok itu memisahkan wilayah Tepi Barat dengan Yerusalem. Artinya, Usamah yang tinggal di Ramallah, Tepi Barat, akan sulit ke Yerusalem untuk bertemu Jasmin.

Proyek jahanam itu dimulai pada 16 Juni 2002. Panjang tembok seluruhnya mencapai 750 kilometer dengan tinggi delapan meter. Tembok itu dilengkapi dengan parit perlindungan, kawat berduri, kawat beraliran listrik, menara pengawas, sensor elektronik, kamera video, pesawat pengintai tanpa awak, menara penembak jitu, dan jalanan untuk patroli kendaraan.

Tembok itu dibangun secara zigzag melalui sepuluh dari sebelas distrik di Tepi Barat. Pembangunan tahap pertama mulai dari sebelah barat Tepi Barat hingga utara Yerusalem sepanjang 145 kilometer sudah selesai pada Juli 2003. Tahap kedua sedang berlangsung, mulai dari timur Tepi Barat hingga selatan Yerusalem.

Pernikahan Jsamin dan Usamah tentu saja akan ditentang baik oleh warga Palestina maupun Israel. Kedua negara itu telah bersitegang selama lebih dari setengah abad. Aturan di Israel melarang warganya menikah dengan pasangan berbeda agama, apalagi dengan orang Palestina.

Karena itu keduanya tidak membawa orang tua masing-masing untuk menjadi wali nikah. Namun karena kebingungan, mereka terpaksa menelepon ke rumah masing-masing. Tapi tak ada yang menjawab. Kira-kira satu jam, kemudian datang seorang sopir taksi, warga Israel, yang bermaksud menanyakan kondisi anjingnya kepada Usamah.

Setelah urusan itu selesai, gantian Usamah meminta bantuan kepada sopir taksi itu agar bisa melaksanakan ijab-kabul di rumahnya. Ia mengiyakan. Jasmin dan Usamah akhirnya menikah siri secara Islam di rumah sopir taksi itu. Mereka dinikahkan oleh seorang penghulu Palestina.

Jasmin pun berpindah agama menjadi muslim, tapi ia tidak mengubah namanya. Hanya sepuluh orang yang hadir dalam pernikahan itu dan semua dari keluarga sopir taksi. “Allah telah mengirim sopir taksi sebagai penolong kami,” ujar Jasmin.

Selepas acara itu, Jasmin dan Usamah segera menelepon orang tua masing-masing. “Kami sangat beruntung. Kedua keluarga kami menerima dan mendukung kami,” kata Jasmin.

Jasmin enggan menceritakan di mana mereka tinggal setelah menikah karena alasan keamanan. “Kalau kami berterus terang, orang tua kami bisa ditahan Israel,” ujarnya mewanti-wanti agar soal itu tidak ditulis. Pastinya, kata dia, mereka hidup normal sebagai suami-istri meski harus bersembunyi dari pantauan aparat keamanan Israel.

Berbeda dengan Usamah, pihak Israel tidak mengakui status perkawinan Jasmin. Dalam paspor Israelnya, tertulis status menikahnya masih dalam penyelidikan. Ia terus berusaha mendapat pengakuan. Dengan bantuan uang dari keluarga, keduanya menikah kembali lewat catatan sipil di Siprus setahun kemudian. Tapi Israel tetap menolak perkawinan itu meski buku nikah mereka ditandatangani Kantor Urusan Agama Israel.

Karena tidak bisa hidup bebas sebagai suami istri, keduanya memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Pilihan dijatuhkan pada Jerman. Selain karena ibu Jasmin keturunan Yahudi Jerman, “Lebih mudah bagi orang Israel mendapatkan visa dari Jerman karena alasan Perang Dunia Kedua,” kata Jasmin.

Mereka pun berpisah pada Februari lalu. Jasmin memperoleh visa untuk belajar selama setahun. Ia tinggal di Kota Berlin dan mengambil sekolah bahasa. Untuk kehidupan sehari-hari, ia juga menjadi guru balet.

Perpisahan itu sungguh menyakitkan bagi mereka. “kami saling merindukan. Rasanya, sebagian nyawa kami hilang,” ujar Jasmin. Untuk mengobati rasa kangen, keduanya selalu berkomunikasi lewat telepon atau mengobrol di Internet tiap hari.

Untunglah hubungan jarak jauh itu cuma berjalan sebulan. Selasa dua pekan lalu, keduanya kembali hidup bersama. Usamah memperoleh visa belajar yang harus diperbarui tiap tiga bulan. Ia berencana mengambil sekolah seni untuk meningkatkan keahliannya sebagai pemahat. “Saya senang bisa berkumpul lagi dengan istri saya. Kami ingin memulai hidup baru di sini,” kata Usamah.

Mereka hidup prihatin. Tinggal di sebuah apartemen di Berlin yang dibagi dua dengan teman mereka. Tapi Jasmin menolak menggambarkan kondisi kamar mereka. “Tidak mahal dan cukup nyaman bagi kami berdua,” kata Jasmin singkat.

Keduanya belum memutuskan apakah akan menetap selamanya di Jerman. “Kami tak peduli di negara manapun kami tinggal, yang pentingkami selalu bersama,” tegas Jasmin. Mereka pun tak berkeberatan tinggal di Indonesia. “Kami dengar Indonesia negara yang indah dan pernah kena tsunami.”

Semua hambatan dalam kisah cinta mereka tidak membuat Jasmin dan Usamah menyesal. Cinta kami sangat berharga. Semua persoalan kami bersifat sementara, sedangkan cinta kami abadi,” kata Jasmin.Ia juga tak membenci Israel, negara yang telah menolak perkawinannya dengan orang Palestina.

Jasmin berencana membawa anak-anaknya menemui kedua kake-nenek mereka di Israel dan Palestina. Sejauh ini, Jasmin belum punya anak dan ia tak merencanakan untuk punya berapa anak. “Kami mulai dari satu,” katanya tertawa. Ia ingin anak-anaknya nanti menghargai orang lain tanpa membedakan ras, agama, warna kulit, dan latar belakang lainnya.

Kebencian tak pernah bisa menghilangkan rasa cinta. Ada beberapa pasangan mirip Jasmin dan Usamah. Mereka berjuang tiap hari untuk bisa hidup bersama dan menentang sistem yang berlaku.

Faisal Assegaf

12 thoughts on “Cinta Terlarang Jasmin dan Usamah

  1. Buat Veronica,

    Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Menurut saya, perasaan cinta bisa mengalahkan semuanya. Yang penting, apa yang kita cintai itu bisa membuat kita bahagia menjalani hidup. Saya sangat yakin cinta akan bisa mengubah kebencian menjadi kasih sayang. Inilah yang mau ditunjukkan oleh pasangan Jasmin dan Usamah. Bahwa konflik Palestina-Israel bukanlah sesuatu yang abadi.

    Sampai sekarang saya masih berhubungan dengan pasangan itu. Jasmin bekerja sebagai pengajar tari dan Usamah menjadi pemahat. Kabar terakhir mereka akan pulang ke Palestina dan Israel musim panas ini.

  2. Why don’t u have it in english, who is your audiance, what is the purpose of the wesite? calling the web hamas lovers to us is like natzi lovers, both have one think in mind, without browsing your web, my question is what kind of assistance did the palestinians extend to the people of Indonesia in the last 10 years, and where was the arab world in the aftermath of the tsunami? so calling your website by a name of a terror group makes me sick.

  3. Dear Mr. Stein,

    Thank u for visiting my blog. This web is not like you think. I name it with hamaslovers only for attracting people. This blog contain of my views on the conflict of Israeli-Palestine. There are four categories: news, features, opinions, interviews. I just would like to promote peace and encourage people to supprot the establishment of a Palestinian independent state. Even I still believe it is impossible because that is everlasting conflict.

    So my blog is not to spread hateness and provoke the muslim people to against Jewish people. I hope this blog can be part of global concerning about that conflict.

  4. mungkin ceritanya akan lain, jika Zionis Israel tidak menerapkan kebijakan jahanam terhadap bangsa Palestina dan memperlakukan bangsa Palestina sebagai bangsa yang juga harus dihormati hak-haknya.

    mungkin ceritanya akan lain, jika Zionis Israel mengembalikan tanah-tanah bangsa Palestina yang dirampasnya dan memberikan kemerdekaan pada bangsa Palestina, memberikan kedaulatan penuh pada bangsa Palestina dan bukan malah memperlakukan bangsa Palestina sebagai bangsa yang sedang dijajah sehingga bisa diperlakukan seenaknya oleh rejim Zionis.

  5. that’s sweet love story…hehe, tulisan anda keren bgt…
    smw ditulis penuh damai dan kadang, lucu…
    bisa bertukar e-mail atau fb?? share banyak hal, saya rasa akan berguna
    Trims🙂

  6. tulisan yang keren…hehe, tulisan anda keren bgt…
    smw ditulis penuh damai dan kadang, lucu…
    bisa bertukar e-mail atau fb?? share banyak hal, saya rasa akan berguna
    Trims🙂

  7. bener2 suka hamas?? Klo saya gk tau suka apa, yg penting menyerukan perdamaian dan kasih sayang…hehe, oh ya…saya amini doa mereka…anaknya nanti menghargai orang lain tanpa membedakan ras, agama, warna kulit, dan latar belakang lainnya…🙂
    Btw thx for everythings🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s