Marwan Barghuti: “Israel Tidak Serius Berunding”

Marwan Barghuti

Menjelang konferensi perdamaian di Annapolis, Maryland, Amerika Serikat, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert berjanji bakal melepaskan sekitar 450 tahanan Palestina. Padahal, terdapat 11 ribu yang mendekam di penjara-penjara negara Yahudi itu.

Jumlah yang dibebaskan ini tidak termasuk anggota Hamas atau Marwan Barghuti yang dianggapnya mendalangi serangan mematikan terhadap Israel. Lelaki 48 tahun ini adalah mantan pemimpin intifadhah pada 1985 dan 2000. Ia kini menghuni sel nomor 28 seksi 3 di Penjara Hadarim, Nataniyah, sekitar enam kilometer dari Tel Aviv.

Kepada Faisal Assegaf dari Tempo, ayah empat anak ini bercerita soal konflik Hamas-Fatah, harapannya terhadap Annapolis, peluang kebebasannya, dan kondisinya di penjara. Berikut penuturannya dalam jawaban tertulis yang disampaikan lewat pengacaranya, Elias Sabbagh, 18 November 2007:

Siapa yang mesti disalahkan atas pemisahan Tepi Barat dan Jalur Gaza?
Hamas bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian di Gaza karena mengakhiri pemerintahan persatuan nasional yang dipimpinnya. Mereka memutuskan menguasai Gaza dengan cara kekerasan dan membubarkan pemerintahan legal disana.

Anda masih yakin Hamas dan Fatah bisa didamaikan?
Fatah tak mungkin mengabaikan eksistensi dan pengaruh Hamas seperti halnya Hamas tidak mungkin melecehkan Fatah. Sangat disayangkan Hamas merusak persatuan nasional. Seandainya Hamas mau melepas penguasaannya dan mengembalikan pemerintahan sah di Gaza dibawah kepemimpinan Presiden Mahmud Abbas, itu akan membuka dialog serius dan strategis demi kepentingan nasional.

Menurut Anda, Hamas juga berniat menguasai Tepi Barat?
Saya yakin Fatah masih kuat di Tepi Barat dan pemerintahan nasional tidak akan mentolerir berulangnya kasus Gaza. Semestinya Hamas memfokuskan usahanya menghentikan pendudukan israel atas Tepi Barat, bukan menguasainya dan mengakhiri pemerintahan nasional dan Fatah.

Sejak Hamas menang pemilu 2006, masyarakat internasional memutuskan bantuan bagi Palestina. Menurut Anda Hamas menjadi korban standar ganda demokrasi Amerika?
Blokade yang dipaksakan terhadap bangsa Palestina menyusul kemenangan Hamas adalah suatu kezaliman dan tak dapat diterima. Ini kebijakan standar ganda. Bangsa Palestina bersatu menentang blokade ini. Pemerintahan persatuan nasional yang terbentuk atas dasar kesepakatan kompromi nasional dan Kesepakatan Makkah sesungguhnya telah mengawali berakhirnya blokade. Namun ini berhenti sejak Hamas melakukan kudeta di Gaza. Akibatnya, bangsa Palestina yang harus membayar harga blokade itu, bukan kelompok ini atau pihak lain.

Apa rencana Anda untuk mendamaikan kedua pihak?

Kami tidak akan pernah berhenti berusaha mencapai pesatuan bangsa Palestina, persatuan di Gaza dan di Tepi Barat serta kembalinya kehidupan demokrasi. Tentu saja berakhirnya dominasi Hamas di Gaza dan kembali ke meja perundingan nasional hendaknya diarahkan kepada penentuan waktu pemilu legislatif dan pemilu presiden baru. Saat ini ada upaya-upaya dari berbagai pihak guna meyakinkan Hamas mengenai hal ini.

Apa harapan Anda terhadap Konferensi Annapolis?
Kami berharap digelar suatu muktamar yang akan mengakhiri pendudukan Israel yang sudah berlangsung selama 40 tahun. Menghentikan agresi, kepungan, kesewenangan, kelaparan, penghinaan, pembunuhan, penghancuran, penyitaan tanah, hingga penangkapan tiap hari. Kita mengharapkan terbukanya pintu perdamaian yang nyata antara kedua bangsa dan munculnya peluang berdirinya negara independen Palestina yang hidup berdampingan secara damai dengan tetangganya. Sampai sekarang, tampaknya belum ada isyarat yang menjanjikan. Israel belum mengambil langkah nyata, baik dengan mengakhiri blokade, pos pemeriksaan, atau menghentikan serangkaian penangkapan, pembunuhan, dan melepaskan tahanan yang jumlahnya sudah 11 ribu orang. Bahkan ada yang telah mendekap di penjara Israel lebih dari 30 tahun. Kenyataan ini mengindikasikan Israel tidak serius berunding dan tidak berani mengambil keputusan yang bisa menjadi kenyataan.

Anda takut Abu Mazin akan konsesi dalam perundingan itu?
Abu Mazen mempunyai mandat sesuai kesepakatan nasional ditandatangani oleh Hamas dan Fatah bersama 11 faksi Palestina lainnya untuk melakukan perundingan dan komitmen terhadap cita-cita nasional. Dan melimpahkan setiap kesepakatan kepada referendum nasional atau voting di Majelis Nasional Palestina. Dalam hal ini Abu Mazen berjanji untuk tetap komitmen pada prinsip-prinsip dasar Palestina.

Anda lelah berkonflik dengan Israel?
Bangsa Palestina tentu saja mengalami penderitaan berat diluar kemampuan manusia biasa. Penderitaan tidak terkita di berbagai bidang. Ekonomi terpuruk, tingkat pengangguran lebih dari 50%, persentase kemiskinan melampaui 70%, dan puluhan ribu syuhada, luka-luka dan yang masih di tahanan. Blokade dan tersebarnya 600 pos pemeriksaan militer di dalam wilayah yang tak lebih dari 5 ribu km persegi. Meski demikian, tak ada bangsa di bumi ini yang bisa melepaskan mimpi dan haknya mengenyam kebebasan, kedaulatan, kemerdekaan, dan hidup mulia. Bisa saja suatu partai, organisasi, atau pemimpin akan letih atau menyerah, tetapi suatu bangsa tak mungkin melakukan hal itu. Bangsa Palestina adalah bangsa legendaris yang berjuang lebih dari seratus tahun menghadapi satu musuh kuat dan bengis tetapi tetap tegar dan bersikeras mencapai kebebasan, menentukan nasib sendiri, bersikeras mendirikan negara independen Palestina dengan ibukotanya Al-Quds (Yerusalem).

Anda yakin bakal dibebaskan?
Saya yakin akan bebas dari penjara, cepat atau lambat. Tapi yang lebih penting adalah bebasnya rakyat Palestina dan derita akibat pendudukan Israel. Kebebasanku yang raib adalah kebebasan bangsaku, Saya yakin impian ini tak jauh. Saya akan keluar dari penjara lambat atau cepat.

Menurut Anda, Abbas telah melakukan yang terbaik untuk membebaskan Anda?
Saya yakin Presiden telah mengupayakan pembebasanku dan pembebasan semua tahanan Palestina.

Seberapa besar Anda merindukan keluarga?
Penjara Israel, amat menyakitkan sepanjang masa. Kondisi penjara sangat mengenaskan. Aku sangat menderita dalam penjara yang terisolir sendirian selama beberapa tahun, interogasi yang menyakitkan selama beberapa bulan. Kini aku hidup dalam sel seluas 2,5×2,5 m bersama dua orang tahanan lainnya. Penderitaan yang lebih berat adalah memisahkan seseorang dengan keluarganya. Berpisah dengan keluarga sudah sering kualami, namun kali ini adalah yang tersulit bagiku. Kerinduan kepada keluarga tak dapat dibayangkan. Meski demikian, aku tahu bahwa keluargaku dan keluarga para tahanan lainnya tetap tegar dan solider dengan kami. Sulit menemukan keluarga seperti ini. Secara umum, para tahanan hidup tanpa pelayanan kesehatan dan diisolir sendirian, Juga tidak diperkenan menerima kunjungan keluarga dan diinterogasi dalam keadaan telanjang.

Anda menyesal menjadi pejuang Palestina sehingga jauh dari keluarga? Anda berharap anak-anak Anda mengikuti jejak Anda?

Kita semua adalah korban pendudukan Israel yang zalim. Apa yang kita lakukan sekarang adalah kewajiban terminim yang dapat dilakukan oleh seorang warga yang baik. Sudah menjadi alami melihat bangsaku menentang pendudukan Israel. Kita telah belajar dari kehidupan dan telah membayar mahal umur ini demi kemerdekaan bangsa dan negeri. Dan ini adalah kebanggaan tersendiri. Kami berharap anak-anak kita tidak mengalami penderitaan dan dapat menikmati kemerdekaan dan hak-hak sepenuhnya. Kita berharap mereka hidup dalam suatu negara independen dengan kedaulatan penuh menikmati kebebasan, kedamaian, keamanan, seperti halnya bangsa-bangsa lain. Aku merasa sedih bahwa seorang kader “Al Qassam” telah ditahan selama 4 tahun dan menjadi teman satu sel selama dua bulan. Dan yang lebih penting adalah melakukan kewajiban terhadap tanah air dan bangsa.

Apa saja kegiatan Anda sehari-hari di penjara?
Aku melewati waktu panjang dengan membaca dan mengkaji. Sejumlah buku berbahasa Arab, Inggris, dan Hebrew sudah kulahap. Banyak sekali membaca novel Arab dan internasional. Setiap hari membaca 3 koran berbahasa Hebrew yang tersedia. Belakangan juga disediakan koran Palestina “el Quds”. Setiap hari di halaman penjara aku berolah raga selama 2 jam. Selain kegiatan diatas, juga tak lupa mengajar berbagai bahasa asing, sejarah dan politik serta menggelar diskusi dengan kawan-kawan tahanan. Dalam penjara ini terdapat sejumlah tokoh dari berbagai faksi Palestina. Hubungan diantara mereka sangat akrab dan saling menghormati.

Apa peran yang bisa dimainkan Indonesia dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel?
Sesungguhnya, pemerintah Indonesia dapat memainkan peran besar dalam mendukung dan membela bangsa Palestina memperjuangkan kemerdekaan dan mendirikan negaranya. Adalah kewajiban bangsa Indonesia mendukung bangsa Palestina, terlebih lagi karena Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia dan mempunyai sarana dan kemampuan serta posisi penting di dunia Islam dan internasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s